
Pagi pertama setelah menikah, Rama dan keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Rutinitas pagi yang tidak pernah mereka lewati, yaitu sarapan pagi. Indy menatap putranya dengan wajah bingung karena Rama hanya turun sendiri tanpa Vallen.
"Dimana istrimu?" tanya Indy seraya menyendokan lauks untuk suaminya.
"Masih tidur," jawab Rama tak perduli, gara-gara wanita itu, semalama Rama tidak bisa tidur. Dia belum terbiasa berbagi ruangan dengan orang lain, apalagi seorang wanita. Sungguh menyebalkan.
"Mungkin Vallen kelelahan mah!" sahut Zea mencoba menjadi ipar yang pengertian.
"Nanti sebelum kerja, antarkan makanan ke kamar untuk istrimu!" titah Indy dan Rama hanya mengangguk, dia tidak ingin mamanya semakin kesal padanya. Lebih baik dia menurut, toh waktu sembilan bulan tidaklah lama.
Setelah sarapan, Rama kembali ke kamar membawa makanan dan segelas susu untuk Vallen. Wanita itu masih terlihat pulas di bawah selimut tebalnya. Tak lama kemudian Vallen mulai mengerjapkan matanya, dia terkejut melihat Rama yang sudah rapi dengan setelan jasnya. Vallen segera bangun dan semakin terkejut begitu sadar dia bangun kesiangan.
"Astaga, aku kesiangan," pekik Vallen seraya merapikan selimutnya.
"Biasakan bangun pagi. Di rumah ini tidak ada yang pernah bangun siang! Dan itu," Rama menunjuk nampan di atas meja. "Sarapanmu!" ucapnya dengan dingin.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," jawab Vallen, dia masih belum terbiasa hidup bersama keluarga besar Rama.
Tanpa mengatakan apapun Rama keluar dari kamar. Vallen memilih mandi, setelah lebih segar dia turun ka bawah membawa nampan, dia tidak ingin sarapan di kamar karena takut orang rua Rama akan berpikir dia wanita manja. Di dapur Vallen melihat Indy sedang memotong buah, wanita paruh baya itu tersenyum melihat kedatangannya.
"Kau sudah bangun nak?" tanya Indy dengan ramah.
"Sudah mah, maaf aku bangun kesiangan," jawab Vallen tak enak hati.
"Tidak papa, kau pasti lelah kan. Apa kau sudah sarapan?"
Vallen menggeleng.
"Duduklah, mama akan menemanimu sarapan!"
"Terima kasih ma!"
Vallen lalu duduk di sebelah Indy, dia mulai menyuapkan makanan pertamanya di rumah itu. Dia sangat lapar karena sejak kemarin dia tidak makan. "Apa mama yang memasaknya, rasanya sangat enak?" tanya Vallen setelah sarapannya habis.
"Bukan," jawab Indy seraya tersenyum. "Mama tidak bisa masak," imbuhnya sambil berbisik. Kedua wanita itu saling melempar senyum.
"Kenapa rumah sangat sepi ma?"
"Rama dan Sam sudah berangkat bekerja. Zea mengantar di kembar ke sekolah. Kalau ayah ada di kamar," Indy menjawab seraya memberikan sepiring kecil buah-buahan yang sudah di kupasnya. "Makan ini nak, ibu hamil harus banyak mengkonsumsi buah!"
Vallen terharu karena Indy memperlakukannya dengan sangat baik. Namun Vallen tak boleh terlena karena dia hanya sementara berada di tengah-tengah keluarga Rama. "Terima kasih ma!"
Setelah sarapan, Vallen kembali ke kamar karena Indy melarangnya melakukan apapun. Dia sangat bosan karena seharian berada di kamarnya, namun dia juga tidak bisa melakukan apapun. Kalau dia nekat pergi, pasti Rama akan memarahinya lagi.
Vallen keluar kamar saat hari hampir gelap. Dia pergi ke dapur dan melihat asisten rumah tangga mereka sedang menyiapkan makan malam. Dari pada bosan, Vallen berinisiatif untuk membantu.
"Apa ada yang bisa aku bantu bi?" tanya Vallen membuat asister rumah tangga tersebut terkejut.
"Eh, non. Tidak usah non," tolaknya dengan cepat.
"Tidak papa bi, aku mau masak buat Rama!"
"Tapi non..."
"Bibi bantu aku saja, aku yang akan masak untuk makan malam!"
Bibi tidak bisa menolak keinginan Vallen, wanita paruh baya itu membiarkan Vallen memasak. Setelah masakannya selesai, Vallen menyuruh asister rumah tangganya untuk menata masakannya di meja makan. Vallen berharap semua orang akan menyukai masakannya.
