
Suara ******* menggema di dalam gudang, Felisya duduk di depan gudang tersebut sambil menyalakan sebuah rokok dan menghisapnya perlahan. Semenjak kepergian Victor dia bertekad untuk menjadi orang baik, dia bersumpah ini kali terkahir dia melakukan kejahatan. Dia hanya ingin membalas Kelly dan memberikan pelajaran yang setimpal pada gadis itu.
Satu jam kemudian ketiga anak buahnya keluar dari gudang tersebut. Feli lalu memberikan upah kepada ketiga preman itu dan menyuruh mereka pergi.
"Terima kasih bos!"
Feli lalu masuk ke dalam gudang dan melihat kondisi Kelly yang menyedihkan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Felisya dengan senyum menyeringai. "Inilah yang Vallen rasakan saat kau menjebaknya!"
"Aku tidak menjebaknya. Dia sendiri yang menginginkan uang dan menerima syarat dariku!"
"Kau hanya menyuruhnya merayu pria itu tidur dengannya. Hanya tidur bukan bercinta. Tapi kau malah memberi obat di minuman Rama!" Felisya berteriak karena Kelly belum juga mengakui kesalahannya. "Dengar nona, kejadian tadi sudah aku rekam. Jika kau berani mengganggu Vallen lagi, akan aku pastikan rekeman tersebut sampai di tangan orang tuamu dan aku tidak segan-segan untuk menyebarkannya!"
"A-apa? Ka-kau merekamnya?" pekik Kelly tak percaya.
"Ya. Kau tidak lihat kamera di sana!" Feli menunjuk kamera yang tak jauh dari sana. "Jauhi Vallen maka rekaman ini aman!"
"Ya aku janji tidak akan mengganggu Vallen lagi!"
Sementara di Bali, Vallen dan Rama sedang mempersiapkan kepulangan mereka ke Jakarta. Rama terpaksa menunda kepulangan mereka mengingat kondisi Vallen yang baru beberapa hari melahirkan secara caesar. Sebelum pulang ke Jakarta, Rama menemani Vallen datang ke butik Marco untuk berpamitan. Vallen ingin berterima kasih kepada Marco karena Marco mau membantunya selama dia di Bali.
"Terima kasih banyak Mar, aku tidak tau harus bagaimana membalas kebaikanmu," ucap Vallen seraya menjabat tangan Marco.
"Jangan seperti itu Vall, sesama teman harus saling membantu. Aku harap kau bisa menjadi perancang busana yang terkenal di kemudian hari," jawab Marco dengan bijak. Meski dia sempat tertarik pada Vallen, namun Vallen selalu membangun tembok tinggi di antara mereka. Melihat Vallen bahagia sudah cukup bagi Marco.
"Saya juga mau berterima kasih kepada anda karena selama ini sudah membantu istri saya," ucap Rama dengan tulus.
"Sama-sama. Semoga pernikahan kalian langgeng!"
"Amin!"
Beberapa hari kemudian, keluarga kecil itu kembali ke Jakarta. Kedatangan mereka sudah di tunggu oleh keluarga Rama. Indy begitu senang melihat Vallen akhirnya pulang ke rumahnya.
"Selamat datang di rumah nak, mama senang karena kau akhirnya pulang," sambut Indy seraya memeluk menantunya.
"Terima kasih ma, Vallen juga senang pulang ke rumah ini lagi!"
"Selamat datang kembali nak, ayah turut senang karena kalian kembali bersama!"
"Terima kasih yah!"
'Selamat datang Vall," ucap Sam dan Zea dengan ramah.
Di tengah penyambutan Vallen dan bayinya, tiba-tiba beberapa petugas kepolisian datang ke rumah Rama dan membuat keluarga itu bertanya-tanya.
"Selamat siang apa benar ini kediaman nyonya Vallen?" tanya salah seorang petugas.
"Ya, saya Vallen. Ada apa pak?" tanya Vallen gugup.
"Kami menemukan jasad nona Felisya di rumahnya dan kami juga menemukan surat yang di tulis oleh mendiang sebelum meninggal!"
"Kak Feli meninggal?" pekik Vallen tak percaya. "Apa yang terjadi?" tanya Vallen dengan mata berkaca-kaca.
"Dari hasil autopsi korban di nyatakan meninggal karena gantung diri!"
"Apa?" Vallen menangis histeris, meski dia sempat marah pada Felisya, namun wanita itu sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Rama pun ikut terkejut, dia lalu memeluk Vallen dan menenangkannya.
Sehari kemudian, jasad Felisya akhirnya di kuburkan. Vallen dan anggota keluarganya memakamkan Felisya dengan layak karena wanita itu sudah tidak memiliki siapapun.
Vallen kembali menangis di pusara Felisya, dia tak menyangka jika wanita itu nekad mengakhiri hidupnya.
"Semoga kau tenang di sana kak!"
Setibanya di rumah, Vallen membaca surat yang di tinggalkan oleh Felisya. Air mata Vallen tak berhenti keluar saat dia membaca surat tersebut.
*Dear Vallen...
Saat kau membaca surat ini artinya kakak sudah pergi menyusul Victor.
Vall, kakak sungguh memohon pengampunanmu. Kakak sangat menyesal karena semua penderitaanmu bermula dari kakak. Jika kakak boleh egois, tolong maafkan kesalahan kakak yang begitu besar.
Vall, kakak yakin kau akan bahagia bersama keluarga barumu. Di dalam amplop ini ada sebuah flashdisk, jika Kelly berani mengganggumu lagi cukup katakan jika kau memiliki sesuatu yang bisa menghancurkan hidupnya.
Satu hal lagi Vall, tolong sampaikan permohonan maaf kakak kepada Zea dan Sam. Kakak benar-benar menyesali perbuatan kakak selama ini dan kakak akan menebusnya di neraka.
Berbahagialah Vall..
Percayalah, kakak menyayangimu seperti adik kakak sendiri...
^^^Felisya*...^^^
Vallen menangis tersedu-sedu, dia masih tak percaya Felisya akan melakukan bunuh diri. Rama hanya bisa memeluk Vallen dan menenangkan istrinya.
"Bu Feli pasti sudah bertemu kakakmu. Mereka pasti bahagia di sana!"