
Olivia sudah di anggap sebagai anak kandung sendiri oleh Sabrina sehingga usai selesai pesta lamaran ia sengaja menyuruh Olivia untuk menginap di rumah nya.
Di meja makan semua keluarga Ganesa tenga berkumpul untuk melakukan sarapan pagi di tambah anggota satu lagi yaitu Olivia bahkan
dentingan suara piring dan sendok berbunyi menemanin suasana sarapan pagi hari mereka.
"Liv, kenapa makannya sedikit sekali"
"Tidak masalah tan, aku makan sedikit di pagi hari itu sudah menjadi kebiasaan" Sahut Olivia sembari mengelap-elap bibirnya dengan tissu.
"Wajar saja yah tubuh kamu bagus dan langsing soalnya pola makan kamu terjaga"
Mauryn yang tenga mengunyah telor dadar segera meminum segelas susu sehingga bekas susu itu masih tersisa di atas mulutnya.
"Ma, bukan hanya kak Olivia yang langsing, aku juga langsing kok"
"Kamu hanya langsing saja, tapi kamu pendek tidak seperti Olivia yang tinggi"
"Hoooh mama selalu saja memuji orang lain dan menghina anaknya sendiri"
"Hussstt, Mauryn diam! jangan cari masalah"
"Siapa yang mencari masalah kak!"
"Dirga hari ini kamu berangkat sama Olivia yah kan tempat Olivia bekerja satu arah dengan perusahaan"
"Iya!" Singkat jelas dan padat."Aku sudah selesai!"Sahut Dirga yang mulai bangkit.
"Yasudah Oliv tunggu apa lagi ayo kamu ikuti Dirga!" Perintah Sabrina.
"Kalau begitu aku pamit dulu yah tante, omma, Mauryn"
Olivia berlari kecil mengejar Dirga yang sudah separuh jalan menjauhinya.
"Lihat lah kakak, Omma, antara niat atau tidak niat mengantar calon istri nya hehehe"Celetuk Mauryn.
"Iyaa kalau Dirga cinta mungkin mau Olivia makan selama apapun pasti akan di tunggu hingga Olivia selesai makan hihihi"
"Tapi aku merasa Kak Dirga tidak mencintai kak Olivia Omma..."
"Kalian berdua ini berhentilah menggosip yang tidak-tidak! Mauryn ingat kamu harus pergi kesekolah kalau mengomel terus pasti akan kesiangan!"
"Iya-iya ma, ini juga hampir selesai kok"
...****************...
"Katakan berapa harga depe yang harus saya bayar?" Sahut Galang sembari mengeluarkan Dompet bermerek channel di dalam saku jas kerjanya.
"Untuk Depe nya terserah mas Galang saja,"
"Mas ini mah bukan 20 juta tapi 30 juta"
"10 jutanya adalah bonus untuk kenerja pak Jaya selama ini"
"Apa! a-aapa mas galang seriusan memberi bonus pada saya 10 juta?"
"Di dalam cek itu sudah tertulis! jadi saya tidak mungkin bercanda"
"Yaampun mas galang ini baik sekali sih! terimakasih yah Mas, pokoknya mobil mas Galang ini akan saya betulkan serapi, se kinclong seperti semula"
"Yah baiklah saya suka semangat bekerja mu"
Di depan halaman bengkel mobil ada Mobil Bima yang mengklakson memanggil nama Galang.
"Teman saya sudah datang kalau begitu saya tinggal dulu pak Jaya,"
"Oh iya mas Galang Hati-hati yah"
Ketika mobil yang di tumpangan Bima dan Galang menjauh, mobil lain pun seketika memasuki Area bengkel.
Saat mobil berhenti lalu keluarlah dua wanita di antara dua wanita itu ada yang pak Jaya kenal.
"Loh Ca, mobil kamu kenapa?"
"Biasa om insiden," Sahut Aca dengan santainya ia pun sembari duduk di kursi yang tersedia di ikuti Kanaya.
"Insiden apa Ca? atau jangan jangan kamu habis nabrak orang yah?"
"Ih Om, apa-apaan sih. aku tuh gak nabrak orang seperti yang om pikir. hanya saja kemarin malam aku gak sengaja nabrak mobil orang dari belakang...
Aca berhenti bicara saat kedua matanya melihat pada mobil yang ia rasa kenal. Mobil bewarna orens dengan kerusakan yang sama.
"Om Jaya. kok bisa mobil ini ada di sini!"
"Yaiya bisalah orang dia langganan di bengkel om!"
"Kenapa Ca, apa kamu kenal pemilik mobil ini?"
"Iya Nay, jelas aku kenal orang jelas mobil ini yang gak sengaja aku tabrak"
"Ha! maksud kamu, kamu nabrak mobilnya pak Galang!"
"Oh jadi orang sombong itu namanya Galang! dan om emangnya berapa sih nominal harga kerusakan mobil ini?"
"Hanya 20 juta,"
Aca kembali membulatkan matanya rupanya pria itu berbohong padanya. mengaku 150 juta taunya hanya 20 juta untung saja Aca bukan lah tipe wanita yang mudah di tipu.