ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Rahasia masa lalu



Sejak bertemu Felisya, sikap Zea berubah. Wanita itu lebih banyak diam dan tampak gelisah. Namun Vallen tidak berani bertanya karena menurutnya bukan ranahnya untuk ikut campur dalam masalah Zea.


Setelah kondisinya membaik, Vallen sudah di izinkan pulang. Dia di jemput oleh Indy karena Rama tidak bisa mengantarnya pulang. Setibanya di rumah, Vallen benar-benar tidak boleh melakukan aktivitas apapun, dia berada di dalam kamar dan merasa sangat bosan.


Sudah seminggu sejak Vallen keluar dari rumah sakit, kondisinya semakin membaik meski setiap pagi dia masih mengalami mual dan muntah yang semakin parah. Untungnya Vallen memiliki obat yang sangat mujarab, setiap pagi diam-diam Vallen mencuri baju kotor Rama dan mencium aroma tubuh Rama yang menempel di baju. Terdengar jorok, namun aroma tubuh Rama benar-benar membuat mual Vallen menghilang.


Seminggu terkurung di kamar, akhirnya Vallen bisa berjemur di halaman setelah Indy mengizinkannya keluar rumah. Vallen duduk di kursi sambil membaca buku tentang kehamilan dan persalinan.


"Vall, sudah siang nak. Terik matahari tidak bagus untuk kulitmu," panggil Indy penuh perhatian. Vallen berdiri dan tersenyum sambil berjalan ke arah ibu mertuanya. "Mama sudah mengupas buah, ayo makan buah bersama!"


"Terima kasih ma!"


Selama seminggu ini Vallen merasa lebih nyaman karena Rama lebih banyak diam saat mereka berada di kamar. Hal itu malah membuat Vallen senang karena dia tak perlu mendengar ocehan Rama yang menyakitkan. Namun yang membuat Vallen bingung adalah tentang perubahan sikap Zea, setelah bertemu Felisya di rumah sakit, Zea juga lebih banyak diam dan jarang menemuinya meski mereka tinggal di rumah yang sama.


Setelah makan malam, Vallen kembali ke kamarnya. Karena Rama belum pulang jadi dia bebas melakukan apapun. Vallen menyalakan televisi dan menonton film secara random.


Sementara itu di ruang keluarga, Zea duduk bersama suami dan orang tuanya. Sejak beberapa hari terakhir sikap Zea berubah membuat suami dan orang tuanya khawatir. Di saat yang bersamaan Rama baru saja pulang, dia merasa heran melihat anggota keluarganya berkumpul.


"Ada apa ini?" tanya Rama penasaran, pria itu duduk di samping ibunya.


"Katakan Ze, kenapa akhir-akhir ini kau sangat gelisah?" tanya Indy seraya menatap putrinya.


"Aku bertemu Felisya di rumah sakit," ucap Zea dengan pelan. Dia khawatir Vallen akan mendengarnya. Namun siapa sangka jika Vallen berdiri di balik tembok dan mendengarkan ucapan Zea. Awalnya Vallen turun karena air minumnya habis, dia melihat Rama pulang dan ingin menyambutnya. Namun dia malah mendengar Zea menyebut nama Felisya dan membuatnya penasaran.


"Kapan?" tanya Sam dengan wajah menegang.


"Saat aku mengajak Vallen jalan-jalan ke taman! Dan yang membuatku terkejut, Vallen adalah adik kandung Victor!"


"Apa?" semua orang terkejut, hanya Rama lah yang memasang wajah biasa saja karena dia sudah tau tentang hal itu.


"Maksudmu Victor yang menghancurkan usaha Sam?" sahut Indy.


"Benar mah, dia juga yang sudah mendonorkan darahnya saat Zea kecelakaan!"


"Astaga, kenapa dunia ini sangat kecil!" gumam Indy tak percaya. Kenapa mereka harus terlibat dengan seseorang dari masa lalu mereka lagi.


"Apa Vallen tau penyebab kakaknya meninggal?" tanya Sam pada istrinya.


Zea menggelengkan kepalanya. "Sepertinya tidak. Dia dan Felisya terlihat baik-baik saja. Aku harap dia tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku kasihan padanya!"


