Princess Alesya And The Possessive Daddy

Princess Alesya And The Possessive Daddy
Potong Rambut



"Capek ya?" Tanya Alex sembari duduk di samping istrinya. "Makasih." Ucap Al menerima segelas susu dingin dari sang suami. "Nggak capek kok. Mereka belajarnya cepet. Jadi cepat selesai." lanjutnya setelah menelan beberapa teguk susu. Alex menyandarkan tubuh istirnya perlahan. Ia memangku kedua kaki Al dan mulai memijitnya. "Nggak usah Mas. Aku nggak capek." Keluh wanita itu namun tidak di dengarkan suaminya. "Mas." Alex menoleh sembari tersenyum. "Diam Sayang. Kamu kok rewel banget." Tutur pria itu.


Alesya menatap suaminya. Pria itu begitu telaten memijit kakinya. Hamil memang mudah lelah terutama di bagian kaki. Meskipun perutnya tidak besar. Namun berjalan kesana kemari untuk menyiapkan keperluan suaminya dan memasak juga membuat kedua kakinya sering kram. "Mas. Kita keluar yuk." Ajaknya sembari menggenggam tangan Alex agar pria itu berhenti. "Kemana? Kamu sedang hamil. Nanti kecapean." Pria itu mencoba menolak takut terjadi sesuatu pada istrinya. "Lain kali saja ya." Lanjutnya dengan lembut berharap sang istri mengerti. "Iya. Lain kali saja." Jawab Alesya sembari mengangguk. "I love you." Ungkap Alex sembari memeluk istrinya. "I love you too Mas." Al membalas pelukan pria itu dengan hangat.


Alex membawa istrinya ke taman belakang untuk jalan jalan. Al mungkin jengah berada disini. Namun hanya ini yang bisa Ia lakukan untuk mengatasi rasa bosan sang Istri. "Duduk dulu ya." Alesya mengangguk setuju. Kemudian mengikuti langkah suaminya menuju bangku yang tak jauh dari tempat keduanya berdiri.


"Mas." Panggil Al sembari memeluk lengan kekar suaminya. "Ada apa hm? Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Alex lembut sembari mengelus rambut sang istri. "Tidak. Hanya ingin tanya sesuatu saja." Jawab Al membuat Alex tersenyum. "Mau tanya apa?" Alesya nampak mengamati sekitar. Taman yang begitu indah di tumbuhi dengan berbagai tanaman hias yang mampu memanjakan mata. "Kenapa Mas tidak cari perempuan yang lebih seumuran? Maksudku....Bukankah aku terlalu muda dan labil. Pria dewasa tentu saja menyukai perempuan yang dewasa juga." Lirih Al membuat Alex dengan cepat menggeleng. "Sudah aku katakan berulang kali. Hati itu tidak bisa dibohongi Sayang. Dari dulu memang adanya kamu dan sekarang sampai ke depannya juga akan selalu seperti itu." Ungkap Alex dari hati yang terdalam. "Apakah kamu meragukan aku?" Tanya Alex sembari menangkup wajah sang istri membuat wanita itu menatap matanya dalam dalam. "Tidak. Aku tidak meragukanmu sama sekali. Semua pengorbanan yang selama ini kamu lakukan telah membuktikan semuanya." Alex tersenyum. Hatinya begitu damai mendengar penuturan sang istri. "Terimakasih. Jangan tinggalkan aku. Teruslah bersamaku sampai kapanpun." Kata pria itu memohon dengan sungguh sungguh.


Al sudah duduk di kursi depan meja riasnya. "Mau yang bagaimana?" Tanya Alex sudah memegang sisir dan gunting di kedua tangannya. "Yang biasa saja. Sebahu." Jawab Al sambil tersenyum. Alex mulai mengerjakan tugasnya. Pria itu begitu berhati hati memotong rambut lembut sang istri. "Jangan tegang begitu Mas. Santai saja." Al menahan tawa mengamati tingkah suami dari cermin di depannya. "Harus hati hati. Nanti salah." Jawab pria itu tanpa mengalihkan fokusnya.


Setelah beberapa menit rambut Al sudah rapi. Wanita Hamit itu tampak semakin cantik dan fresh dengan rambut sebahunya. "Makasih Mas." Ucapnya sembari memeluk sang suami untuk mengapresiasi kerja keras pria itu. "Sama sama Sayang. Kamu duduk disana dulu. Aku bersihkan tempatnya." Kata Alex mengecup bibir Istrinya. "Biar aku saja." Kata Al mengambil sapu dari tangan suaminya kemudian segera membersihkan rambutnya yang berserakan.