
"Begini, apa Cilla sudah memberi tahu apa penyakit yang ada di tubuhnya?" Tanya dokter Alex.
Tama mengernyitkan dahi dan Lestari masih tidak mengerti apa yang di katakan dokter yang ada di depannya ini.
"Maksud dokter,Cilla mempunyai penyakit yang kita tidak tahu?" Tanya Tama.
"Iya,dengan berat hati,saya memberitahu ini kepada kalian orang tua Cilla. Anak ibu dan bapak mengidap penyakit leukimia atau yang sering di sebut kanker darah, ini bukan lagi stadium satu maupun dua,tapi ini sudah memasuki stadium empat.
Stadium empat adalah yang paling berbahaya karena tahap terakhir pembengkakan kanker. Tingkat keping darah akan menurun drastis. di tahap ini kanker akan mempengaruhi paru-paru dan anemia akan lebih akut. Tahap ini tahap yang paling beresiko." Jelas dokter Alex.
Tama terkejut karena Putri satu satunya yang ia punya ternyata menyimpan rahasia tentang penyakitnya yang mematikan,dan lestari kini kembali histeris setelah mendengar penjelasan dokter Alex.
"Apa ada cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan anak saya?" Tanya Tama lagi.
Dokter Alex menghembuskan nafas nya, "kecil harapan untuk penderita kanker darah stadium akhir ini, mungkin kita bisa melakukan kemoterapi untuk memperlambat penyebaran kanker." Jawab dokter Alex.
"Saya mohon lakukan apa saja untuk Cilla,saya mohon dok!" Kali ini Lestari bersuara untuk memohon menyembuhkan Putri nya.
"Ya lakukan pengobatan apa saja yang perlu untuk anak saya!" Ucap Tama sambil merangkul pundak Cilla menenangkan istrinya.
"Baiklah,saya akan melakukan kemoterapi kepada Cilla. Tapi ibu dan bapak tahu pasien yang melakukan kemoterapi akan mendapatkan efek samping, seperti rambut nya akan rontok,nyeri, kehilangan nafsu makan dan sebagainya." Tanya dokter Alex meyakinkan.
"Lakukan apa saja dok! Saya mohon!" Kata Tama tegas.
"Baiklah secepatnya saya akan melakukan kemoterapi kepada cilla." Ucap dokter Alex.
"Terimakasih" ucap Tama.
...
Setelah berbincang dengan dokter Alex tentang penyakit yang di derita oleh putri nya, Tama dan lestari masuk kedalam ruangan Cilla.
Lestari duduk di kursi samping bankar putrinya yang masih belum sadar, melihat tangan putrinya di infus,alat bantu pernafasan,dan mukanya yang pucat.
"Cilla,bangun sayang ini bunda" lirih lestari sambil menahan tangisnya
Tama mengusap bahu lestari menenangkan istrinya. Hati nya sakit melihat dua wanita yang di cintai nya merasakan sakit, putrinya yang sedang melawan rasa sakit dan pasti lestari pun merasakan hal yang sama.
"Ayah,apa Cilla bakal sembuh?" Tanya lestari masih mengusap tangan Cilla lembut.
Tama mencium kening istrinya,"pasti Bun,Cilla anak yang kuat,sama kaya bunda" jawab Tama sambil menenangkan istrinya.
"Bunda makan dulu ya,tadi kita ga sempet makan malam" ucap Tama.
"Gamau,bunda mau nungguin Cilla sampai bangun" kata lestari.
"Bun,kalo bunda ga makan nanti sakit,dan kalo Cilla bangun terus liat bunda sakit,pasti Cilla juga bakal sakit liat bunda nya" ucap Tama membujuk
Benar apa kata suaminya, lestari tak boleh egois. Lestari menganggukkan kepalanya, "baiklah" ucap lestari.
Mereka berdua keluar,menuju kantin rumah sakit untuk makan malam.
...
Malam berganti pagi. Hari ini Gema sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah,bukan sekolah sih yang membuat nya semangat,tapi ia ingin bertemu gadisnya,ia akan menjemput gadisnya dan berangkat bersama ke sekolah.
