
Deretan gaun-gaun cantik tertata rapi di butik berkelas milik seorang desainer terkenal yang Dirga kenal hingga kedua mata Kanaya tak dapat berpaling untuk melihat gaun-gaun pernikahan yang ada di sekitarnya.
Kemudian seorang wanita berkelas berjalan menghampiri Dirga dan Kanaya. “Rupanya anda datang juga di butik saya pak Dirga”
“Hay Miss Sintia lama tidak bertemu dan bagaimana kabar anda sekarang?”
“Yah tentu. saya baik sekarang. Lalu apa ini calon istri anda?” wanita paruh baya yang sebagian rambutnya beruban melirik pada wanita yang ada di samping client pentingnya.
“Yah tentu miss dia calon istri saja”, ucap Dirga seraya menatap Kanaya yang berada di sampingnya. Sedangkan Kanaya hanya tersenyum saja ketika melihat miss Sintia melihat lekat dirinya.
“Apa dia calon istri kedua anda setelah pernikahan anda gagal dengan Dokter Olivia yang terkenal itu?”
Dirga cukup mengangguk saja membenarkan ucapan miss Sintia.
“Saya benar-benar tidak menyangkah jika dokter Olivia itu sudah memiliki kekasih dan rupanya ia hanya memanfaatkan pak Dirga saja. tapi jika di lihat-lihat calon istri kedua mu ini begitu cantik dan putih bening seperti wanita asia wah kau pasti sangat bangga memilikinya pak Dirga”,Miss Sintia memuji Kanaya sehingga membuat Kanaya sungguh tersipu malu.
“Tidak anda salah besar,sebenarnya saya tidak terlalu seperti yang anda lihat dan masih banyak sekali wanita yang lebih cantik dari saya”, Kata Kanaya yang berani membuka pembicaraan dengan miss sintia.
Kemudian Dirga memperkeruh suasana agar miss Sintia untuk segera mencari gaun yang pas untuk Kanaya dan walaupun jujur sebenarnya pujian yang miss Sintia berikan pada Kanaya memang betul apa adanya hanya saja Dirga malu untuk Menimpalinya.
“Oh maaf yah pak Dirga saya terlalu banyak berbicara, dan memangnya gaun seperti apa yang pak Dirga ingin kan?”
“Tolong carikan gaun pernikahan yang mewah, berkelas dan tidak terlalu ketat di perutnya”
“Tapi pak semua gaun pernikahan rata-rata ketat di bagian perut, emangnya apa?”, Miss Sintia melirik perut Kanaya lalu ia tersenyum simpul.“Oh baiklah saya mengerti sekarang kenapa pak Dirga tak menginginkan nona Kanaya untuk memakai gaun yang ketat tapi nanti saya akan carikan gaun yang tidak terlalu ketat dan tentunya akan terlihat elegant ketika di kenakan”
“Baiklah itulah yang saya suka dengan perlakuan anda miss Sintia”, Kata Dirga memuji miss Sintia.
“Baiklah kalau begitu mari nona Kanaya ikuti saya kita akan menjajalkan gaun yang benar-benar cocok untuk nona”,
Kanaya tersenyum, menuruti perintah miss Sintia lalu mengikuti langkah wanita itu.
“berapa lama saya harus menunggu?”Kata Dirga saat Kanaya dan Miss Sintia berjalan 2 langkah menjauhinya.
“Sementara pak Dirga bisa mengikuti karyawan saya untuk berganti pakaian pengantin pria”Kata miss Sintia.
“Baiklah lakukanlah sekarang”, kata Dirga mantap.
****************
Mauryn terduduk lesuh di kursi kantin usai melakukan olahraga pada jam 9 pagi sementara kedua temannya Milka dan Zava juga ikut mengiringi langkahnya lalu kemudian mereka berdua pun juga duduk bersama Mauryn.
“Kalian ada yang mau pesen es teh gak?” Tanya Milka yang mulai membuka suara.
