
Hari ini Al sudah boleh pulang setelah dua hari berada di rumah sakit. Wanita itu tampak memasuki rumah diikuti keluarganya. Ia langsung mendudukkan diri di sofa dengan hati hati. "Tidurnya nyaman sekali." Kata Mami duduk di samping putrinya sembari mengamati sang cucu. "Iya. Belum bangun juga Mi." Al mengangguk. "Taro di box saja dek. Kamu pasti lelah gendong dari rumah sakit sampai ke rumah." Alvin dengan perlahan meraih keponakannya kemudian meletakkan di box bayi.
Alex ikut bergabung setelah meletakkan barang barang di kamar. Pria itu duduk di samping istrinya. "Rumah kamu makin sepi Lex?" Tanya Papi mengamati rumah yang biasanya banyak pekerja kini hanya ada beberapa saja. "Iya Pi. Sebagian mengundurkan diri karena punya keperluan di kampung." Jawabnya membuat sang mertua mengangguk paham.
Alesya sedang beristirahat di kamarnya setelah memberi Asi dan mengantar keluarganya pulang. Wanita itu begitu nyaman dalam pelukan suaminya. "Tidur sayang. Daritadi kamu masih belum merem juga." Alex mengecup bibir istrinya dengan gemas. "Iya. Kamu juga tidur. Semalam nggak bisa tidur gara gara jagain aku." Alex mengangguk Ia membawa istrinya ke dalam pelukan yang lebih dalam kemudian memejamkan mata.
Akhirnya Al bisa makan malam dengan tenang setelah berhasil menenangkan anaknya yang rewel. Kini mereka sedang makan bersama sembari mengobrol ringan. "Bagaimana nilai kalian? sudah bagus belum?" Tanya Al. "Sudah kak. Terimakasih." Dua bocah itu sangat bahagia kini mendapat nilai yang memuaskan semenjak Al mengajarinya. "Bagus. Pertahankan. Jangan sampai turun." Bukan Bram namun Alex kini yang mewanti wanti. Pria itu berkata demikian karena tak ingin kedua bocah itu selalu mengganggu istrinya. "Siap Om." Jawab Bayu dan Bima bersamaan. "Awas saja kalau sampai turun. Papa akan hukum kalian. Nggak dapat uang jajan." Ancamnya membuat kedua anaknya seketika mengeluh.
Alex membelai lembut wajah istrinya yang kini sudah tertidur pulas. Wanita itu tampak lelah Karana menjaga anaknya. Al tidak pernah mengeluh sama sekali. Ia menjalaninya dengan senang hati. Kebahagiaan Alex terasa lengkap. Ia dapat memiliki Al dan hidup bersama wanita yang begitu Ia cintai. Dahulu Ia hanya berpikir jika cita citanya untuk bersanding dengan Al hanya akan menjadi angan angan belaka karena perbedaan usia yang cukup jauh. Namun Tuhan maha adil. Ia dipersatukan dengan cintanya. "I love you my dear." Gumam pria itu Sembari mencium bibir istrinya dengan lembut.