Gema mengendarai motor nya kearah rumah Cilla, tepat pukul 6.15 motor Gema terparkir di depan gerbang rumah gadisnya.
Melepaskan helm dan turun dari motornya, Gema menghampiri mang Udin yang sedang menyuci mobil keluarga Cilla.
"Pagi mang, Cilla ada?" Tanya Gema sopan. Gema di ajarkan sopan santun oleh mami nya, walaupun ia berandalan tetapi sopan santun harus tetap ia lakukan kepada yang lebih tua.
"Pagi den. Aden gatau kalo neng Cilla tuh semalam pingsan,terus di bawa ke rumah sakit sana tuan dan nyonya" ucap mang Udin.
Gema yang mendengar ucapan mang Udin, tentang Cilla yang masuk rumah sakit pun terkejut. Semangat yang tadi luntur seketika mendengar Princess nya jatuh sakit.
"Mang Udin tau dimana rumah sakit nya?" Tanya Gema.
"Rumah sakit keluarga kita den" Jawab mang Udin.
"Makasih mang, assalamualaikum!" Ucap Gema sambil menaiki motornya,dan langsung menuju rumah sakit dimana tempat gadisnya di rawat itu.
Jalanan kota Bandung yang sedang macet membuat Gema geram,mengumpati dan menyumpah serapah kepada macet di pagi hari.
Gema memutuskan untuk menyalip kendaraan dan melanggar lampu merah dengan mengendarai motor nya seperti orang kesetanan. Persetan dengan macet,yang ada di otaknya sekarang hanya gadisnya,Cilla.
Banyak kendaraan yang mengklakson gema untuk tidak menyalip,tapi Gema seolah menulikan pendengaran nya.
Setelah melewati jalanan yang macet,dan banyak melanggar peraturan lalu lintas, akhirnya Gema pun sampai di rumah sakit.
Gema berlari kearah resepsionis, bertanya pada suster yang sedang berjaga.
"Ada nama pasien bernama Pricilla Ananda Putri?" Tanya Gema
"Tunggu sebentar" ucap suster itu sambil mengecek pasien yang ada di rumah sakit.
"Pasien bernama Pricilla Ananda Putri ada di ruang VIP di lantai tiga,kamar melati nomor 14" jawab suster itu.
Tanpa mengucapkan terima kasih,gema langsung menuju lift untuk ke kamar Cilla.
Kamar Cilla ada di depannya, dengan langkah pelan Gema memasuki ruangan bercat putih.
Lestari yang mendengar suara pintu terbuka,ia menengok kebelakang untuk mengetahui siapa yang membuka pintu.
"Gema?" Ucap lestari.
Gema menghampiri lestari dan menyalimi tangan lestari.
"Assalamualaikum bunda" ucap Gema.
"Waalaiakum sallam,kamu gak sekolah?" Tanya Lestari.
"Gema tadi udah mau berangkat,tapi sebelum berangkat gema mau jemput Cilla buat berangkat bareng,tapi kata mang Udin,Cilla masuk rumah sakit. Cilla sakit apa Bun?" Tanya Gema.
Flashback on
Cilla sebenarnya sudah sadar sejak semalam, lestari dan Tama telah selesai makan malam, ketika ia masuk ke ruangan,Cilla sudah sadar.
"Sayang? Kamu udah sadar? Apa yang sakit? Kamu mau apa?" Tanya lestari khawatir.
Cilla menggeleng, "Cilla cuma haus bunda" jawab Cilla dengan suara parau.
"Ini sayang,bunda bantu kamu duduk" kata lestari sambil membantu Cilla duduk.
"Makasih bun" ucap cilla.
Cilla menatap bunda dan ayahnya dengan sendu.
"Ayah sama bunda udah tau penyakit aku ya?" Tanya Cilla.
Lestari mengangguk dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya, Tama pun merangkul lestari.
"Iya sayang,kenapa kamu ga ngasih tau ayah dari dulu sayang?" Ucap Tama.
Cilla menundukan kepala nya, memainkan jarinya,ia takut jika bunda dan ayahnya marah.
