
Seorang pria berbadan kekar tergopoh gopoh menghampiri Alex yang masih menunggu kabar. Pria itu menjelaskan jika Alesya sudah ditemukan dalam keadaan pingsan di kamar mandi night market. "Sekarang dimana?" Tanya Alex tidak sabaran. "Dalam perjalanan kemari Tuan. Kami juga sudah menelpon dokter untuk memeriksa kondisi Nona juga." Jelas pria itu membuat Alex mengangguk. Ia langsung berlari ke depan saat beberapa mobil tiba. Hati Alex terasa sakit melihat kondisi putrinya yang begitu pucat dengan luka di keningnya. Alex merengkuh tubuh dingin itu dan membawanya masuk ke dalam.
Dokter baru saja undur diri setelah memeriksa Alesya. Gadis itu diduga terpeleset hingga membuat kepalanya terbentur dan pingsan. Alex mendekap tubuh ramping itu dengan erat. Mengecup kening Al yang masih belum sadarkan diri berkali kali. Niat ingin mengajak gadis itu liburan malah membuat Alesya terluka. Alex sangat menyesal. Ia merasa bersalah karena secara tidak langsung telah menyakiti putrinya.
"Um..."Alesya terbangun. Hal pertama yang Ia lihat adalah wajah Daddynya. "Bagaimana keadaan kamu sayang? Ada yang sakit? Kamu mau sesuatu?" Tanya Alex bertubi tubi malah membuat Al tersenyum. "Pusing Dad." Lirihnya. Pria itu mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Maafkan Daddy lalai dalam menjaga kamu." Tuturnya dengan mata berkaca kaca. "No Dad. Ini bukan salah Daddy. Al yang salah karena kurang hati hati."Jawabnya. Alesya sangat memahami sang Daddy yang begitu melindunginya. "Tidur lagi ya. Ini masih jam satu. Atau kamu mau sesuatu?" Tanya Alex barangkali Al nya lapar atau haus. "Tidur saja." Jawab Alesya kemudian Alex mengangguk. "Daddy mau tidur sama kamu." Kata pria itu langsung membaringkan tubuhnya sembari memeluk putri tercinta.
Semua hidangan sudah tersaji di meja. Lengkap. Sesuai dengan keinginan Alesya. "Mau yang mana dulu?" Tanya Alex. "No Dad. Al makan sendiri saja. Daddy juga makan." Jawab gadis itu. "No Sayang. Daddy suapi." Jawabnya tak mau mengah. Al mengelap napas kemudian mengangguk. "Tangan Daddy kenapa?" Tanya Al baru menyadari tangan Daddynya yang terluka. "Tidak apa Sayang. Hanya luka kecil." Ia tersenyum karena senang Al memperhatikannya. "Luka karena apa? Pasti kan ada sebabnya." Al benar benar penasaran. "Luka karena latihan boxing. Bukan hal yang besar Sayang" Bohongnya padahal itu luka akibat Alex memukul tembok karena Alesya menghilang semalam. "Lain kali Daddy harus hati hati. Jangan terluka lagi. Al jadi khawatir." Tutur gadis itu membuat Alex seakan terbang. Rasa khawatir Alesya adalah rasa khawatir anak kepada ayahnya. Namun itu mampu membuat Alex melayang. "Iya Sayangku. Daddy janji nggak akan terluka lagi." Jawab Alex tersenyum bahagia.
Alesya sedang menonton film. Gadis itu menidurkan diri di sofa dengan nyaman. "Sayang." Alex menghampiri Al dan ikut duduk bergabung. Ia mengangkat kepala putrinya untuk diletakkan di paha. "Kamu nggak tidur siang?" Tanya Alex dan Alesya menggeleng pelan. "Belum ngantuk Dad." Jawab Al masih fokus dengan layar besar di depannya. "Daddy." Panggil Alesya kemudian menatap Pria yang itu. "Ya Sayang." Alex mengelus lembut kepala Al. "Daddy apa tidak ingin menikah lagi? Jika Daddy menikah kan akan selalu ada yang menemani." Kata Alesya membuat hati Alex terasa nyeri. "Tidak Sayang. Daddy sudah cukup dengan adanya kamu. Daddy tidak ingin menikah lagi. Bagi Daddy dengan bersama kamu saja sudah lengkap dan sempurna. Daddy tidak butuh yang lain. Kenapa tanya begitu?" Alex mencoba bersikap biasa saja. Alesya mengelap napas. Gadis itu menjelaskan jika tak selamanya mereka akan bersama. Pasti ada kalanya mereka akan dipisahkan oleh sesuatu entah itu jarak atau kesibukan. "Al ingin jika itu terjadi Daddy ada yang menemani." Lanjut Al membuat Daddynya menggeleng. "Memangnya kamu akan meninggalkan Daddy sayang? Kamu tega biarkan Daddy sendiri sehingga kamu suruh Daddy menikah?" Tanya pria itu dengan wajah sendu. Al mendudukkan diri. Ia merasa bersalah pada Daddynya. Pria itu telah merawatnya dengan susah payah dan berjuang sendiri. Al malah membuat hati Alex terluka dengan ucapan yang seakan ingin meninggalkannya. "Daddy bukan begitu. Al minta maaf." Gadis itu langsung memeluk Daddynya dengan erat. "Bukan maksud Al ingin meninggalkan Daddy. Al kira ada wanita yang ingin Daddy jadikan istri namun Daddy tidak berani karena menjaga perasaan Al. Oleh karena itu Al bilang seperti itu." Jelas gadis itu. "Tidak Sayang. Satu satunya di hati Daddy hanya kamu. Tidak ada yang lain. Cinta Daddy semuanya untuk kamu. Cukup kita berdua saja." Jawab Alex penuh makna namun Al hanya menganggap itu hanya sebagai ungkapan cinta Seorang Ayah pada putrinya.