
Udara pagi ini terasa sangat segar, Rama menemani Vallen berjalan-jalan di sekitar rumah karena berjalan kaki sangat bagus untuk ibu hamil. Karena kehamilannya yang sudah besar, Vallen berjalan dengan sangat hati-hati.
Rama dengan setia menemani istrinya, sesekali Rama memberikan air minum kepada Vallen agar tidak dehidrasi.
"Sayang, kau yakin mau lahiran normal?" tanya Rama seraya mengusap pinggang Vallen, wanita hamil itu duduk di depan sebuah ruko yang belum buka.
"Aku sangat yakin Ram," jawab Vallen tanpa ragu.
Rama tersenyum mendengar jawaban sang istri. "Nanti siang kita ke dokter ya. Harusnya kemarin hari perkiraan lahirnya kan, kita cek apakah si kecil sudah siap bertemu kita!" ajak Rama dengan suara yang begitu lembut.
Vallen mengangguk dan menyetujui saran dari sang suami. Dia juga ingin tau kondisi bayinya karena selama berada di Bali Vallen belum memeriksakan kandungannya.
Siang harinya Rama dan Vallen pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Vallen. Keduanya sudah berada di ruangan dokter dan Vallen sedang di periksa.
"Bagaimana dok kondisi bayi kami dok?" tanya Rama tak sabar. Sekilas Rama merasa cemas karena melihat sesuatu yang aneh di layar monitor saat Vallen sedang di USG.
"Ketubannya sudah keruh, tapi posisi bayinya belum masuk panggunl. Hari ini juga nyonya harus di operasi agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada adik bayinya," dokter menjelaskan kondisi kehamilan Vallen secara rinci.
"Ram," Vallen meraih tangan Rama, mendengar kata operasi tiba-tiba dia merasa takut.
Rama mengusap tangan Vallen agar istrinya tenang.
"Apa tidak ada pilihan lain dok?" tanya Rama dengan harapan Vallen masih bisa melakukan persalinan normal sesuai keinginannya.
"Karena kepala bayi belum masuk jalan lahir jadi opsi satu-satunya adalah operasi caesar. Apalagi air ketubannya sudah keruh dan bisa membuat bayi keracunan!"
Rama lalu mengusap kepala Vallen dan berusaha menenangkannya. "Sayang, sepertinya anak kita sudah tidak sabar untuk bertemu momy dan dady nya. Tidak papa kan kalau harus operasi? Kasian anak kita, dia pasti sudah tidak nyaman karena air ketubannya sudah keruh," Rama berusaha membujuk istrinya dengan lembut.
"Tapi aku takut Ram," keluh Vallen dengan mata berair.
"Tidak perlu takut. Aku akan menemanimu!"
"Apa boleh dok?" Vallen menatap dokter penuh harap.
"Saya seorang dokter dok, jadi saya sudah terbiasa dengan ruang operasi!" Rama menunjukan kartu dokternya agar dokter kandungan Vallen mengizinkannya untuk masuk karena tidak semua orang bisa menemani istrinya masuk ke dalam ruang operasi.
"Tentu saja boleh!"
Vallen merasa lega karena setidaknya Rama akan menemaninya. Vallen sudah berada di ruang perawatan karena sore nanti dia akan di operasi. Indy dan Zea juga sudah datang untuk memberikan semangat dan dukungan kepada Vallen.
"Jangan gugup ya, mama yakin semua akan baik-baik saja!" ucap Indy seraya mengusap kepala Vallen dengan penuh kasih sayang.
"Aku sudah tidak sabar bertemu keponakanku. Pasti dia sangat cantik sepertimu Vall," ucap Zea dengan gemas.
"Dia mirip sepertiku!" sahut Rama tak terima.
"Ck, semoga saja tidak! Dan jangan sampai wataknya mirip denganmu!" celetuk Zea seraya melirik Rama.
"Memang kenapa dengan watakku?"
"Keras kepala dan menyebalkan!" tegas Zea.
"Ck, kau juga keras kepala sepertiku!" ucap Rama tak mau kalah.
"Tentu saja kalian sama-sama keras kepala, jangan lupalan kalau kalian kembar!" cetus Indy sambil terkekeh.
Vallen tersenyum bahagia karena dia bisa merasakan kehangatan keluarga lagi. Melihat canda tawa Rama dan Zea sungguh membuat dia merasa lebih tenang.
Operasi akan segera di lakukan, Vallen sudah berada di ruang operasi dengan di temani Rama. Pria itu berdiri cukup jauh dari Vallen karena dia tidak mau mengganggu pekerjaan para dokter.
"Sayang, aku di sini. Jangan takut ya!" ucap Rama kembali menenangkan istrinya.
"Wah, suami anda sangat romantis nyonya, anda sangat beruntung" ucap salah seorang dokter yang berada di ruang tersebut.
"Anda benar dok, saya memang sangat beruntung!"
Tiga puluh menit kemudian, suara tangis bayi menggema di dalam ruang operasi. Rama tak kuasa menahan air matanya, akhirnya dia telah resmi menjadi seorang ayah.
Rama menghampiri Vallen dan mencium kening istrinya dengan lembut. "Terima kasih sayang. Terima kasih karena sudah berjuang melahirkan anak kita!" ucap Rama dengan penuh haru.
"Selamat tuan, nyonya. Bayinya perempuan dan sangat cantik!"
Vallen tak bisa berkata-kata. Rasanya dia sangat bahagia sekarang. Di dalam hati Vallen tak henti-hentinya bersyukur karena bayinya lahir dengan selamat.
Beberapa saat kemudian Vallen sudah di pindahkan ke ruang.perawatan, sementara sang bayi masih berada di ruang khusus bayi agar sang ibu bisa beristriahat dan memulihkan tenaga.
Setelah efek obat biusnya hilang, Vallen mulai menggigil dan merasakan nyeri di perut bagian bawahnya. Samar-samar Vallen mendengar Rama yang terus membisikan kalimat sayang di telinganya.
"Aku mencintaimu Ram," gumam Vallen masih dalam kondisi mata tertutup dan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.
BERSAMBUNG...