Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Perlu Bukti



Seorang wanita menangis mengamati foto gadis cantik yang beberapa saat lalu diberikan putranya. Pria di sampingnya juga mencoba menahan air mata namun tak bisa. Beberapa tetes lolos dari pelupuk mata dan membasahi pipi. "Kenapa kamu baru bilang sekarang Vin? Bagaimana hidupnya 16 tahun tanpa kita?" Tanya Mami sambil terisak. "Alvin harus melakukan pendekatan dulu Mi. Semakin kesini Alvin semakin yakin bahwa dia adalah Alesya kita yang hilang. Bukan hanya karena nama, umur dan wajah yang mirip Papi. Tapi beberapa hal lain juga sangat mirip dengan Mami membuat Alvin yakin. Untuk hidupnya selama ini sangat baik. Alesya di rawat oleh Alex." Jawabnya sukses membuat Papi terkejut. "Alex?" Tanyanya memastikan karena pria yang disebutkan Alvin bukanlah orang biasa. "Iya. Alex. Pengusaha yang bekerjasama dengan kita. Aku dapat informasi dia sangat menyayangi Adik. Begitu over protective dan memanjakannya." Jelas Alvin membuat mereka mengangguk paham. Di hati mereka juga lega Alesya tercinta tubuh dengan kasih sayang yang besar. "Wajahnya sangat cantik. Bola mata biru itu milik Papi." Katanya sambil meraba foto yang sedang di pegang sang istri. "Papi. Bawa Putri kita pulang. Bawa dia kembali bersama kita." Mami menatap mata suaminya dalam dalam. "Jangan dulu Mi. Kita perlu bukti. Kita adakan tes DNA. Alex tidak akan mudah percaya begitu saja tanpa kita membawa bukti. Lagipula pria itu sangat menjaga adik. Alvin rasa akan sedikit sulit mengatasi hal ini." Usul Alvin karena tak ingin salah langkah. Yang mereka butuhkan saat ini adalah bukti agar bisa membawa Putri tercinta pulang dan kembali berkumpul bersama.


Al baru saja menyelesaikan kelas pertamanya. Ia kini tengah berada di kantin bersama Winda dan Ilham. "Nona." Sapa seorang pria menghampiri ketiganya. "Ini makan siang dari Tuan. Tuan akan menjemput Nona setelah kelas usai nanti." Jelasnya dan Al mengangguk sekaligus mengucapkan terimakasih. "Padahal aku pengen makan bakso." Gumamnya setelah orang kepercayaan Alex undur diri. Winda tersenyum. "Memangnya kamu nggak boleh makan di luar?" Tanyanya heran karena Al selalu mendapat kiriman makan siang jika pulang agak telat. "Tergantung sih." Jawabnya sambil membuka kotak makan. "Ayo bantu makan. Sekalian pesan bakso." Kata Al membuat Ilham tercengang. Makanan Al sudah banyak dan gadis itu ingin bakso juga. "Kamu yakin? Itu makan siang kamu aku rasa sudah cukup buat kenyang berlebihan." Tanya Ilham memastikan. "Aku malas setiap hari makan seperti ini. Ganti menu. Pengen makan bakso. Kalau kalian nggak mau aku buang ya." Kata Al langsung di cegah keduanya. "Jangan dong. Makanan mahal begini mau di buang. Sayang. Kita makan sama sama." Putus keduanya dan Al mengangguk setuju.


Mereka makan bersama dengan berbagai menu yang tersaji di meja. Lengkap dengan dessert dan buah. "Daddy kamu benar benar perhatian ya. Lihat. Makannya yang di kirim lengkap begini." Kata Winda di sela sela makannya. Al mengangguk. Daddynya memang sangat perhatian dan dia tidak mengelak fakta itu. "Al. Boleh aku tanya sesuatu? tapi ini pribadi." Alesya mengangguk menanggapi pemuda di depannya. "Ibu kamu dimana? perasaan tiap aku lihat kamu sama Daddy kamu terus." Tanya Ilham penasaran. "Ibu aku udah nggak ada kak. Aku bahkan belum sempat melihat wajahnya." Jawab Al membuat Ilham tak enak hati. "Maaf ya. Aku nggak bermaksud." Katanya merasa bersalah. Al tersenyum "Tidak apa."


Alex langsung keluar begitu melihat Al berjalan menuju ke arah mobilnya. "Sayang." Pria itu melangkah cepat langsung memeluk Alesya. "Daddy nunggu lama ya?" Alex menggeleng sambil tersenyum. "Ayo pulang." Ia menggandeng tangan putrinya utuk segera memasuki mobil.


Sampai di rumah Alesya langsung berlari masuk ke dalam meninggalkan Alex. "Pelan pelan sayang. Nanti kamu jatuh. Kebiasaan. Sudah Daddy bilang jangan lari lari saat menaiki tangga. Gunakan lift saja jika kamu seperti itu." Omelan Alex terdengar menggema namun Al tidak menghiraukan.


Al merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia merasa sangat segar karena baru saja selesai mandi. Pikiran gadis itu menerawang sembari mengamati langit langit kamar. Sampai kapan Daddynya akan bungkam perihal sang Ibu. Alesya juga ingin tau tentang wanita yang melahirkannya itu. Namun tetap saja jika Ia bertanya jawaban dari Alex tetap sama.


Seorang gadis tengah mengendap ngedap memasuki ruang kerja Ayahnya. Ia terlihat sibuk mencari sesuatu dan berharap ada petunjuk yang bisa ditemukannya. Tidak mungkin jika Alex tidak menyimpan sedikitpun bukti tentang Ibu Alesya. "Kamu sedang apa sayang?" Tanya Alex yang tiba tiba berada di belakang gadis itu. "Em...Sedang cari pulpen Dad. Al mau pinjam pulpen warna merah." Jawabnya spontan. Alex mengangguk. Pria itu membuka laci meja kerjanya dan meraih satu pena berwana merah gelap. "Ini." Alex memberikannya pada Alesya. "Makasih Dad." Alex mengangguk menanggapi putrinya. Ia kemudian memeluk tubuh Alesya dengan erat. "Tetaplah bersama Daddy sampai kapanpun." Lirihnya terdengar seperti sebuah permohonan. "Bisakah kamu berjanji untuk tetap bersama Daddy sayang?" Tanya Alex dan Alesya mengangguk. "Daddy satu satunya yang Al punya. Daddy sudah merawat Al sejak kecil. Al akan terus bersama Daddy." Jawabnya mampu mengatasi sedikit kegusaran di hari Alex.