Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Jangan Tinggalkan Daddy



"Bukan yang itu. Yang sebelahnya." Kata Alesya mendongak menatap kakaknya yang sedang berada di tangga memetik mangga untuknya. "Yang ini?" Tanya Alvin dan langsung di iyakan. Pemuda itu menuruni tangga dengan hati hati sambil menenteng mangga yang berhasil di petiknya. Tidak banyak. Hanya tiga biji tapi ukurannya besar besar. "Makasih kak." Alesya berbinar menatap mangga itu. "Masa terimakasih aja. Cium dong." Katanya langsung mendekatkan wajah pada Al. Gadis itu menghela napas karena Alvin sangat perhitungan. Setiap kali minta sesuatu pasti dia akan minta cium. "Ayo masuk Sayang. Bunda sudah menunggu." Katanya langsung menggandeng tangan Al dengan senyum yang mengembang.


"Daddy." Al langsung memeluk Alex ketika melihat pria itu sedang mengobrol dengan Papinya. "Sayang. Daddy kangen." Acap Alex sembari membalas pelukan Al dengan hangat. "Om sudah daritadi?" Tanya Alvin sembari membawa sesuatu. "Baru saja. Itu rujak untuk siapa?" Tanyanya. "Untuk adik." Alvin ikut duduk bersama Bundanya yang sudah duduk lebih dulu. "Vin. Al tidak boleh makan rujak. Dia ada asam lambung." Tuturnya dan Alvin mengangguk. Bunda dan Ayah menatap Al dengan sendu. Bahkan mereka saja tidak tau hal sepele semacam ini. "Mau dibawa kemana kak?" Al berusaha melepaskan diri dari pelukan Alex. "Sayang. Kamu tidak boleh makan itu. Perut kamu nanti sakit. Tidak ingat semalaman merengek tidak tidur karena sakit perut?" Alex mengingatkan. "Tapi..." Keluhnya tak rela. Padahal Ia sangat ingin makan makanan itu. "No Sayang. Menurutlah." Ucapnya dengan lembut sembari mengecup kening Al. Perhatian dan kasih sayang Alex tak luput dari semua orang. Mereka sadar jika pria itu begitu mencintai dan menyayangi Alesya.


Alvin selalu mengunjungi Al selama gadis itu menginap di rumah orang tuanya. Namun kali ini kedatangannya berbeda. Tidak hanya sekedar berkunjung, Alvin akan menjemput Al. Setelah lima hari menginap di rumah keluarga Ellison Al akan menginap di rumah Daddynya. Sesuai kesepakatan yang ada. Meskipun berat mereka mencoba untuk merelakan berpisah sementara dengan sang putri. Bagaimanapun juga jasa Alex sangat besar dalam menjaga dan merawat Alesya. Kebaikan pria itu tidak mampu di tebus oleh apapun.


Mami, Papi dan Alvin memeluk Al bergantian. Mereka mengantarkannya sampai ke depan. "Kami akan merindukanmu sayang." Tuturnya penuh keseriusan. Alesya tidak sedih, gadis itu malah terkekeh. Bukannya mereka sudah terbiasa hidup terpisah? kenapa di situasi yang tidak berat ini malah berkata seperti itu? lagipula mereka masih bisa bertemu. "Al berangkat dulu." Pamitnya di angguki oleh semua orang. Mereka masih belum beranjak untuk menatap mobil yang melaju meninggalkan halaman sampai tak terlihat.


Sampai di rumah Alesya langsung bergegas menuju kamar untuk mandi sembari menunggu pizza pesanannya datang. "Jangan lari sayang. Nanti kamu jatuh." Alex mengomeli gadis itu namun tidak dihiraukan. Ia menghela napas kemudian duduk di sofa. Hidup terpisah dengan Al beberapa hari belakangan ini sangat membuatnya tersiksa. Tidak ada kehangatan dan teman di rumah ini. Begitu terasa sepi seperti dulu saat Ia kehilangan keluarganya. Alex tak mau itu terjadi. Alex ingin Al selalu berada di sisinya. Hidup berdua untuk ke depan. Namun pasti akan sulit merealisasikan itu. Keluarga Ellison begitu Posesif. Apalagi kini putri mereka sudah dalam genggaman pasti akan dijaga dengan sangat baik.


"Pelan pelan makannya Sayang." Tutur Alex sembari mengikat rambut Al yang tergerai setelah di keringkan. "Daddy nggak mau?" Tanyanya dengan mulut penuh. "Daddy masih kenyang. Kamu saja." Alesya hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. "Haish...Kamu makannya berantakan." Sam meraih tissue dan mengelap sudut bibir Al.


Selesai menghabiskan pizza-nya Al kini sudah berada di taman bersama Alex. Beberapa hari tidak menginjakkan kaki di rumah ini rasanya sangat rindu. "Sayang." Alex menghentikan langkahnya membuat Al juga berhenti karena tangannya di genggam sang Daddy sedaritadi. Alex memeluk Alesya dengan erat. "Daddy sendiri tanpa kamu. Daddy merasa hampa dan kesepian." Ungkap Alex sambil meneteskan air matanya. "Daddy..." Lirih Al saat merasakan tetesan air mata pria itu. "Jangan tinggalkan Daddy." Lirih pria itu memohon. Alesya hanya mengangguk lemah dalam pelukan Daddynya. Ia sangat menyayangi Alex seperti Ayahnya sendiri. Alesya mendongak menatap Alex pria itu. Tangannya mengusap lembut air mata di pipi Sang Ayah. "Jangan menangis Dad. Al akan selalu bersama Daddy." Katanya sambil tersenyum.