
Cuaca terasa dingin setelah hujan turun melanda hingga malam ini membuat Kanaya lebih memilih untuk berada di depan teras rumahnya saja sembari menikmati segelas teh yang ia buat.
Pandangan matanya terasa kosong seperti tenga memikirkan sesuatu yang begitu mengganggu nya.
"Kak! ini aku buatkan kakak indomie kuah biar saat minum teh anget ada temennya. nih kak makan dulu yuk"
Kanaya tertegun lalu tersenyum saat adik nya datang lalu membuat kan indomie yang tersedia di hadapannya, sementara Kenzo telah memindahkan kursi di samping Kanaya.
"Makasih yah Ken,"
Kenzo menarik seulas senyum ia bahkan tak ingin banyak bicara karena ia tau kakaknya masih terlihat bersedih karena pristiwa kemarin malam.
"Gimana kak, enak kan indomie buatan aku?"
"Hehehe sebenarnya kakak terus terang indomie buatan mu ini terlalu banyak kuahnya , tapi tidak masalah kakak akan menghabiskan nya"
"Benar kah. lalu apa rasanya pas, namun indomie yang ku buat tidak ada rasa maka aku akan ambilkan garam dan micin untuk kakak"
"Tidak perlu, rasanya cukup pas kok. sudah kamu makan saja"
"Iya kak iya. Hm kak aku boleh minta teh mu, karena tadi aku lupa membuat minuman hangat"
"Yasudah kamu minum saja bila perlu habiskan!"
"Kalau aku habiskan nanti kakak gak kebagian dong"
"Jangan khawatir kan kakak masih bisa mengirup kuah di indomie ini"
"Hahaha kakak ini. sindiran mu terlalu pedas kak"
Bincangkan penuh candaan ini hampir setiap hari terjadi antara dua kakak beradik ini bahkan tak jarang keduanya bertengkar hebat rupanya kedua orang tua mereka telah mendidik mereka dengan sangat baik sehingga mereka selalu akur dari kecil hingga dewasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sukma saya masih tidak yakin kalau Kanaya wanita yang tidak benar seperti yang di ucapkan oleh Sabrina dan juga Dirga, dan saya juga yakin Kanaya itu wanita yang baik"
"Saya juga merasakan hal yang sama Omma, saya juga yakin Kanaya itu wanita baik, dia tulus"
"Hmm Sukma...saya masih teramat bersalah atas kejadian kemarin, saya yakin pasti Kanaya sangat sedih karens ulah Dirga di tambah saya juga yakin kalau Kanaya tidak mau bertemu saya lagi"
"Omma jangan khawatir yah. atau bagaimana hari ini kita datang kerumah Kanaya untuk meminta maaf" ucap Sukma mengusulkan.
"Tapi saya tidak yakin jika Kanaya mau menerima kedatangan kita lagi" Inbuh omma Ratna.
"Baiklah, saya setuju."
......................
"Selamat pagi sayang..."
"K-kamuu..." Sahut Dirga yang tak menyangka jika Olivia datang tiba-tiba ke ruangan nya.
"Kenapa terkejut seperti itu sih.Lihat aku belikan makan siang untuk kamu makan"
Olivia mendekat, menarik kursi yang ada di depan untuk duduk di samping Dirga.
"Siapa yang menyuruh ku masuk ke ruangan ku?"
"Sayang aku ini calon istri kamu. jadi tidak masalah dong jika aku datang berkunjung seperti ini tanpa memberi tahu mu" Ucap Olivia seraya membelai wajah Dirga.
Dirga yang merasa risih menjauhkan wajahnya saat masih di sentuh Olivia.
"Aku sangat sibuk sekarang, kamu bisakah pulang saja karena sehabis ini aku akan merencanakan meeting"
"Ayolah aku hanya ingin di sini saja lagian aku bosan di rumah dan apa salahnya sih jika aku menemani mu hingga selesai meeting"
"Please Olivia! tolong mengerti lah aku. saat ini aku benar-benar sangat sibuk dan tidak bisa di ganggu tapi kalau kamu ingin bersikeras berada di ruangan ku, maka lakukan lah itu hingga esok pagi" Sahut Dirga dengan lantang setelah itu ia pun pergi meninggalkan Olivia sendirian di dalam ruangan nya.
Olivia mengerucutkan bibir nya ia begitu kesal dengan sikap Dirga yang selalu dingin kepada nya.
[Hallo tante..]
[Iya Hallo calon menantu ku sayang, bagaimana apa sekarang Dirga ada di samping mu]
[hikss..tante aku sangat sedih karena Dirga mencuekan ku. Masak dia tidak menghiraukan kedatangan ku dan malah sibuk untuk meeting]
[Apa! Dirga berani melakukan itu pada mu. Dasar anak itu, Baiklah tante akan memarahinya setelah ia pulang nanti. Kamu yang sabar yah sayang kan 2 hari lagi kalian akan segera bertunangan]
[Tan, bagaimana kalau setelah bertunangan sikap Dirga masih dingin terhadap ku]
[Kamu tenang saja. dan jangan takut nanti tante akan bilang pada Dirga untuk mengubah sikapnya agar lembut sama kamu]
[Baiklah tante, setidaknya sehabis menelpon tante aku merasa legah sekarang]