
Semenjak kejadian itu Alex tak berhenti untuk meminta maaf. Namun keluarga Ellison menutup akses. Siapapun tak ada yang boleh berkunjung. Putri tercinta yang baru saja mereka temukan sekarang jiwanya telah terguncang akibat pria yang merawat sekaligus menghancurkannya. Alesya tak ingin menemui siapapun. Ia mengurung diri di kamar. Menjauhkan diri dari kehidupan luar. Bahkan dengan keluarganya sendiri. "Sayang. Mami mohon jangan begini." Wanita itu menangis lagi sembari berlutut di depan pintu kamar putrinya. Ia sebagai wanita pastinya juga tau begitu hancurnya hati Al. "Mi. Jangan seperti ini."Kata Papi sembari memegangi pundak istrinya. "Kita bicarakan dengan Alex. Vin. Suruh dia masuk." Titah sang kepala keluarga membuat putranya heran. "Tapi Pi..."kata pemuda itu dengan ekspresi kesulitan. "Kita perlu membicarakan sesuatu." Jawabnya langsung mendapat anggukan.
Di sisi lain Alesya tengah menangis di bawah guyuran shower. Ia merasa jijik pada tubuhnya sendiri. Jika saja boleh, saat ini dirinya ingin sekali mati. Hidup bagai tidak ada gunanya lagi. Semua impiannya hancur oleh orang yang Ia sayangi. Al tak menyangka Daddynya dengan tega melakukan itu. "Aku benci Daddy." Teriaknya sembari memukul dinding marmer hingga membuat tangannya terluka.
Alex hanya bisa diam dan menunduk mendapat tatapan tajam dari dua orang yang duduk di depannya. "Aku mencintainya." Kata Pria itu untuk yang ke ribuan kalinya semenjak kejadian itu. "Sejak kapan?" Tanya Papi setelah mengabaikan ungkapan Alex yang sebelumnya. "Sejak dia beranjak remaja." Jawabnya jujur. Papi menghela napas. "Jika ini bukan negara hukum, jika kau tidak berjasa bagi putriku dan jika saja aku tidak takut dosa. Aku sudah membunuhmu di kala itu juga." Katanya penuh penekanan. "Kau tau betapa sakitnya seorang ayah melihat putrinya terluka. Hatinya sangat hancur seakan tak mau hidup lagi. Begitu juga dengan Al. Dia sangat menderita. Apalagi yang melakukan adalah orang yang merawatnya sejak kecil." Tutur pria itu. "Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahinya. Biarkan kami bersama. Aku janji tidak akan menyakitinya. Aku akan perbaiki semua." Alex berlutut di depan mereka menyampaikan segala isi hatinya. "Kau sudah menyakitinya. Kau pikir dengan menikahi putriku akan membuat keadaan baik baik saja? tidak. hati yang terlanjur hancur tak akan bisa kau perbaiki." Jawab pria itu. "Pak." Seorang wanita paruh baya tergopoh gopoh menghampiri ketiganya. "Non Al tidak sadarkan diri." Lapornya dengan napas terengah engah.
Alesya tengah berbaring di ranjang dengan selang infus telah tertanam di tangannya. Gadis itu pingsan karena tidak mau makan apapun. Mami mengelus lembut wajah pucat Al yang tidak dilihatnya beberapa hari ini. Hati Alex teriris menyaksikan pemandangan di depannya. Ia menyadari jika perbuatannya begitu kejam. Keinginan memiliki Al seutuhnya membuat pria itu buta. Buta akan segala dampak yang terjadi kedepannya. "Um...." Al mulai membuka mata. "Sayang." Panggil Mami Al mencoba tegar. "Sayang." Alex mendekat pada gadis itu beberapa langkah. "Keluar." Katanya sembari mendudukkan diri. "Aku minta maaf. Aku mohon jangan seperti ini. Aku yang salah. Aku minta maaf." Lirinya kemudian duduk di samping Alesya. "Keluar. Jahat. Kau menghancurkan ku." Alesya menangis dengan kencang langsung di peluk Alex. "Aku minta maaf." Alesya tidak menjawab dan terus menangis dalam dekapan pria itu.
Alex memasuki kamar Al yang kini telah menjadi istrinya. Ia meletakkan nampan berisi makan malam untuk sang istri yang dibawanya di atas nakas. Wanita itu tampak berbaring meringkuk di ranjang. Air mata Alex menetes lagi menetes lagi mengamati wajah Al yang begitu pucat. Ia menyentuh punggung tangan Alesya yang nampak memerah. Alex cepat cepat menghapus air matanya ketika melihat Alesya bergerak dan ikut berbaring di samping Al kemudian memeluk dengan hangat.
Al terbangun dan menangis di tegah malam. "Sayang." Alex cepat cepat memeluk istrinya. "Maafkan aku. Kita mulai dari awal. Aku sangat mencintaimu. Aku akan perbaiki semuanya. Aku mohon. Aku minta maaf." Kata pria itu sembari mengusap punggung Alesya dengan lembut.