“Aku mau air mineral aja yang gak dingin,”Jawab Mauryn yang kini kembali tiduran dengan menempelkan tubuhnya dengan posisi kepala di atas lengan.
“Lemes banget sih Rin padahal kita hanya olahraga sebentar loh”, timpal Zava.
“Aku lemes karena lagi pms juga Zav,” Mauryn menjawab dengan tak bersemangat.
Milka menyenggol lengan Zava ia pun dengan lirih berkata pelan. “Zav bisa gak sih kamu gak usah bahas itu lagi bikin Mauryn tambah sedih saja!”
“Sudahlah tidak usah berbisik bahkan aku tau apa yang sedang kalian perbincangan”, Ucap Mauryn yang kini mengubah posisi tiduranya menjadi duduk. “Itu sih aku saja yang terlalu bodoh! Yah sudah kalian mau pesan apa biar aku saja yang pesankan”Sahut Mauryn yang telah berdiri tegak.
“Yaudah kita temenin yah” Sahut Milka.
“Tidak usah biar aku saja”
“Yaudah aku mau pesen kebab aja, sama es teh ”Kata Milka.
“Yaudah aku mau spageti aja kalau begitu sama es teh” Kata Zava.
“Yaudah aku ke kantin dulu yah kalau begitu kalian tunggu di sini saja”, Mauryn berjalan menuju kantin yang tak jauh dari kursi yang teman-temanya duduki, setelah sampai di kantin ia langsung memesan makanan yang di pesan oleh kedua temannya namun yang terakhir adalah pesanannya yang jauh berbeda dari kedua temannya.
“Salad buahnya 1 yah Bu...
Bukan hanya Mauryn yang mengatakan pesanannya itu tapi ada orang lain juga memesan makanan yang sama dengan Mauryn. Sontak Mauryn pun membalikkan tubuhnya pandangan pertama adalah tubuh bidang milik seseorang setelah di telusuri terlalu lama sejenak Mauryn membisu.
“Yah sayang banget salad buahnya hanya tersisa satu..”Sahut Ibu kantin tersebut pada kedua orang yang memesan makanan secara bersamaan.
“Yasudah Bu aku tidak jadi memesan salad kalau begitu aku ingin yang lain saja roti fizza itu saja”, Tunjuk Kenzo pada deretan roti yang terjajar rapi di dekat oven.
“Tidak Bu tidak apa-apa jika dia mau memesan salad buah itu maka tidak masalah berikan pada dia saja”
“Tidak masalah kamu yang pertama memesan jadi itu milik mu”
Mauryn benar-benar tidak tahan berada di situasi saat ini terlebih ia harus bertemu lagi dengan Kenzo padahal ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya.
“Bu pesanan aku tadi kebab yang spesial, spageti sama bakso larva isi ayam suir, dua es teh, dan satu air mineral yang tidak dingin”
Kenzo memutar bola matanya menatap Mauryn yang benar-benar sudah berubah semenjak dua hari ini bahkan sebelumnya Mauryn selalu mengganggunya serta membuatnya begitu kesal akan sikap kekanak-kanakan Mauryn. Tapi sekarang sosok Mauryn yang terlihat ceria tak ada lagi di matanya.
“Kak, kalau dia tidak mau salad buahnya tidak apa-apa untuk aku saja”Sahut Rima yang tiba-tiba muncul.
Mauryn mendengus pelan melihat sikap Rima yang terlalu manja dengan Kenzo sehingga sekarang ia dapat melihat jika Rima tenga memeluk langan Kenzo. Bahkan lama-lama di sini sungguh membuat mauryn muak.
“Bu pesanan aku tadi nanti antarkan saja di meja nomor 5 ”
“Baik mbak nanti akan ibu antarkan”
"Yaudah aku tunggu yah Bu”
Kenzo melirik Mauryn yang mulai berjalan menjauh dengan pandangan yang tak dapat di artikan.
“Bagaimana kak trik aku berhasil kan, buktinya dia kembali jauhin kakak”