"Maaf ayah,Cilla gamau nambah beban ayah sama bunda,gamau ngerepotin bunda sama ayah. Kalo Cilla bilang pasti ayah sama bunda ke ganggu kerjanya" jawaban Cilla membuat lestari menangis.
Lestari memeluk Cilla, "kamu gapernah ngerepotin bunda sayang,kamu juga ga bikin beban ayah dan bunda berat. Kita sayang sama kamu Cilla" ucap bunda.
Cilla menangis,ia sakit melihat bundanya yang menangis karena nya.
Cilla melepaskan pelukannya, "Cilla bakal di kemoterapi ya Bun,ya yah?" Tanya Cilla kepada ayaah dan bundanya.
Mereka berdua mengangguk, "iya sayang" jawab Tama.
Cilla hanya tersenyum miris.
"Bunda,boleh Cilla minta sesuatu?" Tanya Cilla.
"Katakan sayang" jawab lestari.
"Cilla mohon jangan kasih tau Gema soal penyakitnya Cilla ya bunda" ucap Cilla.
Lestari hanya mengangguk tanda setuju,apapun demi Cilla ia akan turuti.
Flashback off
...
Gema hanya memandang tanda ia percaya dengan apa yang dikatakan bunda Cilla.
"Boleh Gema liat Cilla dari deket bun?" Tanya Gema.
"Boleh,yaudah kalo gitu bunda pulang dulu buat ambil baju salin Cilla,bunda titip Cilla sama kamu ya gema" jawab bunda sembari memberikan gema suruhan
"Iya Bun,gema bakal jagain Cilla" ucap Gema.
"Assalamualaikum" ucap lestari setelah gema menyalimi tangan nya.
"Waalaikum sallam Bun"
Setelah mendekat kearah bankar Cilla dan duduk di kursi, Gema mengambil tangan Cilla yang terbebas dari infus,mengelus nya dengan sayang.
"Selamat pagi my princess, apa kabar? Cepet bangun aku nungguin" ucap Gema dengan lirih.
Merasa ada yang sedang berbicara,Cilla membuka matanya,melihat siapa yang mengusap tangannya, Cilla membulatkan matanya terkejut.
"Ge,,Gema?" Ucap Cilla.
"Hai? Ada yang sakit? Kamu sakit apa?" Tanya gema.
Walaupun Cilla sudah mendengar ucapan gema yang memakai kata aku-kamu. Tapi Cilla masih belum terbiasa dengan gema yang lebih lembut.
"Cilla gapapa kok,kamu kenapa gak sekolah,ini udah jam tujuh lewat loh" ucap Cilla sambil melirik jam yang ada di ruangan.
"Aku mau nunggu kamu disini aja" kata Gema.
"Kamu harus sekolah gema" titah Cilla.
Gema menggelengkan kepalanya, "gamau,aku mau jagain kamu,pokonya aku bakal disini!" Kekeuh Gema.
Cilla akhirnya menganggukan kepala, "yaudah terserah kamu" jawab Cilla.
"Kamu bener cuma kecapean?" Tanya gema.
Cilla sebenarnya gugup,tapi ia harus melakukan kebohongan, "iya" jawab Cilla.
Gema mengelus kepala Cilla, "lain kali jaga kesehatan,jangan telat makan,terus jangan banyak pikiran,apalagi mikirin Gema yang handsome ini" ucap gema sambil terkekeh.
Cilla yang mendengar ucapan kepedean Gema,ia terkekeh, "ih geer,siapa juga yang mikirin gema" kata Cilla.
"Ngaku aja,bohong dosa loh" ucap Gema.
"Apaan sih gema" kata Cilla sambil memukul lengan Gema.
"Yaudah iya,aku ngalah" kata Gema sambil memegang tangan Cilla yang tadi Cilla pakai untuk memukul nya.
"Get well soon my babe!" Ucap gema lembut.
Cilla di buat blushing,ia senang dengan gema yang perhatian,gema yang lembut dan gema yang sayang kepadanya.
Cilla hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk membuat Gema selalu bahagia walaupun tanpanya.
"I love u Gema." Batin Cilla.