
Abila mengetuk pintu kamar kakaknya namun tak kunjung di buka. Ia ingin mengajak Askar untuk makan siang bersama karena semuanya sudah menunggu di bawah. "Kak. Ayo makan. Ayah sama Bunda sudah menunggu di bawah." Kata gadis itu melihat kakaknya membuka pintu. "Hm." Jawab Askar singkat sambil melangkahkan kaki meninggalkan adiknya yang masih berdiri di tempat.
Suasana makan siang seperti biasanya. Mereka saling mengobrol dan berbagi cerita. "Askar. Kapan kamu libur?" Tanya Sang Ayah membuat remaja itu menghentikan makannya sejenak. "Minggu depan Yah. Memangnya kenapa?" Tanyanya. "Kebetulan. Minggu depan adik kamu juga libur. Kita ada rencana untuk ke puncak. Lama tidak mengunjungi Villa." Jawab Sang Ayah membuat Askar mengangguk. "Hm. Oh iya Bun. Askar nanti mau main ke rumah teman ya." Al mengangguk menanggapi putranya. "Pulangnya jangan kemalaman." Pesannya pada Si sulung.
Abila menghampiri Ayah dan Bundanya yang sudah menunggu di bawah. Mereka akan pergi ke Mall untuk berbelanja. "Ayo berangkat sekarang." Al berdiri dari duduknya. "Ayo Bun." Gadis itu menggandeng tangan Al untuk mengajak sang Ibu berjalan bersama.
Alex mendorong troli belanja mengikuti Ibu dan anak itu yang sedang sibuk memilih berbagai keperluan. "Kalian mau dimasakkan apa untuk nanti malam?" Tanya Al. "Apa aja Yang. Semua masakan kamu enak." Jawab Alex sambil tersenyum. Al mengangguk kemudian meneruskan kegiatannya.
"Bunda. Itu bukannya kakak?" Tunjuk Bila di salah satu cafe dekat lampu merah tempat mereka berhenti saat ini. "Iya. Dia sama teman temannya yang kemarin datang." Jawab Al membuat putrinya mengangguk. "Mas. Mampir dulu di depan ya. Aku mau beli dimsum." Pinta Al. "Iya." Pria itu selalu menuruti keinginan istrinya.
Malam hari semua sedang cemas menunggu Askar yang tak kunjung pulang. Bahkan sampai jam makan malam usai pun remaja tampan itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Memang ini bukan pertama kali. Namun sebagai seorang Ibu Al tentunya merasa khawatir. Apalagi Askar tidak bisa dihubungi. "Sayang. Kamu tidurlah ini sudah jam 11." Tutur Al pada anak bungsunya dan gadis itu mengangguk patuh. "Selamat Malam Bunda, Ayah." Ucapnya berpamitan sebelum pergi sembari memeluk kedua orang tuanya bergantian. "Selamat malam sayang." Jawab Al mengecup kening putrinya.
"Masuklah. Tunggu di dalam saja." Alex memeluk istrinya yang sedang berdiri di teras rumah. Ia khawatir nanti Alesya akan sakit karena udara malam yang dingin. "Mas. Kita cari keluar yuk. Aku nggak enak. Sudah jam 12 tapi belum juga pulang." Kata Al begitu cemas. Alex menghela napasnya. Pria itu sudah berkali kali memperingati putranya namun tidak di hiraukan.
Beberapa menit gerbang rumah terbuka lebar. Sosok remaja tengah mengendarai motor sport masuk ke dalam. "Bunda." Askar langsung memeluk ibunya begitu turun. "Bunda bisa sakit jika di luar seperti ini." Ucapnya khawatir apalagi Ia tau Bundanya sedang menunggu. "Askar minta maaf." Lanjutnya lagi sembari mengelus punggung Al. "Keterlaluan kamu. Lihat. Bundaku menunggu sampai tidak tidur. Kemana saja kamu?" Tanya Sang Ayah dengan nada tingginya. "Askar sedang menemani teman di rumah sakit Yah." Jawabnya jujur. "Kenapa tidak mengabari dulu?" Tanya Al yang sedaritadi diam. "Maaf Bun. Ponsel Askar mati tadi." Alesya menghela napas. "Jangan diulangi lagi. Bunda khawatir." Tuturnya di jawab anggukan oleh Askar.