
Rasa sakit yang di alami Kanaya nyatanya juga berpihak kepada sahabatnya Aca yang merasa tidak terima sahabatnya di hamilin oleh Dirga Bahkan sekarang wanita cantik berkuncir satu itu berdiri tepat di depan markas tempat Dirga dan teman-temannya berkumpul.
“Dirga...!!di mana kamu...!!”Teriak Aca sembari meneriaki nama Dirga saat sudah masuk ke dalam markas. lantas sekarang Bayu yang tenga membetulkan wifi di teras markas juga ikut Terkejut lantaran melihat orang asing masuk ke Markas mereka.
“Di mana teman kalian Dirga...!!”
“Tunggu emangnya kamu siapa? kok bisa masuk bukannya di luar ada penjaganya”
“Halah aku tidak perduli sekarang yang ingin aku tanya di mana Dirga teman kalian!!”Aca semakin meninggikan suaranya membuat Bima dan tentunya Galang datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini,?Tanya Galang.
Kedua mata Aca membulat ketika mengetahui jika salah satu dari dua pria itu ada yang ia kenal. untuk tersaat Aca terdiam.
“Loh bukanya kamu...’’Tutur Galang yang sudah menyadari keberadaan Aca.“kamu ngapain berada di sini!”
“Terus kamu ngapain juga di sini”Tanya Aca yang juga ingin tahu kenapa pria menyebalkan ini ada Markas Dirga.
“Emangnya salah jika Aku berada di Markas milik ku sendiri”Ucap Galang sembari berkacak pinggang.Bayu dan Bima saling bertukar pandangan bergantian melihat Wanita itu dan juga Galang.
“Oh okey jadi dugaan sudah jelas ternyata kamu adalah temannya pria brensek yang sudah menghamili teman ku Kanaya”
Ketiga itu juga syok ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Aca.
“Hey, apa maksud mu Dirga?”Kata Bima memastikan.
"iya Dirga."
“ikut aku,’’
Galang maju selangkah menarik lengan Aca untuk menjauhi kedua temannya. Aca berontak di saat Galang menariknya.
“Ih apaan sih, lepasin gak”
"Katakan jika semua omongan mu itu tidak benar”Kata Galang di saat ia berhasil menyeret Aca di ruangan luar.
“Itu semua benar apa adanya itu real dan nyata!’ dan aku hanya ingin teman mu bertanggung jawab atas apa yang telah ia buat kepada sahabat aku!’’
“Jadi apa intinya kau yakin jika anak yang di kandung sahabat mu itu adalah anak dari sahabat aku Dirga.”
“Gila. kamu pikir sahabat aku itu wanita yang tidak benar apa! ingat hanya Dirga yang meniduri nya pada malam itu”
Galang terdiam ia berpikir sejenak, bahkan ia ingat jika waktu itu Dirga pernah bercerita jika dia salah meniduri wanita yang merupakan bekas pacarnya.
“Itu mustahil, Dirga tak mungkin bertanggung jawab karena besok lusa dia akan menikah terlebih sahabat mu itu merupakan orang yang paling dia benci”
Aca mendengus nafas berat, wajahnya terlihat murung.
“Semuanya sudah sudah jelas sekarang, dan jika di perjelas aku mempersilakan kamu untuk pergi”Nihil tak ada jawaban yang keluar dari mulut Aca karena sekarang Aca sedang melamun.
Galang menyunggingkan senyum melihat sepasang sepatu Aca yang berbeda warna.“Lain kali kalau mau terburu-buru setidaknya perhatikan dulu sepatu mu”ucap Galang yang kini telah melanjutkan langkahnya masuk ke dalam Markas.
Dengan cepat Aca memperhatikan kedua kakinya. “Ha kok bisa beda warna padahal perasaan...huaaa bikin aku malu saja....”
...****************...
“Di mana kakak kamu’'
"Eh kak Aca balik lagi emang tadi urusannya sudah selesai”Tanya Kenzo di saat mengetahui jika Aca kembali lagi kerumahnya.
“Kakak juga sekalian mau tidur di sini”
"Oh baguslah bearti kak Kanaya malam ini ada temennya yaudah kakak masuk aja”
"Yaudah kakak masuk ke dalam kamar kakak kamu dulu yah”
...****************...
Saat di dalam kamar Aca dapat melihat Kanaya yang tengah berbaring di dalam selimut dengan langkah pelan Aca berjalan lalu duduk di pinggiran ranjang.
“Nay bagaimana keadaan mu sekarang,apa sudah aga baikan”
Kanaya menyibakan selimut yang menutupi kepalanya.“Masih seperti sekarang Ca”
“Malam ini Aku mau tidur sama kamu, temenin kamu dan besok kamu tidak perlu ke kantor nanti akan aku izinkan sama pak Nino”
"Hahaha aku bingung alasan apa yang akan aku berikan pada pak Nino karena aku malu dengan kehamilan ini Ca, aku malu ketika mereka menggosip aku hamil tanpa suami’’
“Iya Nay aku paham maksud kamu, kalau kamu ingin aku akan menekan mantan mu untuk bertanggung jawab”
“Aku tidak berharap dia akan bertanggung jawab Ca dan Aku yakin dia tidak akan mengakui tentang anak yang ada di dalam kandungan ku ini”Kanaya kembali merenung kan diri seraya memegang perutnya.
“Jadi apa maksud mu kau akan membesarkan anak mu itu sendiri tanpa ayahnya?”
”Jika itu adalah keputusan terbaik lalu kenapa tidak Aku lakukan Ca”