ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Memulai sebuah hubungan



"Aku benar-benar tidak tau apa maksudmu Ram. Aku dan Marco hanya kebetulan bertemu. Aku juga menolak ajakan makan malamnya. Ada apa denganmu? Dua hari ini kau sangat aneh? Apa kau cemburu?"


"Ya, aku cemburu. Kau puas!" ucap Rama tanpa sadar, pria itu lalu menangkup bibirnya dan merutuki kebodohannya karena tidak bisa menahan diri.


"Tidak lucu!" sahut Vallen dengan ekpresi wajah yang susah di baca, antara senang, terkejut dan tidak percaya. "Jangan bercanda seperti ini lagi, aku tidak mau salah paham!" sambung Vallen dengan tegas, wanita hamil itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, namun baru saja di depan pintu Rama kembali menarik tangannya, kali ini sedikit keras sehingga tubuh Vallen berbalik dan menabrak tubuh Rama.


"Apa maumu Ram?" tanya Vallen dengan gugup.


Tangan Rama berpindah ke pinggang Vallen, pria itu menatap wajah Vallen dengan intens. "Kau pernah bertanya padaku, bisakah aku bersikap baik padamu? Kali ini aku melakukannya dan kau tidak mempercayaiku. Aku memang bukan pria yang romantis dan banyak bicara, tapi aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!"


Vallen menelan ludahnya dengan kasar, berdekatan dengan Rama benar-benar membuat jantungnya hampir melompat keluar. "Le-lepas Ram," pinta Vallen dengan suara gagap.


Bukannya menurut Rama justru semakin mempererat pelukannya di pinggang Vallen. "Vall, tidak bisakah kita bersikap layaknya suami istri sungguhan?"


"Apa maksudmu?" Tanya Vallen.


"Maksudku kita benar-benar menjadi suami istri. Kita tidur di ranjang yang sama, kau menyiapkan sarapan untukku, mengantarku saat aku akan berangkat bekerja. Kau menyambutku saat aku pulang. Kita memeriksakan kadunganmu bersama. Kita belanja bersama dan membeli keperluan anak kita bersama-sama!"


"Bukannya kau tak mengakui anak ini?" pertanyaan Vallen berhasil mencubit hati Rama.


"Maaf, aku hanya terlalu terkejut! Tiba-tiba saja kalian datang di dalam hidupku!" ujar Rama dengan tatapan penuh sesal.


"Lalu sampai kapan kau kita akan menjadi suami istri sungguhan? sampai anak ini lahir atau... "


"Selamanya, kita akan membesarkan anak ini bersama-sama," potong Rama sebelum Vallen menyelesaikan kalimatnya.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Vallen dengan tatapan penuh harap.


"Aku tidak yakin!" jawab Rama ragu.


Vallen melepaskan tangan Rama dengan paksa, wanita hamil itu menghela nafas dengan berat. "Dengar Ram, kau saja tak yakin dengan perasaanmu lalu bagaimana kita akan menjalani rumah tangga yang sesungguhnya!" Vallen memutar tubuhnya dan kembali melangkah ke kamar mandi, namun Rama kembali mengucapkan kalimat yang menahan kakinya.


"Aku tidak tau seperti apa rasanya jatuh cinta. Tapi beberapa bulan terakhir aku mulai nyaman denganmu, berdekatan denganmu mebuat jantungku berdebar. Saat bekerja aku ingin cepat pulang dan melihatmu. Melihat kau bersama pria lain aku marah dan hatiku terasa sakit, apakah semua itu bisa membuatmu percaya jika aku mulai tertarik denganmu?" akunya setelah mencoba menekan rasa gengsinya. Rama adalah pria yang berambisi, dia akan melakukan apapun jika menurutnya hal tersebut memang harus menjadi miliknya. "Aku akan menunggu jawabanmu dan aku akan menghargai apapun itu!" sambung Rama dengan senyum penuh arti. Pria itu lalu keluar dari kamar dan membiarkan Vallen memikirkan jawabannya.


Rama memilih keluar dan berjalan-jalan di pinggir pantai, semilir angin malam membuatnya merasa lebih tenang. Rama berdiri sambil menatap ombak bergulung, pria itu menarik nafas panjang dan menghambuskannya perlahan. Setelah merasa lebih baik, Rama kembali ke villa. Dia naik ke kamarnya. Cukup lama Rama berdiri di depan pintu, dia ragu untuk masuk, setelah dia mengakui perasaannya dia yakin suasana kamar akan menjadi canggung.