Semua orang sudah berkumpul, hanya kurang satu orang yaitu Rama. Entah sengaja atau tidak, pria itu belum sampai ke rumah saat makan malam tiba. Vallen tak perduli, justru dia senang tidak melihat wajah muram suaminya.
"Enak sekali masakan bibi malam ini," puji Indy dengan wajah senang.
"Bukan bibi yang masak nyonya, non Vallen yang masak semuanya. Bibi hanya membantu mengupas bawang," sahut bibi yang baru saja datang dari dapur membawa buah potong.
"Benarkah?" tanya Indy seraya menatap menantunya.
"Benar ma," jawab Vallen malu-malu.
"Sayang masakanmu sayang enak. Tapi kau sedang hamil muda, sebaiknya jangan terlalu banyak beraktivitas ya," ujar Indy mencoba mengingatkan menantunya.
"Vallen bosan mah, lagi pula hanya masak kok!"
Indy mencoba memahami Vallen, gadis itu pasti jenuh di rumah seharia. Apalagi dia masih asing dengan tempat barunya, pantas saja kalau dia merasa bosan.
Malam semakin larut, Rama baru pulang setelah melakukan operasi darurat. Saat masuk ke dalam kamar rasa lelahnya semakin menumpuk saat melihat Vallen duduk di sofa sambil menonton telefisi. Entah kenapa Rama begitu marah setiap kali melihat wajah Vallen.
Rama melewati Vallen begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi. Rama segaja berlama-lama di kamar mandi agar di tidak perlu bertmeu Vallen dan berharap wanita itu sudah tidur.
Sayangnya perkiraan Rama meleset, saat dia keluar Vallen masih terjaga. Rama berusaha acuh dan langsung naik ke atas tempat tidurnya. Melihat Rama bersiap tidur, Vallen mematikan relevisi dan lampu utama.
"Rama," panggil Vallen setengah takut.
"Hem," sahut Rama.
"Apa aku boleh bekerja?"
Rama mendesah kesal, pria itu kembali bangun dan menghampiri Vallen di sofa.
"Berhenti membuat masalah di rumahku! Apa kau ingin orang-orang menganggapku suami yang tidak bertanggung jawab!" jawab Rama setengah membentak.
"Aku bosan di rumah. Dan kau tidak perlu mendengarkan omongan orang, toh kita hanya suami istri di atas kertas!" balas Vallen yang mulai terpancing amarahnya. Dia sangat kesal karena Rama membentaknya.
"Tolong tahan sebentar lagi, setelah bayi itu lahir kau bebas pergi kemanapun!" Rama kembali ke ke samping tempat tidur, dia mengambil dompet dan mengambil sebuah kartu. Rama lalu menyerahkan kartu berwarna hitam itu kepada Vallen. "Pegang ini. Kau boleh belanja apapun. Anggap saja bayaran karena kau mengandung anakku, ya meskipun aku tidak yakin jika itu benar-benar anakku!"
Ucapan Rama benar-benar menyinggung harga diri Vallen, wanita hamil itu sakit hati karena Rama meragukan anak yang di kandungnya.
Plakk...
Sebuah tamparan mendarat di wajah Rama, pria itu memegangi pipinya yang terasa panas dan menatap Vallen penuh kebencian. Hal yang sama juga Vallen lakukan, dia menatap Rama dengan tatapan mencemooh.
"Berhenti menghinaku dan meragukan anak ini. Kau sadar betul kau yang sudah merenggut kesucianku. Dan meksipun malam itu aku membuat kesalahan, tapi aku bukan wanita gampangan seperti yang aku pikirkan tuan Rama. Bayi ini pasti sangat sedih karena tidak di akui oleh ayah kandungnya sendiri. Dan satu hal lagi, jangan hanya menyalahkanku atas kejadian malam itu. Kita sama sama salah, bukan hanya masa depanmu yang hancur, masa depanku juga berantakan," teriak Vallen dengan air mata berlinang, dia benar-benar tidak tahan selalu menjadi objek kemarahan Rama.
Setelah melampiaskan amarahnya, Vallen merasa ada yang aneh dengan perutnya. Vallen memegangi perutnya yang semakin lama semakin sakit.
"Arrrghh," Vallen memekik kesakitan, wanita itu ambruk di sofa seraya memeluk perutnya.
"Kau kenapa?" tanya Rama, dia sedikit panik saat melihat Vallen mengerang kesakitan.
"Perutku sakit!"
Rama lalu menghampiri Vallen dan memeriksa kondisi Vallen. Rama terkejut saat melihat darah keluar dari pangkal paha Vallen dan dia menyadari ada yang salah dengan kandungan Vallen.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Rama segera menggendong tubuh Vallen, wanita itu terus mengerang kesakitan. Bahkan saking sakitnya, Vallen sampai tak sadarkan diri.