Our Next Love

Our Next Love
Flashback 1 Awal kebencian Dirga



“Dirga, Dirga apa kamu serius dengan pernikahan kamu dan wanita itu”, Berulang kali nyonya Sabrina mengatakan hal ini bahkan sekarang ia mengatakannya lagi saat Dirga akan siap pergi ke kantor.


“Sudah aku bilang, aku serius ma meski berulang kali mama mengatakan hal ini”, Jawab Dirga seraya memasang dasi di kerah kemejanya.


Nyonya Sabrina selangkah maju mendekati Dirga seolah mengiming-iming agar Dirga tak menikahi Kanaya.


“Dir, mama punya saran kamu beri saja wanita itu uang dua miliar untung-untung untuk menghidupi kebutuhannya dan juga anaknya itu, Asal mama mohon Dir kamu jangan menikahinya”


“Apa dengan uang dua miliar apa itu akan menjamin tentang keselamatan bayi ku ma?”


“Yah tentu saja itu menjamin Dir, dengan uang segitu suruh saja Kanaya membeli rumah beserta pelayan rumah tangga dan dengan begitu dia dan bayinya akan baik-baik saja”


“Tidak ma, karena aku akan tetap pada pendirian ku untuk menikahi Kanaya”


Nyonya Sabrina tersulut emosi kembali.“Lalu apa kamu tidak ingat Kanaya itu wanita macam apa! ingat Dirga dia sama seperti Olivia!”


Mendengar hal itu tatapan kedua mata Dirga menatap lama pada sebuah cermin besar yang ada di hadapannya lalu kemudian bayangan masalalu pun kembali teringat di memori ingatnya.


*flashback*


Dirga duduk di sebuah taman yang biasa ia duduki bersama Kanaya sendirian,namun sesekali matanya melihat jam pada pergelangan tangannya.


Dirga sudah tidak sabar lagi untuk melamar kekasihnya Kanaya dan baginya ini adalah waktu yang tepat tapi anehnya sampai detik ini Kanaya belum juga datang. Bahkan sekarang ia tenga memegang kotak bewarna hitam yang isi di dalamnya terdapat kalung berlian berbentuk bandul dengan inisial nama K dan D.


{kamu di mana Nay}, Tanya Dirga saat tenga mengirim pesan pada Kanaya.


Mendengar notifikasi pesan dari HP jadul miliknya seketika itu pula Kanaya berhenti melakukan motornya. {Tunggu lah sebentar lagi aku akan sampai}


Setelah mendapatkan balasan pesan dari Kanaya setidaknya Dirga merasa begitu legah setidaknya Kanaya tidak hilang kabar.


Kanaya melajukan motornya dengan kecepatan kencang hingga tanpa sengaja sebuah insiden menimpah Kanaya malam ini juga.


Brakk....


Motor yang di tumpangin Kanaya terbalik bersama tubuh seorang wanita yang juga ambruk di dekat pinggiran jalan. Kanaya yang di rasa panik pergi meninggalkan motornya dan menghampiri wanita itu.


“Astaga, mbak maaf yah saya benar-benar tidak sengaja”


Kanaya semakin khawatir dengan wanita yang tak sengaja ia tabrak ini sementara hatinya gundah karena Dirga telah menunggu kedatangannya di taman. Tapi setidaknya wanita ini lebih membutuhkan pertolongan.


“Yaudah mbak kalau begitu saya akan antarin mbak ke rumah sakit saja buat periksa mbak siapa tau ada yang terluka’’


“Tidak usah saya baik-baik saya lagi pula luka yang saya alamin ini tidak terlalu serius”


“Maaf kan saya yah mbak, atau begini saja di mana rumahnya mbak nanti saya akan antarkan pulang”


****************


“Maaf yah mbak aku hanya bisa mengantarkan mbak sampai di depan rumah saja”, tutur Kanaya setelah menurunkan seorang wanita yang tak sengaja ia tabrak tadi.


“Kenapa buru-buru sekali mbak, kenapa tidak mampir dulu sembari meminum teh”, tawar wanita itu pada Kanaya.


“maaf yah mbak saya tidak punya waktu lagi karena saya...


“mbak saya mohon mbak jangan nolak yah, mampir dan minum teh dulu sebentar”


****************


Kanaya telah duduk di kursi ruang tamu wanita yang ia ketahui namanya adalah Mbak Saras. di tatap nya seluruh


dinding di sekitar rumah mbak Saras nampak begitu aneh karena rumah sebesar ini tak ada foto yang terpajang satu pun apa lagi benda-benda lainnya.


Tak lama setelah itu Mbak Saras datang dengan membawa satu gelas teh hangat. “maaf yah jadi menunggu lama”, Sahut mbak Saras sembari meletakkan teh ke atas meja.“Ayo Kanaya di minum dulu mumpung masih anget”


Karena Kanaya harus Buru-buru pergi maka ia pun harus bisa meminum teh ini agar mengharai buatan mbak Saras.


Namun di balik itu, diam diam mbak Saras tersenyum penuh kemenangan karena rencananya dari awal berhasil.


“ini teh nya sudah habis saya minum kalau begitu saya pamit undur diri dulu yah mbak”, Kanaya yang hendak berdiri tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya dan pada akhirnya ia pun pingsan tak sadarkan diri.


setelah semua usahanya berjalan lancar lalu segera mungkin Mbak Saras menelpon seseorang sebagai seseorang yang tenga menyuruhnya.


[Hallo nyonya misi telah berjalan dengan lancar, sekarang nyonya bisa ke sini tapi jangan lupa uangnya yah nyonya hehhe]