
Semuanya heran. Sarapan sudah tersaji di meja namun ratu dapurnya tidak ada. Jason meraih catatan yang ada di atas keranjang buah. "Ibu sedang jalan jalan. Kalian sarapan sendiri. Love you." Jason membaca tulisan indah yang ada di secarik kertas itu. "Nggak bilang perginya kemana?" Tanya Riza hanya di jawab gelengan oleh putranya. "Ibu kemana Yah?" Juma mulai merengek ingin bertemu Ibunya. "Kalian sarapan duluan. Ayah mau cari Ibu." Jawab Riza. "Juma ikut." Kata bocah tampan itu langsung di tolak Ayahnya. "Kamu cari di kebun Za. Barangkali disana." Ucap Papa. "Iya Pa." Jawabnya bergegas pergi.
Riza mencari Istrinya di sekitar perkebunan dan mencoba menghubungi wanita itu berkali kali namun tidak ada jawaban. "Kamu kemana sih Dek." Gumamnya sambil masih terus mencari. Ia menyusuri lagi jalan setapak untuk mengelilingi Villa berharap akan berjumpa dengan istrinya.
Di sisi lain Jihan baru sampai di pasar yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari villa. Ia memarkirkan sepedanya kemudian masuk ke dalam pasar. Mata wanita cantik itu menelisik sekitar untuk mencari hal menarik. Jihan menghampiri beberapa penjual makanan yang berjejer. "Ini apa Bu?" Tanyanya. "Kedelai rebus. Rasanya manis neng. Mau?" Jawab Ibu Ibu penjual. Jihan mengangguk kemudian membeli tiga ikat.
Semuanya sedang menunggu Jihan dengan cemas. Hampir jam 10 namun wanita itu belum menunjukkan tanda tanda akan pulang. Riza dan anak anaknya bolak balik keluar masuk rumah. "Ibu." Kata Juma langsung memeluk Jihan yang baru masuk ke halaman rumah sambil menuntun sepedanya. "Kamu kemana aja sih Dek. Ditelpon nggak diangkat." Ucap Riza ikut memeluk istrinya. "Dari pasar. Ayo masuk." Jawab Jihan. Riza menghela napas mendengar jawaban istrinya yang begitu santai. "Mas khawatir Dek." Ucapnya lirih masih memeluk wanita itu.
"Dek." Riza menghampiri istrinya yang sedang berendam. "Ada apa?" Tanya wanita itu masih dalam posisi yang sama. "Dek Mas minta maaf mas ga bisa memuaskan kamu. Mas sudah usaha minum ini itu dan berobat juga namun tidak ada hasil." Jawab Riza lirih. Ia begitu tersiksa saat mengajak istrinya melakukan hubungan namun Ia juga yang mengakhirinya dengan kekecewaan. Riza hanya bisa bertahan beberapa menit atau bahkan harus keluar duluan sebelum penyatuan. "Katanya kamu mau coba yang rekomendasi dari teman kamu itu." Jihan menatap suaminya meminta penjelasan. "Sudah dua kali kesana hasilnya tetap sama kan." Riza mengeluh. "Di telateni aja dulu. Yang sabar. Siapa tau yang ini cocok." Jihan mencoba memberi support pada suaminya. "Aku kecewain kamu terus." Lirih Riza sambil menunduk tak kuasa melihat wajah istrinya. "Nggak usah dipikirkan Mas." Jawabnya untuk menenangkan sang suami.
Malam hari hujan begitu deras disertai angin dan kilatan petir. Riza menutup gorden kamar dan mematikan lampu lalu kembali lagi ke ranjang memeluk istrinya. Mereka tadinya tidur bertiga dengan Juma. Namun Riza memindahkan bocah itu ke kamarnya sendiri saat sudah tertidur pulas. "Kamu sekarang lebih sering pakai daster ya Dek. Nggak malu?" Tanya Riza karena istrinya itu sering keluar dengan daster sederhana dan jilbab saja. "Malu kenapa?" Jihan mendongak menatap suaminya. "Kan harganya murah. Kamu belinya di pasar lagi. Masa pengusaha sukses pakai baju dari pasar." Jawab Riza. "Ngapain malu. Daster itu nyaman, enak di pakai. Biar beli di pasar juga nggak masalah. Aku nggak malu sama sekali. Yang malu itu pakai barang mewah tapi hasil nyuri, nipu, mijem dan barang KW atau barang hasil dari jadi sugar baby." Riza memeluk istinya lebih erat. "Memangnya ada yang begitu?" Jihan mengangguk. "Ada banyak. Aku saja baru menyita aset dari manajer karna ketahuan korup untuk menuruti hidup hedon istrinya. Juga lagi kata Jalwa banyak mahasiswi yang jadi simpanan orang biar bisa beli barang barang mewah. Miris." Ucap Jihan sambil menghela napas. "Kamu nggak gitu kan Mas?" Tanyanya. "Gitu gimana?" Riza bertanya dengan cepat. "Kamu nggak punya sugar Baby kan?" Pria itu menatap istrinya dengan kesal. Cintanya selama ini hanya untuk istri seorang apa Jihan tidak melihatnya. Lagipula Ia juga pas pasan mau bayar sugar Baby darimana? "Mas cintanya cuman sama kamu Dek. Astagfirullah. Lagipula siapa sih yang mau sama Mas yang pas pasan dan tua begini. Kamu yang ga pernah minta saja pendapatan Mas hanya cukup tidak berlebih apalagi punya sugar baby yang banyak maunya." Jawab Riza. "Ya aku kan cuman tanya Mas. Lagian sugar baby nggak selalu di bayar pakai uang dan barang, pakai nilai kan bisa." Riza berdecak mendengar penuturan istrinya. "Kamu nggak percaya sama Mas?" Tanyanya dengan serius. "Percaya." Jawab Jihan cepat. "Kalau percaya kenapa tanya begitu?" Jihan tak menjawab membalikkan badan memunggungi suaminya. "Aku kan cuman tanya. Pertanyaan iseng dan nggak serius, beda sama kamu dulu yang langsung tuduh aku selingkuh." Jawab Jihan membuat Riza menghela napas karena kesalahan lama itu di ungkit lagi oleh sang istri.