
"Lihat lah gara-gara motor buah mu itu mobil saya menjadi leset!" Hardik seorang wanita memarahi seorang seorang pria tua.
Sehingga Kanaya yang baru saja pulang bekerja dapat mendengar serta melihat kejadian itu. Seperti yang di ketahuilah seorang pria tua secara tidak sengaja menyenggol mobil mewah milik seorang wanita dengan motor penjual buah. Dapat di yakinin jika pria tua itu adalah penjual buah keliling.
"Maafkan saya Bu. Maafkan saya, saya sungguh-sungguh tidak sengaja"
"Apa kau bilang. Tidak sengaja! enak saja kau berbicara semudah itu. Coba perhatikan baik-baik. apa kau tidak tau mobil saya ini mahal, saya yakin kau tak akan mampu membeli mobil seperti saya ini. Pokoknya saya ingin kamu menggantikan kerugian ini!"
"T-tapi Bu u-uang saya tidak lah cukup untuk menggantikan kerusakan ini"
"Chi,Dasar orang miskin saya tau jika kamu tidak mampu, tapi jika kamu tidak mampu kamu jual saja motor mu itu untuk menggantikan kerugiannya"
"Tidak Bu. Tidak, saya mohon jangan libatkan motor saya, karena motor ini adalah satu-satunya mata pencarian saya. saya mohon Bu, jangan!" pria tua itu tersungkur berharap wanita kaya ini memberikan keringanna untuk nya.
Kanaya yang ibah segera menghampiri kejadian itu, ia bersikap lembut dan membantu pria tua itu untuk berdiri.
"Maaf, bisakah anda bersikap sopan terhadap seseorang yang lebih tua dari anda!" Hardik Kanaya memarahi wanita itu.
"L-loh kamu, bukannya kamu wanita yang hampir menikah dengan putra saya itu kan"
Kanaya seketika membeku saat mengetahui Ibu-ibu ini adalah orang tua Dirga sekali gus orang yang paling membencinya selain Dirga.
"Ck, rupanya kamu masih berani menampakkan barang hidung mu di hadapan saya. Apa kau tidak mempunyai rasa malu ha! apa kau juga berusaha merebut hati putra saya lagi. seharusnya kau itu harus sadar jika wanita seperti kamu tidaklah pantas untuk putra saya Dirga, Kamu miskin! tidak berpendidikan dan kamu itu seorang Jala*ng yang menji*ikan"
Kanaya mengeratkan kedua tangannya menahan emosi yang biasa bersarang di jiwanya. bahkan selain omongan pedas Dirga tenyata omongan mamanya ini juga lebih pedas.
"Saya bersyukur kok tidak melanjutkan hubungan saya dengan putra anda. dan asal anda tau saya tidak mempunyai niat sedikit pun untuk merebut kembali putra kesayangan anda"
"Omong kosong! buktinya kau sengaja kan mendekati mertua saya agar nantinya kau bisa memanfaatkannya demi mendapatkan Dirga"
"Cukup nyonya! saya perjelas sekali lagi kalau saya tidak lah mendekati Omma Ratna karena Dirga karena dari awalnya saya benar-benar tidak tau kalau Omma Ratna adalah mertua anda. Nyonya. Anda bisa saja menuduh saya yang tidak-tidak tapi ingat satu hal karena saya bukanlah Kanaya yang dulu Kanaya yang lemah dan mudah tindas yah seperti apa yang telah nyonya lakukan pada bapak ini"
"Dengar! ini bukanlah urusan mu, pria tua ini pantas menerima hukuman karena ia telah menggoreskan mobil mewah saya!"
"Hanya mobil. lalu bagaimana yang tergores itu wajah anda, dan dengan menjual motor ini apakah cukup untuk biaya berobat hmm"
Kanaya menahan tangan Sabrina yang berusaha ingin menamparnya.
"Astaga Nyonya, rupanya kau lebih menjijikkan sama seperti putra mu suka menghina orang tapi tak ingin di hina balik"
"Wanita sialan! lihat saya akan saya buat kamu lebih menderita lagi!" Kecaman Sabrina tak tertahan. setelah mengatakan ini segera Sabrina meninggal kan Kanaya dan pria tua itu di tempat.
Kanaya bernafas legah ketika mamanya Dirga telah pergi meninggalkannya.
"Mbak makasih yah karena mbak sudah membantu saya dari masalah ini"
"Sama-sama Pak, tapi apa bapak baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja mbak,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nyonya Sabrina sudah sampai di kediaman rumahanya ia memarkirkan mobil milik di sembarang lalu turun serta berjalan menuju halaman belakang dengan emosi yang meluap-luap.
Di halaman belakang Dirga sedang latihan menembak botol minuman dengan sebuah pistol dan segera Dirga menghentikan dirinya di saat melihat mamanya datang kearahnya.
"Apa yang telah terjadi ma?"
"Dirga wanita jal*ng..mantan mu itu dia sangat berani menghina Mama di depan orang lain, lihatlah Dirga, dia sangat merendahkan mama"
"Apa maksud mama, Kanaya?"
"Yah mungkin, karena mama sendiri sudah muak sekali mendengar namanya, asal kamu tau dia merendahkan mama di depan pria miskin penjual buah, padahal pria miskin itu sudah salah karena menggoreskan mobil mama, eh malah wanita itu datang membela pria miskin itu keterlaluan kan."
"Rupanya wanita itu telah melewati batas!"Cibir Dirga sembari melanjutkan menembak botol minuman dengan pistol yang ia pegang.
Darrr.....