
“Nay Aku berangkat kerja dulu yah, kamu hati-hati kalau gak ada orang di rumah mending kamu kunciin pintu semuanya”
“Iya Ca Aku paham dan tanpa kamu suruh Aku sudah pernah melakukan semuanya di saat Kenzo tidak ada dirumah.”
“Yaudah bagus”
“Kak Aku juga berangkat dulu yah kalau ada apa-apa bilang saja nanti,”Sahut Kenzo yang baru saja mengeluarkan motor kesayangannya keluar.
“loh Ken emangnya kamu gak bareng kakak saja naik mobil”
“Tidak kak, aku pakai motor saja soalnya biar lebih mudah kalau mau ke mana-mana”
“Oh yasudah jika itu mau kamu kakak gak bisa maksa dan yang terpenting kakak sudah menawarkan”
“Udah-udah ini sudah jam berapa terutama kamu Ken, harus berangkat ke sekolah sekarang kan”
“Kamu betul Nay, kita berangkat dulu yah. bye Nay hati-hati di rumah yah”Aca melambai kan tangan dan pada akhirnya wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
Kanaya menarik kedua sudut bibirnya memandangi dua kendaraan yang sudah menjauh dari pantauanya namun seketika senyuman itu memudar kembali seperti sedia kala. Dengan perasaan sedih ia berbalik masuk ke rumah sembari memegang perut.
Usai mengunci pintu rumah Kanaya pun kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat dan pada saat hendak membaringkan tubuh pintu di ruang tamu berbunyi nyaring seperti di ketuk seseorang.
'Itu pasti Kenzo ia kembali lagi karena ingin mengambil gitar nya yang tertinggal di ruang tamu'
Dari awal Kanaya berpikir yang mengetuk pintu adalah Kenzo namun saat pintu rumahnya resmi terbuka Kanaya membulatkan kedua matanya ketika tau siapa yang datang.
Dengan perasaan marah bercampur kesal Kanaya hendak menutup pintu itu kembali namun seseorang itu menahannya dengan tangan.
“Apa yang kamu lakukan, pergilah aku tidak mempunyai urusan apapun dengan mu lagi”
“Aku hanya ingin memastikan jika janin yang mu kandung itu adalah darah daging ku atau bukan!”
“Pergilah jangan perdulikan kandungan ku ini karena yang jelas hanya kamu yang melakukannya itu pada ku bahkan sekarang aku bisa menjaganya sendiri hingga bayi ini lahir’’Mengalir deras air mata Kanaya di saat dirinya mengatakan ini. Sedangkan tenaganya semakin melemah saat Dirga menahan serta mendorong pintu yang semaksimal mungkin Kanaya tahan.
“Aku tidak perduli apa yang kamu ucapkan dan intinya aku hanya ingin kamu ikut aku kerumah sakit untuk membuktikan itu darah daging ku atau bukan!”
“Terus jika ini adalah darah daging mu, apa yang akan kau lakukan pada ku ha! atau mungkin kamu harus menyuruh ku untuk menggugurkannya ha!”
“Dasar gila apa kau pikir aku sekejam itu ha!”Dirga menjadi emosi lantaran pikiran Kanaya Sampai-sampai Kanaya tak bisa lagi menahan tangannya untuk menahan pintu.Kanaya semakin menangis lebih deras dari yang sebelumnya.
Entah mengapa hati Dirga semakin sakit ketika melihat wanita yang dahulu pernah ia cintai menangis tersedu-sedu.
“Dengar aku hanya ingin kamu untuk melakukan tas DNA hanya itu saja...”Dirga merendahkan amarahnya dan ia mulai berbicara dengan nada pelan.
...****************...
“Kenzo....ken... tunggu.... ”Mauryn berlari mengejar Kenzo yang baru saja selesai melakukan olahraga saat istirahat tiba.
Ujung-ujungnya Kenzo pun berhenti, ia berbalik pada Mauryn yang telah mengikutinya hingga di Koridor perpustakaan.
“Aku mohon berhentilah untuk mengejar ku, karena aku tidak suka itu”
“Ken harusnya kamu tau yang salah itu bukan aku tapi kakak aku dan kamu tidak perlu dong ngehindari aku kayak gini”
“Lalu apa kamu tidak sadar apa yang kakak mu perbuat pada kak Kanaya. Cukup Rin aku mohon berhenti untuk menguji mental anak yatim piatu seperti kami!”Kenzo hendak pergi kembali tapi Mauryn menahan tangannya agar tidak pergi.
“Kalau begitu akan ku buat kak Dirga untuk menikahi Kak Kanaya, aku janji ken aku janji”
“Menikah.wow apa sehebat itu pikiran kamu! tidak tidak akan aku biarkan kak Kanaya menikah dengan kakak mu karena aku tidak ingin membuat kak Kanaya semakin menderita”Kenzo menghentakan tangan Mauryn lalu ia pun kembali berjalan meninggalkan gadis itu sendirian.
...****************...
Kanaya berbaring di ranjang dengan kondisi perutnya yang terbuka sementara dokter tengah menempelkan alat USG di perutnya.
“Lihat Bu, pak ukuran janinnya masih terlihat kecil sakali mungkin 4 minggu lagi janinnya akan mulai membentuk”
Dengan perasaan jiwa yang berdesir Dirga memandangi janin kecil itu di layar USG sementara Kanaya tersenyum bahagia ketika melihatnya.
“Dari kondisi seperti ini ibu harus benar-benar mengistirahatkan diri kalau ada pekerjaan yah lebih baik di tunda dulu, jangan sering kecapean, terus makan makanan yang bergizi”
“Tentu dong saya akan menjaganya dengan sangat baik”Kanaya berucap sembari meneteskan air mata. Bahkan Dirga tanpa sepengetahuan Kanaya ia ikutan tersenyum memandangi Kanaya.
beberapa menit menunggu di ruangan Dokter pada akhirnya hasil tes DNA telah selesai di buat dan kini kertas itu sudah berada di tangan Dirga.
“Bagaimana apa hasilnya....”
“Kamu benar ternyata janin itu adalah darah daging ku sendiri”
“Aku sudah menduganya, aku tidak mungkin berbohong.sekarang tidak masalah jangan perdulikan aku, dan aku sama sekali tak akan menuntut mu atas kehamilan ini, aku bisa mengurusnya sendiri”
“Aku sangat membenci kamu dan aku tidak akan benci pada janin yang kau kandung itu dan bagaimana pun aku adalah ayah kandungnya”
“Jadi apa mau mu,”
“Aku akan menikahi mu karena aku tidak ingin bayi ku di rawat oleh seorang wanita yang hidupnya serba berkecukupan dan aku ingin bayi ku terawat dengan benar ketika berada di rumah besar ku”