ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Belanja perlengkapan bayi



Hari-hari Vallen di penuhi kebahagiaan karena dia memiliki keluarga baru yang sangat perduli padanya. Bukan hanya itu, sikap Rama yang semakin lembut dan perhatian membuat hati Vallen luluh dan dia rasa dia mulai mencintai suaminya dan mulai melupakan niatnya untuk pergi setelah bayinya lahir ke dunia.


Usia kandungan Vallen memasuki bulan ke tujuh, Vallen dan Rama kembali memeriksakan kandungan Vallen untuk mengetahui perkembangan anak mereka.


Rama tak henti-hentinya tersenyum saat menatap layar monitor empat dimensi dimana bayinya sedang bergerak aktiv di dalam perut Vallen.


"Hidungnya sangat mirip dengan anda dok," ujar dokter yang memeriksa Vallen.


Rama meraba hidungnya sendiri sambil mengamati bentuk wajah calon putrinya yang sudah terlihat jelas. "Anda benar dok, sepertinya dia akan mirip saya dari pada ibunya," sahut Rama penuh kebanggaan.


"Kebanyakan memang seperti itu, anak perempuan lebih mirip dengan sang ayah dan anak laki-laki mirip seperti ibu mereka," sambung dokter kandungan tersebut.


Vallen turut tersenyum melihat wajah bahagia Rama, seandainya waktu bisa di putar dia ingin bertemu Rama dalam kondisi yang tepat, tapi semua sudah terjadi dan biarlah kisah masa lalu mereka menjadi cerita yang cukup di kenang di dalam hati.


Setelah memastikan kondisi bayinya sehat, Vallen dan Rama meninggalkan rumah sakit. Rencananya mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli perlengkapan bayi mereka.


"Apa tidak terlalu cepat Ram?" tanya Vallen seraya melirik suaminya yang berjalan di sampingnya.


"Bulan depan jadwal operasiku penuh Vall, aku tidak mau kau mempersiapkannya sendirin," jawab Rama. "Dan, aku sendiri ingin memilihkan baju untuk putri kita,' sambungnya penuh semangat.


Begitu sampai di pusat perbelanjaan, keduanya langsung menuju salah satu toko perlengkapan bayi terbesar di mall tersebut. Rama dan Vallen berkeliling sebelum memutuskan apa yang akan mereka beli.


"Vall lihat," Rama menunjuk bok bayi berwarna merah muda dengan kombinasi warna putih. "Imut sekali, kita beli itu saja ya!"


Vallen menahan senyumnya, ekpresi Rama sungguh menggemaskan. "Tentu, kita beli yang itu," jawab Vallen menyetujui saran Rama.


Rama semakin antusias, bahkan dia yang terlihat sibuk memilih beberapa barang untuk keperluan calon bayinya. Vallen hanya mengikuti Rama dan mengiyakan saat Rama menunjuk sesuatu.


"Astaga Vall, kenapa hiasan rambut ini lucu-lucu sekali, aku ingin membeli semuanya," ujar Rama dengan antusias.


"Ram, beli hiasan rambutnya nanti saja kalau anak kita sudah lahir dan memiliki rambut panjang!"


"Tapi aku ingin beli ini!"


"Tidak Ram, nanti saja!"


"Aku kan bukan bayi Ram," protes Vallen namun dia terkekeh melihat tingkah Rama. "Ya sudah beli saja. Kau yang pakai juga pasti imut!"


Setelah membeli hampir semua kebutuhan calon bayinya, keduanya lalu pulang ke rumah karena Vallen sudah kelelahan, padahal ada beberapa barang lagi yang belum mereka beli.


Setibanya di rumah, Rama mengangkut semua barang yang di belinya. Indy dan Zea menggelengkan kepala melihat betapa banyak banyak yang Rama beli.


"Itu semua Rama yang memilih mah, Vallen hanya mengekor di belakangnya," adu Vallen pada ibu mertuanya.


"Dia terlihat sangat senang," sahut Zea seraya merangkul lengan ibunya.


"Mama sangat senang melihat kedekatan kalian sekarang, semoga rumah tangga kalian langgeng!"


Vallen dan Zea mengaminkan doa sang mama, Vallen juga sangat berharap jika Rama menjadi jodoh pertama dan terakhirnya.


Setelah menyimpan semua barang belanjaannya, Rama merebahkan tubuhnya di ranjang, dia sangat lelah tapi herannya dia juga sangat senang.


Vallen menyusul Rama ke kamar membawa segelas air putih. Vallen duduk di tepi ranjang dan memijat kaki suaminya. "Kau pasti kelelahan," ujar Vallen.


Rama tersenyum dan membiarkan sang istri memijatnya. "Sedikit, tapi aku senang sekali!"


"Aku juga senang melihatmu senang!"


Rama lalu bangun dan duduk, dia menyuruh istrinya mendekat dan Vallen menurut, dia bergeser dan posisi mereka semakin dekat.


"Terlepas bagaimana awal kita bertemu, tapi aku bahagia memiliki kalian," ucap Rama penuh haru.


"Terima kasih Ram, terima kasih karena kau telah menerimaku!" jawab Vallen dengan tulus.


Rama lalu memeluk Vallen dengan erat. "Jangan pernah sembunyikan apapun dariku Vall, aku paling tidak suka di bohongi!"


BERSAMBUNG...