"Kenapa aku tidak boleh tau Ze?" tanya Vallen yang tiba-tiba keluar dari balik tembok. Semua orang menoleh dan terkejut melihat Vallen.


"Vall," pekik Zea tertahan.


"Katakan apa yang terjadi sebenarnya Ze. Kenapa kau mengenal kakakku? Kenapa mama bilang kak Victor menghancurkan usaha Sam? Dan apa yang menyebabkan kakakku meninggal?" cecar Vallen dengan deretan pertanyaannya.


"Duduklah sayang!" Indy berdiri dan membantu Vallen untuk duduk.


"Katakan ada apa mah!" pinta Vallen penuh harap.


Indy menatap Rama dan Zea secara bergantian. "Tapi kau harus berjanji pada mama, kau tidak boleh marah dan tidak boleh sedih!"


"Katakan mah!"


"Ceritakan Ze, Vallen berhak tau!"


"Jadi kau juga memiliki golongan darah langka Ze?"


"Ya Vall, dan aku beruntung bisa bertemu dengan kakakmu. Terlepas hubungan buruk kami di masa lalu, Victor mengakui kesalahannya dan mau berubah!"


"Lalu siapa yang menyebabkan kakakku meninggal? Bukankah kakaku meninggal karena kecelakaan?" tanya Vallen seraya menatap Zea.


"Felisya yang menabrak Victor hingga tewas!" sahut Rama memberi jawaban.


Vallen menoleh dan menatap wajah suaminya. Dia tak percaya dengan apa yang di katakan Rama. Tidak mungkin Felisya yang melakukannya. "Kau pasti bohong!" ucap Vallen mencoba menyangkal perkataan Rama.


"Apa yang di katakan Rama adalah benar Vall. Felisya berniat mencelakaiku, namun tiba-tiba Victor datang dan menyelamatkanku, sayangnya malah dia yang tertabrak mobil Felisya," ungkap Sam membenarkan.


"Sam, kau tidak membohongiku kan?" ujar Vallen dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak Vall!"


Vallen mulai terisak, dia tidak sanggup mendengar kenyataan yang menyedihkan ini. Dia tak percaya jika orang yang dia anggap sebagai kakak justru orang yang telah menyebabkan kakaknya meninggal.


Indy merengkuh tubuh Vallen dan memeluknya. Dia yakin Vallen sangat terpukul dengan kenyataan tersebut. Namun mereka juga tidak bisa terus merahasiakannya, Vallen berhak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Mah, aku lelah," ucap Vallen di sela isak tangisnya.


"Mama akan mengantarmu ke kamar!"


"Tidak mah, Vallen bisa sendiri," tolak Vallen, wanita hamil itu berdiri dan berjalan seperti orang linglung.


"Kejar istrimu Ram!" titah Indy.


Rama beranjak dari duduknya dan mengejar Vallen ke kamar. Rama tak berkata apapun, dia hanya memperhatikan Vallen yang meringkuk di atas sofa.


"Kenapa harus kak Feli," gumam Vallen, air matanya terus berjatuhan. Sepertinya semalaman ini dia tidak akan berhenti menangis.


"Tenangkan dirimu," ucap Rama pelan.


"Bagaimana aku bisa tenang Ram!"


"Aku tau kau sedih, tapi air matamu juga tidak akan merubah apapun!"


Vallen mengusap air matanya dengan kasar, dia lalu bangun dan duduk di sofa. "Lebih baik kau diam kalau tidak bisa menghiburku!" kesal Vallen.


"Ya, ya, aku akan diam. Silahkan menangis lagi sampai air matamu kering!"


Vallen semakin kesal, dia melemparkan bantal dan tepat mengenai wajah Rama. Pria itu meradang dan beranjak dari duduknya.


"Kau," pekik Rama seraya menunjuk Vallen.


"Apa? Kau mau bertengkar denganku lagi?"


"Tidak! Wajahmu sangat jelek!" Rama lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi setelah mengatai Vallen jelek.


"Ramaaaaa!!!!


BERSAMBUNG...