
Hari ini Alex mulai bekerja setelah beberapa hari cuti karena menemani putri tercinta yang sedang sakit. "Dad. Al kan sudah sembuh. Kok sarapannya bubur lagi?" Keluhnya saat di suapi Sang Daddy. "Kan kamu baru saja sembuh Sayang. Biar perutnya nggak sakit lagi harus jaga makannya. Dokter bilang kamu tidak boleh makan yang kasar kasar dulu selama masa pemulihan." Tutur Alex. "Kamu hari ini di rumah saja ya. Tidak perlu temani Daddy di kantor. Kamu baru sembuh. Daddy nggak tega akhlak kamu. Daddy cuman sebentar Sayang. Sebelum jam 12 nanti Daddy pulang." Lanjutnya lagi langsung mendapatkan anggukan dari Alesya.
Alex memeluk putrinya lama sebelum memasuki mobil. Menghirup aroma tubuh Alesya yang begitu membuatnya tenang dan nyaman berlama lama di dekat gadis itu."Jika ada sesuatu segera hubungi Daddy. Jangan macam macam. Banyak banyak istirahat." Pesannya sembari mengecup kening dan kedua pipi Al. "Iya. Daddy hati hati ya." Al berpesan sembari tersenyum menatap lekat wajah Alex. "Iya sayang. Daddy berangkat dulu. Love you." Pamitnya. "Love you too Dad." Balasnya menutup pintu mobil.
Alesya langsung pergi ke dapur setelah memastikan Daddynya berangkat. "Non. Butuh sesuatu?" Tanya Bibi melihat kedatangan gadis cantik itu. "Ah tidak Bi. Al hanya mau ambil minum saja." Jawabnya sembari membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. "Bibi. Bahan untuk buat kue ada?" Tanyanya dan Bibi mengangguk. "Ada Non. Non mau dibikinkan kue?" Alesya menggeleng. "Al tadi baca resep. Al bikin sendiri Bi." Kata gadis itu membuat wajah wanita di depannya berubah kesulitan. "Nanti Pak Alex marah Non. Non kan baru sembuh." Tuturnya khawatir. "Ah tidak. Nanti biar aku yang jelaskan sama Daddy. Bibi jangan khawatir." Al mulai mengambil bahan bahan dari lemari tempat penyimpanan. Ia hanya bosan saja selama sakit tidak berkegiatan apapun.
Di sisi lain sebuah keluarga tak berhenti mengucapkan syukur. Putri mereka akhirnya di temukan juga setelah sekian tahun lamanya. Bukan hanya dugaan semata seperti sebelumnya. Kini Mereka sudah mengantongi bukti tes DNA yang hasilnya akurat bahwa Alesya adalah putri mereka yang hilang. "Putri kita ditemukan Pi. Setelah enam belas tahun. Akhirnya......" Kata seorang wanita dengan senyuman yang tak pernah luntur sembari mengurai air mata bahagia. "Kita jemput Alesya sekarang ya." Lanjutnya lagi namun mendapat penolakan dari anak sulungnya. "Jangan dulu Mi. Kita bicara sama Alex dulu. Bagaimanapun juga dia yang merawat Alesya sejak bayi. Adik mengenalnya sebagai orang tua tunggal. Hal ini juga terlalu tiba tiba. Alvin takut adik tidak akan terima. Jadi kita perlu bantuan Alex untuk menjelaskan." Kata Alvin dan mereka mengangguk setuju. "Aku akan menemui Alex terlebih dahulu." Lanjutnya buru buru pergi untuk menemui pria itu.
Beberapa menit berlalu. Pintu ruangan Alex terbuka lebar. Namun Ia tak mengalihkan pandangan dan tetap fokus pada beberapa berkas yang telah di periksa nya." Ada apa?" Tanya pria itu pada Bram yang berdiri mematung di depannya. "Ada seseorang yang ingin bertemu." jawab Bram dengan wajah yang begitu serius dan khawatir menjadi satu. "Siapa?" Alex kini menutup berkasnya. Ia memilih untuk menatap sahabatnya itu. "Alvin." Jawab Bram membuat Alex sedikit tersentak. "Biarkan dia masuk." Putusnya tanpa berfikir panjang. "Apa kau yakin?" Bram memastikan. Alex hanya mengangguk menanggapi sahabatnya.
Dua orang sedang duduk saling berhadapan di sebuah ruangan. Alex tau jika kedatangan Alvin bukanlah untuk membahas pekerjaan. Karena mereka tidak saling bekerjasama saat ini setelah proyek yang digarap kedua pemimpin perusahaan besar itu telah usai. "Tuan Alex. Sebelumnya saya berterimakasih kepada anda kepada anda kerena telah merawat Alesya dengan sangat baik." Kata Alvin membuat Alex terkejut. "Saya yakin anda begitu menyayangi dan menjaganya seperti putri anda sendiri. Saya sebenarnya sudah mengetahui sejak awal jika Al adalah adik kandung Saya yang hilang 16 tahun lalu. Al itu putri dari keluarga Ellison yang hilang." Lanjutnya. Alex menggeleng. Ia berusaha menetralkan air mukanya. Mengendalikan diri agar terlihat setenang mungkin meski perasaanya kacau. "Saya tidak tau maksud Tuan. Al adalah putri saya." Jawab Alex. "Anda tidak bisa mengelak lagi Tuan. Kami sudah mengantongi bukti. Jadi biarkan kami membawa Alesya pulang. Bantu kami untuk menjelaskan padanya." Alvin mendorong sebuah map di depan Alex. Pria itu meraihnya dan mulai membaca. Tubuh Alex menegang. Ia tak menyangka keluarga Ellison bergerak secepat ini. Namun Alex justru tersenyum membuat Alvin mengerutkan keningnya kebingungan. "Memang benar putriku adalah bagian dari keluarga Ellison. Dia bayi kecil yang hilang 16 tahun lalu dan aku yang merawatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tapi maaf. Saya tidak akan menyerahkan apa yang sudah menjadi milik Saya." Kata Alex Sembari berdiri dari duduknya. "Jika begitu. Jangan salahkan saya jika harus menggunakan cara yang tidak anda duga." Jawab Alvin. Alex menatap pemuda itu dengan tatapan tajam. Membuat suasana di ruangan begitu tegang seketika. "Coba saja. Anda akan membuatnya takut. Karna putriku hanya mengenal aku sebagai orang tuanya. Dan jika kalian berani berniat untuk merebutnya dan membuat Alesyaku terluka. Aku tidak segan untuk membuat kalian tidak bisa melihatnya lagi." Tuturnya seperti sebuah ancaman kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan.