Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Pinjam Uang



Alex baru saja memasuki ruangannya. Hari ini pria itu mulai bekerja setelah beberapa hari menemani sang istri di rumah. "Wih sumringah banget yang mau punya Baby." Celetuk Bram memasuki ruangan kerja sahabatnya. "Iya dong. Memang tidak boleh?" Sahut pria itu sembari duduk di kursi kerjanya. "Boleh. Boleh aja. Siap siap perhatian Al nanti kurang ke kamu karna fokus ke anak kalian." Dengan usil Bram menakut nakuti. "Nggak lah. Istri aku pasti akan bersikap adil." Jawabnya dengan santai. "Lex." Panggil Bram dan yang dipanggil hanya berdehem untuk menyahutinya. "Pinjem duit." Lanjutnya kini membuat Alex mendongak. Tidak biasanya Bram meminjam uang padanya. Lagipula gaji yang Ia berikan juga banyak. "Buat apa? Gaji dariku kurang ya?" Tanya Alex. "Ah tidak. Hanya untuk melunasi cicilan rumah. Ini yang terakhir. Tinggal sekali bayar dan jatuh temponya besok." Jelas pria itu. "Kamu beli rumah? Dimana? kok nggak bilang bilang." Tanyanya penasaran. "Satu kompleks sama kamu." Bram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sialan. Dulu aja suruh beli disana nggak mau. Sekarang beli. Kamu kok nggak bilang. Di sebelah mananya?" Bram tersenyum. "Jarak dua rumah dari rumah kamu. Yang pengen anak anak sih. Katanya biar dekat sama istrimu." Mata Alex membulat sempurna. Sahabatnya itu sangat serampangan dalam bertindak.


Hanya tinggal beberapa pekerja saja di rumah. Mereka pulang ke kampung halaman masing masing karna berbagai keperluan. Ada yang menikah, merawat oran tua dan sebagainya. Rumah sebesar ini hanya dihuni oleh Al dan suami, satu ART, dua tukang kebun dan dua supir. Suasana tampak sepi. Ya memang sepi namun ini lebih sepi dari sebelumnya. Alesya sedang duduk nyaman di sofa sembari membaca buku untuk mengisi kebosanannya. "Sayang." Panggil Alex tiba tiba sudah memeluknya dari belakang. "Iya. Sudah pulang?" Tanya Al dan suaminya hanya mengangguk sembari tersenyum. "Om." Sapa Alesya melihat Bram baru masuk. "Hey. Gimana? masih mual?" Tanya Bram sembari duduk. "Sudah enggak. Tumben Om pulang kerja langsung kesini." Alesya merasa heran. Biasanya Bram akan langsung pulang ke rumahnya setelah dari kantor. "Iya. Mau ambil uang." Jawab pria itu. "Jadi aku mau pinjam uang sama Alex buat lunasi cicilan rumah." lanjutnya. "Om beli rumah? Mau pindah kemana?" Alex menghembuskan napas kasar. "Tuh. Di samping rumah kita. Jarak 2 rumah." Jawab Alex kesal. "Kan bisa transfer." Al mengalihkan topik. "Orangnya minta cash. Maklum udah tua." Jawab Bram sambil terkekeh.


Tida orang itu sedang makan siang bersama setelah beberapa saat mengobrol. "Masak sendiri?" Tanya Bram. Alesya mengangguk sembari melanjutkan makannya. "Nggak enak ya Om?" Tanya Al. "Enak. Enak banget malah. Kalau sudah jadi tetangga. Om akan sering sering makan disini." Kata pria itu membuat Alex tersedak. "Hati hati dong." Al bergegas memberi suaminya minum. "Kenapa Lex? Nggak suka punya tetangga aku?" Tanya pria itu sembari tersenyum. "Nggak. Bikin repot." Jawabnya cemberut.


Al sedang berbaring. Keduanya mengamati layar monitor sembari mendengarkan penjelasan dari dokter. Wanita paruh baya itu memberikan wejangan apa apa yang tidak boleh dilakukan ketika masa kehamilan. "Makan makanan yang sehat, Kurangi angkat berat, jangan terlalu kecapean dan yang paling penting adalah hindari stress." Jelas dokter dan keduanya mengangguk paham.


"Dia masih kecil." Kata Al berbaring dalam pelukan suaminya sembari mengamati foto hasil USG. "Mas maunya cowok atau cewek?" Tanya Al tanpa menatap suaminya. "Apapun yang terpenting sehat. Bayinya sehat, Ibunya juga sehat." Pria itu tersenyum. Ia bahagia bisa melihat Al bahagia meski semua ini terjadi bukan di dasari hal baik di awalnya. Alex berjanji akan selalu membuat istrinya bahagia.