
Hari ini Alesya berkunjung ke rumah orang tuanya di temani suami dan kedua anak. "Sayang." Mami langsung memeluk putri satu-satunya itu. "Mami kangen banget tau." Ucapnya sembari mengajak Al untuk duduk. "Cucu cucu Oma kemari." Askar duduk di dekat Bundanya diikuti sang adik. Sedangkan Alex mengobrol dengan mertuanya di sofa yang berbeda. "Askar bagaimana kuliahmu?" Tanya pria paruh baya itu pada cucunya. "Biasa saja Opa. Berjalan dengan baik." Jawabnya dengan santai. "Kalau Bila bagaimana sekolahnya?" Ia bertanya juga pada si bungsu. " Lancar Opa." Bila tersenyum pada Kakeknya. "Askar. Opa dengar kamu sering bermasalah ya. Khususnya di jalan raya. Kamu sering kebut kebutan di jalan." Askar memutar bola matanya dengan malas tau kelanjutan apa yang akan di dengarnya. "Berhentilah membuat masalah. Teman Opa bilang kamu sering kena tilang. Contohlah adikmu itu." Katanya selalu membandingkan. Askar sudah terbiasa seperti ini. Memang dia sering bermasalah. Hanya Bundanya yang memahami. Askar tersenyum pada Sang Ibu yang menggenggam tangannya sedaritadi. Ia cukup tau apa yang sedang di pikirkan wanita itu. "Sudahlah Pi. Namanya juga anak muda. Semua anak punya porsi nakalnya masing masing. Memang saat ini Askar sedang berada di puncaknya. Kelak dewasa nanti dia akan berubah." Al mencoba menengahi. Ini yang membuat Askar malas berkunjung. Ujung ujungnya mereka akan selalu membahas kenakalannya.
Al menghampiri putranya yang duduk menyendiri. Ia paham Askar sedikit di bedakan dengan anak bungsunya. Kepribadian mereka memang kontras. Bila lebih lemah lembut dan sopan sedangkan kakaknya lebih terbuka dan mengatakan apa yang dirasakan tanpa dipikir terlebih dahulu. Namun bukan sebuah alasan untuk memperlakukan mereka berbeda. Bukankah setiap anak punya kepribadiannya masing masing. Jika kesini sangat ketara semua perhatian hanya tercurahkan pada Abila. Mereka menyayangi gadis itu dengan sangat karena cucu perempuan satu satunya. Selain itu prestasi Bila juga sangat membanggakan. Banyak pencapaian luar biasa di usianya yang masih sangat muda. "Are you ok son?" Tanya Al sembari duduk di samping putranya. "Im ok Bun." Jawabnya sambil tersenyum menatap wanita cantik itu. "Maaf." Lirih Askar merasa bersalah karena Bundanya selalu ikut terlibat. Ia tau Sang Ayah sering memarahi Ibunya karna terlalu memanjakan. Padahal tidak. Al bersikap adil pada kedua anaknya dan memperlakukan dengan sama. "Kenapa minta maaf Sayang?" Tanya Al menggenggam tangan Askar. "Maaf karena Askar Bunda selalu di marahi Ayah." Al menggeleng pelan. "Jangan di pikirkan. Bunda paham anak bunda punya pribadi masing masing. Kamu tidak mungkin menjadi seperti adik kamu begitupun sebaliknya." Jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan marah." Ucap Alex sembari memeluk tubuh Istrinya dari belakang. Tangan pria itu mulai bergerak liar meraba paha mulus sang istri. Al berbalik menghadap suaminya. Wanita itu meraba milik Alex yang sudah mengeras di balik boxernya. "Akh sayang." Pria itu memejamkan mata merasakan kenikmatan sentuhan lembut jemari sang istri yang tiba tiba sudah berada di dalam sana. "Aku mau kamu minta maaf pada Askar." Ucap wanita itu namun tidak mendapat jawaban. "Baiklah jika tidak mau." Ucapnya hendak menarik tangan namun langsung di cegah oleh suami. "Iya nanti. Sekarang aku minta kamu dulu." Ucapnya langsung menggendong Alesya menuju ranjang.