Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Buaya



Alesya sedang menyuapi anaknya. Bocah itu sangat aktif berjalan kesana kemari di usianya yang sudah dua tahun. "Hayo..Bunda bilang apa tadi. Jangan dekati tanaman. Nanti ada ulatnya." Kata Al menghampiri putranya. "A..." Askar membuka mulutnya minta disuapi lagi. Pipi mulusnya menggembung mengunyah makanan yang baru di suapkan sang Ibu. "Kalian disini ternyata." Kata Alex segera mengahmpiri istrinya. Pria itu baru saja kembali dari rumah Bram untuk mengantarkan sesuatu. "Sudah Pulang Mas. Cepet banget." Al duduk diikuti suaminya. Alex merangkul istrinya mesra. Menyenderkan kepala sang istri ke dadanya yang bidang. "Dia nggak bisa diam." Alex memperhatikan putranya. "Askar memang aktif." Jawab Al.


Bocah itu tiba tiba menghampiri kedua orang tuanya dan duduk di pangkuan sang Ibu. "Mas. Kita punya anak lagi gimana?" Tanya Al pelan membuat Alex menggeleng. "Nggak ah. Satu aja udah." Al mendongak menatap suaminya. "Memangnya kamu nggak pengen punya anak cewek?" Tanya Al. "Enggak Yang. Satu aja sudah cukup. Nggak ada acara tambah anak lagi." Jawab pria itu masih kekeh pada pendiriannya. "Askar. Askar mau adik nggak?" Alesya meminta pendapat putranya. "Adik?" Bocah itu bertanya dengan jelas. "Iya. Adik bayi cantik. Askar mau?" Al bertanya lagi namun mendapat jawaban yang tak di sangka. Askar ternyata sama seperti Ayahnya. Bocah itu tak mau punya adik. Alex tersenyum. Tidak sia sia Ia mempengaruhi putranya selama ini. Bocah itu sangat pandai diajak bekerjasama. "Kalian sama saja." Keluh Al sembari menghela napas. "Mas. Aku mau belanja ya. Susunya Askar hampir habis. Sama keperluan yang lain juga." Wanita itu meminta Ijin pada suaminya. "Iya. Nanti ya. Aku antar." Jawab Alex sembari mengecup kening sang istri.


Sore hari Alex sudah berada di swalayan untuk mengantarkan istrinya berbelanja. "Jangan lari lari hm. Yang sopan." Al berjongkok untuk menuturi putranya. "Iya Bunda." Jawab Askar patuh. Al kembali berdiri kemudian menggandeng tangan anaknya untuk diajak jalan bersama. Wanita itu mulai memasukkan beberapa kaleng susu ke dalam troli belanja yang di dorong suaminya. "Makan malam nanti mau dimasakkan apa Mas?" Tanya Al. "Soto boleh Yang." Jawabnya. Alesya mengangguk kemudian mengambil bahan bahan yang dibutuhkan.


"Alex." Sapa seseorang berjalan mendekati sepasang suami istri itu. "Kita nggak ketemu lagi setelah kondangan lalu." Kata Doni sok akrab membuat Alex sebal. "Al. Masih ingat sama aku?" Tanya Doni pada Alesya membuat Alex kesal. "Nggak. Istriku nggak ingat kamu. Sudah. Pergi sana. Ganggu aja." Kata Alex mengusir langsung mendapat cubitan dari sang istri. "Aw...Sakit Yang." Keluhnya. "Maaf Om...." Al menjeda kalimatnya karena tak mengingat naman pria itu. "Doni. Namaku Doni." Ia hendak mengajak berjabat tangan namun dengan cepat di tepis Alex. "Sudah cukup kenalannya. Kamu pergi sana." Usir Alex untuk yang kedua kalinya. "Baiklah. Aku pergi dulu." Pamitnya sembari tersenyum hanya pada Al. "Buaya." Umpat Alex sembari mengepalkan tangannya.


Keluarga kecil Alex berkumpul di ruang kelurga. Mereka makan malam disana karena sang istri yang meminta. Al berjalan cepat saat baru kembali dari dapur untuk mengambil botol susu anaknya. "Kenapa sayang?" Tanyanya langsung menggendong Askar yang berlari menghampiri sambil menangis terjerit jerit. "Kenapa nangis sayang?" Tanya Al namun Askar tidak menjawab. "Kenapa nangis anaknya Mas? Kamu disini kok nggak di tenangkan sih." Kesal Al sembari duduk di sofa. "Sudah di tenangin nggak mau diam." Alex ikut bergabung bersama istrinya. "Memangnya kenapa bisa nangis?" Tangannya pada Alex. "Tadi minta soto. Aku suapi malah nangis." Jawabnya jujur. "Kamu suapi pakai yang mana?" Alex menunjuk piring yang ada di meja. "Itu kan pedes Mas. Ada sambalnya. Punya Askar kan yang ada di mangkuk itu."


Askar sudah tenang di pelukan Ibunya setelah cukup lama menangis."Minum susunya dulu." Alesya memberikan botol susu anaknya agar di pegang sendiri. "Dasar Manja." Alex menggoda anaknya. "Mas. Nanti nangis lagi kamu mau tanggung jawab." Tegur istrinya membuat pria itu seketika diam. "Maaf." Katanya langsung memeluk tubuh Al dengan manja.