Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Bertemu



Alesya menghampiri Alex yang tengah menunggunya bersiap. Pria itu duduk fokus pada tabnya. "Kamu sudah siap Sayang?" Tanya pria itu sambil mendongak menatap Sang Putri yang masih berdiri di depannya. "Daddy." Al mendudukkan diri di samping Alex. "Kenapa hm?" Pria itu mengelus lembut kepala Al. "Kenapa banyak merah merah di perut Al?" Tanyanya heran. "Atau Al ada alergi." Lanjutnya lagi sambil menatap Alex. Daddy Al menggeleng pelan. Padahal sudah dari kemarin. Kenapa putrinya baru menanyakan pagi ini. "Mungkin digigit serangga. Nanti Daddy akan suruh orang bersihkan kamar kamu." Jawab Alex membuat putrinya mengangguk. "Kalau begitu ayo sarapan dulu. Kamu sudah janji mau temani Daddy di kantor." Al menggeleng. "Bukan Al yang janji. Tapi Daddy yang memaksa." Jawab gadis itu jujur membuat Alex tersenyum.


Alex dengan sabar menunggu keputusan putrinya. Al tampak memperhatikan semua hidangan di meja makan. Gadis itu sedaritadi berpikir kiranya menu apa yang ingin Ia makan.


"Nasi goreng." Kata Al langsung mendapat anggukan dari Daddynya. Alex tak akan membiarkan Al makan sendiri. Setiap hari mereka makan berdua saling menyuapi. Mungkin yang dipikirkan otak polos Al adalah untuk mengeratkan hubungan Ayah dan anak. Namun berbeda dengan Alex. Ada maksud lain dari itu. "Daddy nanti ada meeting. Kamu tunggu Daddy di ruangan. Jangan kemana mana." Tutur Alex sambil menyuapi putrinya. Al hanya mengangguk karena saat ini mulutnya menggembung penuh. "Daddy akan ajak kamu liburan. Besok kita ke Bali." Kata Pria itu membuat Al tersedak. Dengan cepat Alex memberi minum dan mengusap punggung putrinya. Al heran. Kenapa selalu saja Daddynya mengambil keputusan mendadak. Hari ini dia berkata akan liburan dan besok berangkat. Memang benar Ia punya banyak kaki tangan yang menyiapkan segala keperluan. Tapi......"Daddy. Kenapa mendadak sekali?" Tanya Al. "Ini sudah Daddy rencanakan dari lama Sayang. Dan hari ini Daddy putuskan untuk berangkat besok." Jawab Alex membuat Al cemberut. "Kenapa tidak bilang Al dulu." Keluhnya. "Daddy tau tiga hari kedepan kamu libur. Jangan cemberut begitu Sayang. Ayo segera habiskan. Kita berangkat setelah ini." Tutur Alex melanjutkan suapannya lagi.


Semenjak berangkat hingga sampai di kantor Alex tak melepaskan genggaman tangannya dari Alesya. Banyak mata memandangi keduanya. Terlebih Al. Pesona kecantikan gadis itu membuat siapa saja tertarik. Alex menajamkan penglihatannya membuat mereka kembali bekerja. Tuan CEO memang terkenal dengan sikap arogan dan dinginnya. "Jangan tersenyum hm." Alex berhenti kemudian mengecup kening gadis itu di depan semua karyawannya. "Daddy. Malu." Protes Alesya membuat Alex tersenyum. Senyum yang baru mereka lihat selama mereka bekerja disini. Dan itu hanya untuk sang putri tercinta.


Jantung Alex berpacu sangat kencang melihat sosok pemuda yang duduk di depannya. Pertemuan para pebisnis memang diadakan di perusahaan Alex. Ia tak menyangka akan bertemu sosok itu hari ini. Jika tau akan seperti ini maka Ia tak akan membawa Al bersamanya. Perasaannya gusar dan Ia menjadi tak fokus. "Tuan Alex...."


"Tuan..."


"Tuan."


"Jadi Saya dan keluarga memutuskan untuk kembali. Kami akan menetap disini." Alex dan Avin mengobrol setelah pertemuan selesai. "Bagaimana dengan adik Anda yang hilang?" Tanya Alex. "Kami masih mencari. Namun belum ditemukan juga. Hanya foto bayi yang kami miliki. Jadi sulit untuk menemukannya. Usianya sudah 16 sekarang." Jawab pemuda itu membuat Alex mengangguk. Bram yang ada disana hanya diam. Ia tidak ikut campur dalam pembicaraan mereka. Ingin sekali Ia mengungkapkan sesuatu. Namun diurungkannya. Ia tak mau hubungan dengan sahabatnya kacau.


Alex panik. Al tidak ada di ruangannya. Gadis itu pergi entah kemana. Ia sudah memerintahkan semua orang untuk mencari dan mengeceknya lewat CCTV. "Lex. Al ada di taman." Kata Bram membuat pria itu mengangguk. Ia bergegas menyusul Alesya.


"Brug..." Seorang gadis menabrak sesuatu di depannya hingga Ia terjatuh. "Nona." Pemuda itu panik dan buru buru menolong. Pandangan mereka bertemu. Alvin terperanjat melihat wajah cantik di depannya. Begitu mirip dengan....Ia mengingat ingat. "Papi..." Gumamnya pelan. Ya wajah gadis itu sangat mirip dengan Ayahnya. Bibir, alis mata dan semuanya.


"Siapa namamu Nona?" Tanya Alvin sambil menempelkan plester di telapak tangan gadis itu. Mereka sedang duduk di bangku taman. "Alesya." Deg....Jantung Alvin serasa mau lompat dari tempatnya. "Berapa umurmu?" Ia terus bertanya dan setiap jawaban dari gadis itu membuat jantungnya berpacu lebih kencang. "Kenapa berada disini?" Alesya menatap pemuda di depannya heran karena banyak bertanya. "Jalan jalan. Hanya bosan menunggu Daddy yang sedang meeting."


"Sayang." Suara itu menghentikan obrolan keduanya. Alex berjalan tergesa kemudian langsung menghampiri dan memeluk Alesya. "Kamu tidak apa?" Tanyanya mengecek seluruh tubuh putrinya. "Alesya terjatuh Tuan. Tangannya terluka." Jawab Alvin. "Tuan Alvin menolongku Dad." Alesya menjelaskan. "Terimakasih banyak Tuan. Kami permisi." Kata Alex cepat cepat membawa putrinya pergi. Alex berpikir Alvin tampak biasa saja. Tidak ada gelagat yang aneh. Mungkin Pemuda itu tak mengenali Al. Setidaknya itu membuat Alex bernapas lega. Alvin memandangi kepergian mereka.


"Daddy sudah bilang jangan keluar. Kenapa kamu tidak mendengarkan Daddy? Jadi begini kan. Kamu terluka." Alex memarahi putrinya habis habisan. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Al. Namun yang lebih membuatnya khawatir adalah kejadian bertemunya gadis itu dengan orang yang sangat berbahaya bagi mereka. Pria itu menghela napas. Ia memeluk putrinya yang sudah berkaca kaca. "Maafkan Daddy. Daddy hanya khawatir Sayang. Daddy tidak mau terjadi sesuatu padamu." Tutur Alex dengan lembut.