
Alex panik. Sedaritadi Al tak berhenti merengek.Gadis itu mengeluh sakit perut tapi tidak mau di panggilkan dokter. Alesya meringkuk sambil memegangi perutnya dengan wajah yang memucat. "Sudah. Daddy nggak tahan lagi lihat kamu seperti ini. Jangan keras kepala. Daddy panggilkan dokter." Putus pria itu sembari meraih ponselnya di atas nakas. Alex menelpon sembari tangan kirinya tak berhenti mengusap punggung Al. "Saya tunggu." Suara pria itu terdengar tegas langsung menutup panggilannya. "Sabar Sayang. Sebentar lagi dokter akan segera datang." Ia menenangkan Al. Melihat gadis itu kesakitan benar benar membuatnya tersiksa.
Dokter datang langsung memeriksa keadaan Al. Wanita paruh baya itu menghela napas. "Bagaimana dok?" Tanya Alex tidak sabaran. "Asam lambungnya naik. Ini resep obatnya diminum tiga kali sehari. Saya sudah memasang infus. Ada kontrol dari dokter setiap saat. Hindari makanan asam, pedas dan kasar. Kalau begitu Saya permisi. Semoga cepat sembuh." Kata dokter berpamitan sembari tersenyum ramah dan Alex mengangguk.
Alex menghampiri Al. Gadis itu masih merintih kesakitan bahkan setelah minum obat. "Sakit Dad." Keluh Al. "Sabar Sayang. Kamu baru minum obat. Sebentar lagi akan mendingan." Alex ikut berbaring sambil memeluk Al. "Daddy nggak kerja?" Tanya Alesya lemah. "Sudah ada Bram. Daddy temani kamu." Jawab Alex mulai menenggelamkan kepala Al di dada bidangnya. "Kalau Daddy kerja nggak papa. Aku udah sedikit lebih baik." Alex menggeleng. "Daddy mau sama kamu." Putusnya tak mungkin bisa di ganggu gugat. Al diam. Rasa kantuk mulai datang. Gadis itu memejamkan matanya dengan tenang.
Alex tak berhenti mengamati wajah cantik putrinya yang kini tampak pucat. Ia mengusap bibir Al dengan lembut menggunakan ibu jarinya. "Daddy mencintaimu sayang." Lirih Alex mengungkapkan perasaannya.
"Oh Sayang. Kamu sakit apa hm? Mana yang sakit? Kamu mau sesuatu?" Tanya Bram sembari memeluk tubuh Al. "Jangan peluk peluk." Sam mendorong tubuh Bram agar menjauh. "Al sudah sembuh kok Om." Jawabnya sambil tersenyum. "Maaf Om baru jenguk. Daddy kamu kasih pekerjaan Om banyak banget." Keluhnya sembari duduk di tepi ranjang Al. "Kakak gimana? Masih sakit?" Tanya Bayu mendekat dan duduk di samping Al bergabung dengan saudaranya. "Tidak. Kakak sudah sembuh." Bayu dan Bima mengangguk. "Kita bawa sesuatu buat kakak." Kata Bima membuat Al penasaran. "Tutup mata dulu." Ia berkata hingga membuat Al menutup mata sambil menengadahkan tangan. Al merasakan benda berada di tangannya. Ia membuka mata dan tersenyum saat mendapati satu kotak coklat dan Macaroon kesukaannya. "Jangan makan dulu sayang. Kamu masih sakit." Alex merebutnya dari Al untuk di simpan. "Dad...." Keluh Al. "No sayang. Kalau sudah sembuh saja." Jawabnya tak akan luluh. "Lagian. Orang sakit bukannya di bawain makanan sehat malah dibawakan coklat sama macaroon." Sam berdecak melihat ketiganya. "Kan Kakak sudah itu Om." Jawab Bima dan Papanya mengangguk setuju.
Alex sedang duduk berdua dengan Bram di balkon. Keduanya sengaja memisahkan diri dari anak anak karena ada hal penting yang perlu di bahas berdua. "Bagaimana?" Tanya Alex sembari menyesap minumannya. "Tidak ada yang mencurigakan. Namun beberapa hari belakangan keluarga kandung Al tampak keluar masuk rumah sakit." Bram menyampaikan apa yang disampaikan bawahannya. "Sedang apa kita kira?" Tanya Alex penasaran. "Aku tanya catatan di rumah sakit juga tidak ada pasien yang sedang dikunjungi ketiganya. Semuanya baik baik saja. Mereka tidak melakukan pemeriksaan dan sebagainya." Jelas Bram. "Sampai kapan kamu seperti ini Lex?" Pria itu bertanya sembari menatap sahabatnya. "Maksudmu?" Alex sudah tau namun Ia memilih untuk bertanya lagi. "Sampai kapan kamu akan menyembunyikan semua fakta? Sampai kapan kamu akan menutup mata dan telinga Al? Setidaknya dia butuh tau keluarga kandungnya dan cerita yang sebenarnya. Dia bukan anak kecil lagi Lex. Suatu saat dia akan mencari tau sendiri jika kamu tetap bungkam. Itu malah lebih berbahaya. Aku tau kamu menyayanginya dan....Yah kau tau sendi. Tapi setidaknya berilah dia sedikit penjelasan. Aku yakin dia tidak akan meninggalkanmu. Kamu yang merawatnya sejak kecil." Jelas pria itu namun Alex menggeleng. "Aku tetap pada keputusanku. Tenang tidak menjamin. Bisa saja mereka itu suatu saat akan merebut putriku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Bram menghela napas. Ia sudah mengenal Alex sejak mereka sekolah menengah pertama. Jadi keras kepalanya pria itu sudah dianggap sebagai hal yang biasa.