
Alesya kini sudah berusia 16. Ia baru saja merayakan hari kelahirannya kemarin di Paris bersama Daddy tercinta. Gadis itu tumbuh dengan sejuta pesona yang mampu memikat semua pria hanya dalam sekali pandang. Dia begitu cantik dengan mata biru, hidung mancung dan kulit putih mulus tanpa cacat sedikitpun. Sebuah anugrah yang telah Tuhan berikan untuk menyempurnakan gadis baik nan polos itu.
Alex benar benar menyembunyikan Alesya dengan baik. Pria itu tak memberi celah kepada keluarga kandung Alesya untuk menemukan keberadaan sang putri. Alex akan membawa Putri tercinta pergi ke luar negeri dan menetap di sana selama beberapa tahun lalu kembali lagi saat keadaan sudah kondusif. Ia sangat melindungi anaknya dari semua orang yang ingin memiliki Alesya. Baik teman maupun orang yang lebih dewasa yang secara terang terangan menyatakan cinta pada gadisnya. Pria itu tak akan membiarkan siapapun memiliki Alesya. Hanya dirinya seorang yang berhak bersama dan bersanding dengan gadis cantik itu. Perasaan sayangnya pada sang anak kini telah berubah menjadi cinta. Cinta yang tumbuh begitu saja tanpa kemauannya. Alex sudah berkali kali menepis namun rasanya gagal. Ia malah tersiksa. Pria itu akan membuat Alesya untuk tetap bersamanya. Mengikat gadis pujaan agar tidak jatuh di genggaman orang lain. "Hanya aku yang berhak." Gumamnya menatap foto Alesya yang memenuhi ruangan pribadinya.
Alex tersenyum melihat tidur bidadari cantiknya. Begitu damai dan dan tenang. Ia mengusap pipi Alesya dengan lembut. "Daddy." Gadis itu mengerjapkan mata merasakan sentuhan lembut di pipinya lalu memejamkan matanya kembali karena masih mengantuk. "Hari pertamamu kuliah Sayang. Cepatlah bangun nanti terlambat." Alex memeluk putrinya dengan hangat. Pria itu sangat memanjakan Alesya. Semua yang diinginkan sang putri pasti selalu di turuti kecuali hal hal yang perlu di garis bawahi. "Um...Sudah jam berapa?" Tanyanya dengan mata yang masih terpejam. "Sudah jam 6 Sayang." Ia mencium kening dan pipi mulus itu dengan gemas membuat Alesya risih dan mau tidak mau harus membuka mata. "Morning sayang." Alex tersenyum lebar. "Morning Dad." Jawabnya sambil menundukkan diri. Lagi. Ia harus beradaptasi lagi di negara tempat kelahirannya. Sampai umur 5 tahun Alesya disini. 5 tahun berikutnya di New York dan 6 tahun di Paris dan lalu kembali lagi kesini. Huft....Alesya mengembuskan napasnya. Ia begitu jengah karena hidup berpindah pindah. "Kenapa Sayang? Ada yang membuatmu tidak nyaman hm?" Tanya Alex sambil memeluk putrinya. Menghirup aroma wangi itu dalam dalam sambil memejamkan mata. "No Dad. Hanya saja aku harus menyesuaikan diri lagi." Jawab Alesya sedikit lesuh. "Nanti Putri cantik Daddy akan terbiasa. Mandilah. Airnya sudah siap. Daddy juga mau bersiap dulu. Daddy tunggu di ruang makan untuk sarapan. Love you Honey." Pria itu beranjak kemudian mengecup singkat kening putrinya sebelum pergi.
"Ingat kata Daddy." Pria itu menggenggam tangan putrinya sebelum Alesya keluar dari mobil. "Ok Dad. Aku turun dulu." Jawabnya ingin pergi namun Alex mencekal tangan anaknya. "Kamu melupakan sesuatu sayang." Alex tersenyum kemudian mengecup pipi dan kening Alesya dengan lembut. "I Love You My Princess." kata Alex sambil mengusap kepala anaknya. "Love you too Dad." Jawabnya sambil mengecup pipi Alex sebelum turun.
Alex masih disana mengamati putrinya. Ia mengepalkan tangan ketika melihat Alesya menjadi pusat perhatian. Bukan hal aneh lagi. Ini sudah bisa namun tetap membuat Alex geram. Terlebih lagi beberapa mahasiswa menyapanya dan mendekati sambil berjalan di samping Alesya. Jika bukan karena terdesak waktu pasti Alex akan kesana dan memperingati para pemuda itu. "Jalan pak." Katanya karena sudah telat beberapa menit.