Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Hamil



Pagi hari Al terbangun dari tidurnya dan merasa sangat mual. Ia bergegas ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. "Sayang." Alex terbangun dan bergegas ke kamar mandi karena mendengar suara istrinya.


"Astaga sayang. Kamu kenapa?"Tanya pria itu sangat khawatir sembari memijit pelan tengkuk sang istri. "Mungkin masuk angin." Jawabnya sembari berjalan di tuntun Alex menuju wastafel untuk berkumur. "Aku panggilkan dokter untuk periksa kamu." Kata Alex dan dengan cepat Al menggeleng. "Jangan menolak. Aku khawatir Sayang. Wajah kamu pucat begitu." tegasnya tak mungkin bisa dibantah.


"Bagaimana dok?" Tanya Alex dengan tak sabaran ingin mengetahui kondisi sang istri. "Nona baik baik saja. Muntah muntah seperti ini memang biasa terjadi pada ibu hamil." Jawab dokter membuat Alex terkejut sekaligus senang. "Hamil? Istri saya hamil dok?" Tanyanya memastikan. "Iya Tuan. Mohon dijaga kondisinya karena kandungan masih lemah. Janin diperkirakan masih berusia dua mingguan. Saya akan beri resep vitamin." Jelas dokter dan Alex mengangguk.


Alex menghampiri istrinya yang masih berbaring dengan wajah pucat. Pria itu tersenyum sembari mengecup seluruh wajah Alesya berkali kali. "Kita akan jadi orang tua Sayang." Ia memberikan kabar gembira itu pada istrinya. "Aku hamil?" Tanya Al dengan senyumnya. "Iya. Masih dua Minggu. Kamu jangan capek capek. Jangan makan sembarangan juga." Alex memberi wejangan pada istrinya. "Tadi aku sudah kasih kabar ke Mami. Siang nanti mereka akan datang." Lanjutnya sembari tersenyum bahagia.


Malam hari hanya tersisa Alex dan istrinya di kamar. Keluarga Al telah pulang setelah makan malam bersama. Al kini sedang berbaring di peluk suaminya. "Mas. Kok dingin ya." Al meringkuk mencari kehangatan. "Sebentar aku pakein selimut." Alex langsung bergegas menyelimuti tubuh sang istri dan memeluk langi dengan hangat. "Masih dingin?" Tanya Alex memastikan. Al menggeleng pelan. "Tidurnya sudah nyaman?" tanyanya lagi. "Sudah." Jawab Alesya pelan. "Sayang." Panggil Alex dengan lembut. "He'em." Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. "Terimakasih sudah menerima aku." Lirih Alex. "Iya." Al menjawab singkat. Ia benar benar mengantuk. Apa yang dikatakan suaminya tadi juga tidak begitu jelas. Ia hanya menjawab asal saja. Alex tersenyum mendengar napas teratur dari istrinya. Pria itu sangat bahagia akhirnya bisa bersatu dengan wanita yang begitu Ia cintai. "I love you." ungkapnya ikut memejamkan mata.


Tepat tengah malam Alex terbangun mendengar suara rintihan dari Istrinya. Wanita itu meringik dalam dekapan. "Astaga Sayang. Badan kamu panas." Alex bergegas turun dari ranjang dan mengambil plester demam. Ia memasangkannya pada kening Al dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur sang istri. "Tidak boleh minum obat. Sedang hamil." Gumam Alex menatap Iba istrinya. Ia menghela napas kemudian kembali naik ke atas ranjang. Memeluk tubuh ramping itu dan mendekapnya dnegan erat.