
"Kamu tidak boleh masuk. Nakal. Kamu tidak boleh ketemu Bunda." Alex menutup pintu kamarnya membiarkan bocah itu merengek sembari mengetuk pintu. Ia sangat kesal pada Askar. Bagaimana tidak, laptopnya di siram dengan air dan akhirnya rusak. Bukan masalah uang. Tapi beberapa file penting sebagian masih disimpan disana.
Alex menghampiri istrinya dan memeluk wanita yang sedang membaca di balkon kamar itu. "Askar mana Mas?" Tanyanya tanpa mengalihkan fokus. "Di kamarnya." Jawab Alex berbohong. "Kenapa wajahnya di tekuk begitu?" Alesya menutup bukunya kemudian membalas pelukan sang suami. "Gimana nggak kesel. Askar nakal banget. Masa siram laptop aku pakai air minum. Rusak jadinya. Mana beberapa file masih disana." Kata pria itu berkeluh kesah manja di pelukan istrinya. "Nanti biar aku tegur." Jawab Al.
Baru saja keluar dari kamar Al langsung mendapat pelukan dari anaknya. Bocah itu menangis dengan mata yang sembab. "Kenapa hm?" Tanya Al langsung menggendong putranya. "Askar nakal. Kata Ayah tidak boleh bertemu Bunda." Jawabnya sesenggukan. Alesya menghela napas kemudian membawa anaknya masuk ke dalam kamar.
Alex masih berbaring di ranjang hanya memperhatikan sang istri yang menggendong Askar menuju ke arahnya. "Memang Askar melakukan kesalahan apa?" Tanya Al setelah mendudukkan bocah itu. "Askar menyiram laptop Ayah dengan air." Jawabnya jujur. "Kenapa begitu?" Askar menunduk tak berani menatap sang Ibu. "Askar tidak boleh ketemu Bunda." Jawabnya pelan. "Sekarang minta maaf sama Ayah. Itu tidak baik sayang." Perintahnya membuat bocah tampan itu mengangguk. Ia merangkak mendekati Ayahnya yang memalingkan wajah. "Ayah. Askar minta maaf." Ungkapnya sembari memeluk Alex. Pria itu tak merespon. Ia masih enggan memandang putranya. "Askar janji nggak akan ulangi lagi." Lanjutnya. "Ya. Sudah Ayah maafkan." Jawab Alex membalas pelukan putra semata wayangnya.
Alex ditemani istri dan anaknya berkunjung ke rumah Bram. "Weh...kalian datang. Kebetulan banget kita lagi panen mangga. Jadi nggak usah antar kesana." Kata Bram sembari turun dari tangga. "Om. Kue." Alesya memberikan kota kardus pada Bram. "Makasih ya. Ayo duduk." Ajaknya.
"Askar. Askar mau nggak punya adek?" Tanya Bram dengan cepat bocah itu menggeleng. "Kenapa?" Bram ingin sekali mendengar alasan dari Askar. "Tidak mau berbagi. Askar pengen di sayang terus sama Bunda. Kata Ayah kalau nanti Askar punya adik Bunda akan lebih sayang ke adik Askar." Jawab bocah itu polos membuat mereka tertawa. "Mana ada seperti itu. Bunda akan sayang sama semua anak Bunda. Nggak ada pilih kasih." Alesya meluruskan. Ia menatap suaminya dengan kesal. Bisa bisanya pria itu memberikan pengaruh buruk bagi putranya yang masih polos. Pantas saja jika di tanya Askar selalu menjawab tidak mau punya adik. "Pokoknya Askar tidak mau Bun. Cukup Askar saja anak Bunda." Ia memeluk Bundanya dengan erat dan begitu Posesif.
Askar menggandeng tangan Bundanya dalam perjalanan pulang. "Pelan pelan jalannya. Nanti jatuh." Tegur Al kemudian bocah itu langsung menurut. "Yang. Askar sudah empat tahun. Boleh dong sekolah?" Alesya hanya mengangguk lemah menanggapi suaminya. "Tanya anaknya dulu. Takutnya nanti tidak nyaman."
Alesya sampai di rumah mengajak anaknya duduk sambil memangku. "Sayang. Kamu mau sekolah nggak?" Tanyanya dan Askar mengangguk dengan antusias. "Bagus. Besok Bunda daftarkan ya." Al mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Mau sekolah yang dimana?" Alex menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. "Nanti coba aku cari info. Yang tidak terlalu jauh saja." Jawabnya. "Nanti kalau di sekolah jangan nakal. Bunda nggak mau dengar Askar buat masalah." Lanjutnya menasihati. "Iya Bunda Sayang. Askar nggak akan nakal." Bocah itu memeluk Ibunya dengan erat.