
Al baru saja sampai di sebuah mansion mewah setelah mengalami perpisahan yang alot dengan Daddynya. "Ini rumah kita sayang." Kata Mami memeluk Alesya lagi. Gadis itu mengangguk. "Ayo. Kakak tunjukkan kamar kamu." Alvin langsung menggandeng tangan adiknya. Membawa Al memasuki lift untuk naik ke lantai dua.
Pintu sebuah ruangan terbuka. Menampakkan kamar mewah dengan fasilitas yang lengkap di dominasi dengan warna abu abu terang dan aksen putih di beberapa bagian. Tak beda jauh dengan kamarnya di rumah Alex. Hanya saja kamar ini sedikit lebih luas. "Kamu suka sayang?" Tanya Papi memastikan. "Jika ingin di rubah Mami akan panggil orang. Atau kamu warnanya kurang suka? Biar di cat dan di ganti furniture nya." Kata wanita itu namun Al dengan cepat menggelengkan kepala. "Al suka kok Mi." Jawabnya sambil tersenyum. "Kebutuhan kamu sudah lengkap sayang. Semuanya ada di walk in closet." Alvin menjelaskan.
Mami tersenyum. Ia baru pergi sebentar untuk mengambil cake buatannya untuk sang putri namun Al sudah tertidur pulas di atas ranjang. Wanita itu menitihkan air mata haru. Ini masih seperti mimpi. Enam belas tahun berlalu dan akhirnya sang putri telah kembali. Jemarinya menyentuh wajah cantik Al dengan hati hati agar tidur gadis itu tidak terganggu. "Mami." Panggil Alvin pelan. Pemuda itu ikut mendudukkan diri di samping Maminya. "Adikmu kembali Vin. Dia telah bersama kita." Lirihnya. "Iya Mi. Pencarian dan penantian kita selama ini berbuah manis. Alvin akan menjaganya selalu. Alvin janji akan selalu membuat Alesya selalu bersama kita." Katanya bersungguh sungguh lalu mencium lembut kening sang adik.
Suara gelak tawa terdengar dari dapur. Mereka merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Putrinya telah kembali berkumpul dan akan hidup bahagia bersama. "Sayang. Jangan. Nanti kamu kena minyak. Biar Mami saja yang masukkan Ayamnya." Kata Wanita itu khawatir akan terjadi sesuatu pada Putri tercinta. "Jangan Sayang. Nanti kamu kepedesan. Biar kakak saja." Alvin meraih ulekan dan mulai menghaluskan sambal. "Terus aku ngapain?" Tanya Al sambil cemberut membuat pemuda di depannya mencium gemas sembari menggigit pipi adiknya. "Sakit kak." Keluhnya sambil mengusap bekas gigi di pipi. "Maaf Sayang." Alvin hendak mengusap pipi Al langsung di tepis papinya. "Kamu apain anak Papi hm?" Tanya Pria itu sembari memeluk Alesya. Bunda tersenyum melihat ketiganya. Semua yang ada disini begitu over protective pada Al.
Al makan Ayam geprek dengan lahap disuapi Maminya. "Sambelnya nggak pedes ya Mi. Al mau tambah sambelnya lagi." Kata gadis itu sangat bersemangat untuk makan. "Jangan banyak banyak Dek. Wajah kamu sudah merah begitu. Nanti perut kamu sakit. Jangan tambah sambelnya Mi." Kata Alvin dan Maminya mengangguk. "Makan Ayamnya saja sayang. Nanti perutnya sakit kebanyakan sambal." Tutur wanita itu dengan lembut membuat Al hanya bisa mengangguk pasrah dan mengikuti kemauan mereka.