"Bersikap biasa saja Ram, jangan gugup," batinnya menenangkan diri. Rama lalu membuka pintu dengan pelan karena dia pikir Vallen mungkin sudah tidur, Rama lalu masuk dalam kamar. Rama berdiri di samping ranjang dan menatap tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat. Di atas ranjangnya, Vallen duduk sambil menatapnya dan tersenyum.


"Vall," Rama bergumam, dia belum pernah melihat senyuman Vallen yang terlihat begitu tulus.


"Boleh aku tidur di sini?" tanya Vallen seraya menatap Rama..


Rama menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Tentu!"


"Naiklah. Sudah malam, ayo kita tidur!" ajak Vallen seraya menepuk kasur, wanita hamil itu lalu berbaring. Vallen terlihat sangat tenang, namun sebenarnya dia sangat gugup dan sangat malu karena mengajak Rama tidur bersama.


"Kita tidur bersama?" tanya Rama memastikan. "Kau yakin?"


Vallen tersenyum lagi, senyuman itu membuat Rama berdebar lagi. "Bukankah ini yang kau mau. Aku juga belum yakin dengan perasaanku. Tapi apa salahnya kita mencoba membangun sebuah hubungan!"


Rama membalas senyum Vallen dan segera naik le atas ranjang, keduanya tidur terlentang sambil memegangi selimut. Mereka sangat gugup dan terlihat kaku.


"Vall," panggil Rama dengan lembut, pria itu menoleh dan saat yang bersamaan Vallen juga menoleh sehingg netra mereka saling bertemu untuk beberapa detik.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Hem!"


"Kau bilang kau kuliah di luar negeri, dimana tepatnya?"


"Di Howard University, Washington!" jawab Vallen.


"Oh, lumayan dekat dari apartemenku!"


Vallen kembali menoleh. "Jangan bohong, aku tau kau tinggal di Maryland," balas Vallen.


"Aku tidak bohong, jaralnya memang dekat kan, paling satu jam kalau bawa mobil!"


Vallen terkekeh. "Iya juga sih!"


Keduanya kembali diam dan sibuk mengendalikan jantung masing-masing. Setelah cukup lama diam, Rama pikir dia harus bertindak lebih dulu, sebagai seorang pria dia harus memulainya. Rama menggeser tubuhnya, pria itu lalu memirungkan tubuhnya menghadap Vallen. "Boleh aku memelukmu?" tanya Rama dengan ragu.


"Hmm," sahut Vallen, wanita hamil itu juga sedikit menggeser tubuhnya sehingg jarak mereka semakin dekat.


Dengan ragu Rama meletakan tangannya di perut Vallen, pria itu tersenyum karena yang dia mendapat sambutan yang tak terduga. Bayi yang ada di dalam perut Vallen bergerak begitu tangan Rama menyentuh perut istrinya. "Dia menendangku Vall," ucapnya dengan senyum bahagia.


"Mungkin dia senang karena kau mau mengakuinya sekarang," jawab Vallen penuh sindiran.


Rama hanya diam, dia lalu mengusap perut Vallen dengan lembut. Dia kembali tersenyum saat merasakan gerakan dari bayi mereka. "Sudah malam, jangan menendang terus, kasian momy mu," ucap Rama pada si jabang bayi.


Hati Vallen menghangat, dia tidak percaya seorang Rama bisa berkata semanis itu. "Ram!"


"Ya!"


"Terima kasih," ucap Vallen dengan mata berkaca-kaca.


"Untuk?"


"Karena kau telah mengakui bayi ini!"


Rama membelai wajah Vallen dengan lembut, pria itu merasa bersalah karena selama ini selalu meragukan bayi yang Vallen kandung. "Maafkan aku Vall!"


"Kau tidak salah Ram. Aku tau kau juga berada di dalam posisi yang sulit. Setelah bayi ini lahir, aku akan tetap melakukan tes DNA agar kau sepenuhnya percaya jika bayi ini memang milikmu. Aku ingin memulai hubungan ini tanpa keraguan dan dasar saling percaya!"


Rama mengangguk. "Baiklah, kita akan melakukannya!" Rama memberanikan diri mengecup kening Vallen, pria itu lalu menarik tubuh Vallen dan memeluknya. "Sudah malam, ayo kita tidur. Besok aku akan mengajakmu berkeliling!"


"Kau serius?" tanya Vallen antusias.


"Ya!"


Vallen lalu merubah posisinya, wanita hamil itu tidur menyamping dan melingkarkan tangannya di pinggang Rama sementara tangan Rama dia jadikan sebagai bantal. "Ah, nyamannya," ucap Vallen tanpa sadar.


Rama kembali tersenyum, dia kembali mengecup kening Vallen dengan mesra. "Good night Vall, nice dream!"


BERSAMBUNG...