
"Al." Sapa Bram memasuki rumah Alex. "Om." Jawabnya sambil tersenyum kemudian mempersilahkan pria itu untuk duduk. "Alex ada?" Tanyanya. "Ada. Bukannya tadi habis ngobrol ya." Bram mengangguk. "Iya. Alex mau beli Villa katanya. Aku pulang buat ambil foto desain Villa yang dia mau." Jelas Bram. "Udah dateng aja." Alex ikut duduk di samping istirnya. "Kamu mau beli Villa Mas?" Tanya Al membuat Alex berdecak kesal. Niatnya adalah untuk memberi surprise sang istri dengan membelikan Villa di daerah puncak agar jika Al bosan mereka bisa liburan ke sana. Namun mulut ember Bram merusak segalanya. "Iya sayang." Jawabnya sambil tersenyum. "Kenapa menatapku begitu?" Tanya Bram yang di tatap tajam oleh Alex. "Nggak." Jawab pria itu dengan kesal.
Alesya memisakan diri dari mereka sembari menggendong anaknya menuju ruang keluarga. "Mau turun ya?" Tanya Al pada Askar yang begitu antusias dengan karpet bulu. Bayi itu kini sudah mulai merangkak kesana kemari dan begitu aktif. "Iya sayang." Alesya mendudukkan putranya perlahan di atas karpet. "Jangan sayang. Itu bahaya." Al segera mencegah anaknya ketika hendak meraih Vas besar yang ada di dekat keduanya. "Sini. Duduk sama Bunda saja." Ia meraih tubuh putranya dan mendudukkan dalam pangkuan. Baby Askar tampak diam dan nyaman.
Ponsel Al berbunyi menandakan adanya panggilan yang masuk. Wanita itu segera mengangkatnya. "Ya Mi." Jawab Al. Ia mengulas senyumnya sambil mengelus punggung anaknya yang kini diam sambil memainkan ujung dress yang Ia kenakan. "Iya Mi. Nanti sore kesitu. Lagian tiap hari kan ketemu juga. Mami kemarin kan habis kesini." Jawab Al heran dengan Maminya yang mengeluh selalu merindukannya. Bahkan terus memaksa Al untuk tinggal di rumah mereka. Al menolak. Bukan apa apa. Namun selain ingin mandiri juga Ia tau jika suaminya itu tidak nyaman tinggal dengan mertua. Alesya menghargai itu. Jadi demi kenyamanan mereka bersama Al memutuskan untuk tinggal mandiri bersama suaminya.
Al memasuki rumah sembari menggendong Askar diikuti suaminya dari belakang. "Sayang." Mereka langsung berhambur menyambut kedatangan Ibu muda itu. "Ayo ikut uncle." Alvin mencoba meraih keponakannya namun malah membuat Askar merengek. "Sudah. Dia nggak mau kalau tidak sama Bundanya. Sama aku saja nggak mau." Jelas Alex. "Masa sih?" Kata Papi menyahuti menantunya. "Iya. Coba lihat Pi. Ayo sama Ayah. Kasihan Bunda gendong kamu terus." Alex melakukan hal yang sama seperti iparnya malah membuat Askar menangis. "Sudah dong jangan di ganggu." Kesal Alesya pada dua orang itu. "Cup...Cup.. Cup...Jangan nangis sayang." Wanita itu menenangkan putranya.
Alesya sedang menjaga putranya yang sedang merangkak sembari mengobrol dengan keluarga. Mereka sedang berada di taman belakang. Al membiarkan Baby Askar di atas rerumputan. Bayi tampan itu tampak girang. Ia begitu bersemangat merangkak kesana kemari. "Eh jangan jangan. Kotor itu." Al dengan cepat menggendong Askar sebelum menyentuh tanah kemudian membawanya untuk duduk bergabung lagi bersama keluarganya. Ia segera mengelap kedua tangan mungil itu dengan tissue basah. "Kalian menginap kan?" Tanya Mami. "Besok kan nggak libur Mi " Jawab Al membuat wanita itu mengangguk lemah. "Jangan sedih begitu dong Mi. Tiap Sabtu kan kita menginap juga. Tunggu saja ya." Al mencoba tidak membuat wanita itu bersedih. "Iya deh. Mami tunggu." Mami Al mengulas senyuman sembari menatap putrinya. Ia ingin sekali tinggal serumah dengan Al. Setiap hari bersama dengan anak perempuannya sekian lama menghilang. Namun keadaan membuat semua tidak berjalan seperti yang diinginkan. Alex yang sedaritadi mengobrol dengan ipar dan mertuanya merasa tidak enak. Karena dialah yang mengajak Alesya untuk tinggal terpisah dengan keluarga.