
Vallen merasakan tubuhnya sangat hangat dan sangat nyaman, dia tidak pernah merasakan senyaman ini sebelumnya. Perlahan dia membuka matanya, wanita hamil itu tersenyum melihat wajah Rama yang terlihat begitu damai.
"Astaga, aku bahkan memimpikannya," batin Vallen, dia menganggap jika dia sedang memimpikan Rama. Karena ini sedang mimpi, Vallen memeluk tubuh Rama layaknya bantal guling, dia mendusal-dusalkan wajahnya di dada Rama. "Apa ini, aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya?" gumam Vallen yang tentunya hanya terucap di dalam hati. Vallen lalu mendungakkan kepalanya, dia memperhatikan wajah Rama dengan seksama. Vallen meletakan jari telunjuknya di depan lubang hidung Rama dan dia bisa merasakan hembusan nafas hangat sang suami. "D-dia bernafas, apa artinya aku tidak sedang bermimpi?"
Vallen kembali menutup matanya saat dia melihat Rama mulai mengerjapkan matanya. Jantung Vallen berdebar tak karuan saat menyadari jika dia sedang tidak bermimpi. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Seingatnya dia begitu marah karena bertemu dengan Kelly, dia lalu pulang dan berendam di air dingin untuk meredakan amarahnya. Dan setelah itu Vallen tidak ingat apapun lagi.
"Kau sudah bangun?" tanya Rama dengan suara serak.
"Dari mana dia tau aku sudah bangun?" batin Vallen gugup.
"Buka matamu, aku tau kau sudah bangun!"
Perlahan Vallen membuka matanya, wanita hamil itu tersenyum hambar saat mendapati Rama sedang menatapnya. "Kenapa kita tidur bersama?" tanya Vallen setengah ragu.
"Jangan salah paham. Aku melakukannya agar kau tidak mati kedinginan!" jawab Rama cuek.
"Memangnya aku kenapa?"
"Ck, dasar bodoh. Kau pingsan di dalam bathtube. Untung saja aku segera menemukanmu!"
Rama lalu menarik tangannya dari pinggang Vallen, pria itu hendak berdiri namun tanpa sadar Vallen menahannya. "Ada apa?" tanyanya ketus.
"Ram, lima menit lagi. Bolehkan kita melakukanya lima menit lagi," pinta Vallen dengan tatapan memohon, entah mendapat keberanian dari mana sehingga Vallen meminta hal tersebut pada Rama. "Aku tidak akan salah paham Ram, tolong lakukan ini untuk bayiku. Sekali ini saja!"
Rama menghela nafas panjang, melihat tatapan memohon dari Vallen membuatnya tidak tega. "Hanya lima menit!" Rama lalu kembali memeluk Vallen, dia juga merasa nyaman hanya saja dia terlalu malu untuk mengakuinya.
"Ram," panggil Vallen dengan lembut.
"Hem!"
"Tidak bisakah kita berteman. Maksudku selama aku tinggal di sini tidak bisakah kau memperlakukanku dengan baik?" tanya Vallen.
"Tidak!" jawab Rama singkat, padat dan menyebalkan.
"Ck, aku tau kau akan menjawabnya seperti itu!"
Di tengah situasi yang muali terasa canggung, Rama bisa merasakan gerakan dari dalam perut Vallen. "Apa dia baru saja menendangku?" tanya Rama dengan semangat.
"Iya. Dia pasti sedih karena kau menolak ajakanku untuk berteman!" jawab Vallen asal.
"Kau juga bukan tipeku. Pria sedingin es batu dan sekaku kanebo kering tidak masuk dalam kriteria pria idamanku!" jawab Vallen tak mau kalah. Vallen lalu mendorong tubuh Rama karena dia tiba-tiba merasa kesal. "Sudah lima menit. Terima kasih!" ucapnya dengan wajah murung. Vallen lalu menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur. Vallen begitu terkejut saat menyadari jika bajunya berubah. Dia kembali menatap Rama yang masih berada di tempat tidur. "Siapa yang mengganti bajuku?"
"Aku!" jawab Rama malas.
"Kau tidak melakukan hal aneh pada tubuhku kan?" selidik Vallen.
"Sudah aku bilang kau bukan tipeku!" jawab Rama bohong, padahal adik kecilnya sempat terbangun saat melihat dadaa Vallen yang terlihat berisi.
.
.
.
Semenjak mereka tidur di kasur yang sama, sikap Rama sedikit berubah, pria itu sedikit menaruh perhatian pada Vallen. Setiap malam sebelum tidur, Rama akan membawakan susu khusus ibu hamil ke kamar dan menyuruh Vallen menghabiskannya. Vallen senang dengan perubahan sikap Rama, namun wanita hamil itu merasa takut karena dia mulai nyaman dengan sikap Rama.
"Mama mendaftarkanmu kelas Prenatal Couple Yoga, aku akan mengantarmu ke tempat itu," ucap Rama seraya memberikan segelas susu untuk Vallen.
"Ya," jawan Vallen pasrah, jika sudah menyangkut Indy maka dia tidak bisa menolak. Vallen lalu menghabiskan susunya dan bersiap tidur.
Keesokan harinya, Vallen dan Rama sudah berada di tempat senam khusus ibu hamil. Vallen merasa iri melihat pasangan lain yang begitu romantis. Ingin sekali Vallen mendapat perlakuan manis dari Rama, dia kerap berharap Rama akan mengusap dan mencium perutnya sebelum tidur. Entah sejak kapan di mulainya, Vallen mulai mengharap perhatian kecil dari Rama.
Vallen dan Rama sudah berada di dalam ruangan untuk melakukan yoga khusus ibu hamil. Rama dan Vallen terlihat canggung untuk melakukan gerakan yoga berpasangan itu.
"Kau boleh pulang kau tidak nyaman di sini Ram," bisik Vallen saat dia menyadari wajah Rama yang terlihat kurang nyaman.
"Mama pasti akan marah kalau tau aku tidak menemanimu!"
"Aku tidak akan memberi tahu mama!"
"Pelatih senammu adalah teman mama!"
Ya, kini Vallen tau alasan kenapa Rama tetap menemaninya. Rama takut Indy akan memarahinya. Tapi tidak masalah, Vallen akan menikmati waktu kebersamaan mereka, apalagi Prenatal Cuople Yoga memiliki gerakan yang intim. Seperti salah satu gerakan yang menjadi favorit Vallen, saat Rama duduk di belakangnya dan memeluk perutnya. Pelatih juga menyuruh agar para istri menyandarkan tubuhnya pada tubuh sang suami. Vallen sangat nyaman dan tidak ingin senam ini berakhir.
BERSAMBUNG...