
Rama memutuskan untuk tinggal di Bali sementara waktu. Dia akan berusaha membujuk Vallen agar istrinya mau memaafkannya dan kembali ke Jakarta bersama-sama. Pagi hari Rama datang ke rumah Vallen membawa sarapan, Rama rindu saat-saat mereka sarapan bersama.
Namun kedatangan Rama tak di sambut baik oleh Vallen, wanita itu enggan membuka pintu meski Rama sudah mengetuknya berulang kali.
"Vall, aku datang membawa sarapan untukmu. Aku taruh di meja ya. Aku pergi, jaga dirimu dan bayi kita baik-baik," ucap Rama, meski dia sedih karena Vallen tak mau keluar, namun Rama belum akan menyerah karena ini baru hari pertamanya berperang.
Setelah Rama pergi, Vallen membuka pintu rumah dan memeriksa sekeliling, saat dia yakin Rama sudah pergi, Vallen meraih makanan yang Rama bawa dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Apa itu Vall?" tanya Felisya yang baru saja keluar dari kamarnya, wanita itu memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Vallen karena Rama sudah mengetahui keberadaan Vallen.
"Makanan. Ada dua porsi, kakak bisa memakannya satu!"
Vallen lalu menikmati makanan yang Rama bawa, entah bawaan bayi atau memang Vallen juga merindukan makan bersama Rama sehingga Vallen tidak membuang makanan yang Rama bawa.
Setelah kenyang, Vallen kembali mengerjakan desain bajunya. Dia sangat bersemangat karena hari ini hari pertamanya bekerja sama dengan butik Marco. Vallen akan melakukan yang terbaik agar menghasilkan banyak uang dan bisa membuka butik sendiri di kemudian hari.
Waktu terus berputar, saat jam makan siang Marco datang ke rumah Vallen untuk memerika pekerjaan Vallen. Karena tak ingin mengundang kesalah pahaman dari tetangga mereka memilih membahas pekerjaan di teras rumah.
"Lihat desain ini Mar, bagaimana menurutmu?" tanya Vallen seraya menyerahkan desainnya kepada Marco.
Marco mengamatinya dengan seksama, gaun rancangan Vallen terlihat begitu detai dan sangat bagus. "Ini keren Vall, bagaimana kalau kau memberi sedikit pernah-pernik di bagian leher agar tidak terkesan sepi," ujar Marco memberi saran.
"Aku akan memikirkan aksen apa yang cocok di pakai," balas Vallen sambil tersenyum.
"Sudah siang, bagaimana kalau kita makan dulu! Kebetulan aku bawa makanan untuk kita dan kakakmu!"
Vallen tidak mungkin menolak niat baik Marco, keduanya lalu makan siang bersama di teras rumah. Di sisi lain, Rama kembali datang membawa makan siang dan susu khusus ibu hamil serta beberapa keperluan Vallen. Namun Rama menghentikan langkahnya saat melihat Vallen sedang bersama Marco dan terlihat sangat senang.
"Tahan Rama, tahan," ucap Rama pada dirinya sendiri. Pria itu kembali masuk ke dalam mobil dan menunggu sampai Marco pergi. Jika menuruti amarahnya, Rama ingin sekali menghampiri mereka dan mengusir Marco, namun Rama harus membuat kesan baik di depan Vallen.
Satu jam kemudian Marco akhirnya pergi, dengan cepat Rama keluar dari mobil dan berlari ke arah Vallen yang akan masuk ke dalam rumah. Karena terburu-buru, Rama tidak sengaja tersandung dan jatuh di halaman rumah, semua barang yang di bawanya pun berserakan di tanah.
Melihat Rama jatuh, Vallen reflek berlari menghampiri Rama. "Kau baik-baik saja? Apa ada yang luka? Kenapa kau sangat ceroboh?" cecar Vallen dengan cemas.
"Kenapa kakimu?" Vallen semakin panik.
"Sepertinya terkilir," keluh Rama.
"Dasar ceroboh. Ayo duduk di sana, aku akan mengobatinya!"
"Tapi aku tidak bisa jalan Vall!"
Vallen membuang nafas kasar, wanita itu lalu memapah Rama sampai di teras dan membantu Rama duduk. "Tunggu di sini!"
"Ya!"
Tak lama kemudian Vallen kembali membawa es batu dan handuk, dengan hati-hati Vallen mengompres pergelangan kaki Rama. Sementara itu Rama berusaha menahan senyumnya, dia sangat merindukan saat-saat mereka berduaan seperti ini. Di saat Vallen sedang mengompres kakinya, tak sengaja Rama melihat desain di atas meja, Rama lalu memeriksanya dan terkesima dengan desain yang Vallen gambar.
"Apa ini desain buatanmu?" tanya Rama.
"Hem!"
"Sangat bagus. Mama dan Zea pasti heboh jika melihat hasil rancanganmu!"
Vellen menghembuskan nafas kasar, wanita itu lalu berdiri dan merebut desain yang ada di tangan Rama. "Pergilah ke rumah sakit agar kakimu tidak cedera serius!" usir Vallen setelah sadar jika sikapnya menunjukan jika dia masih perduli pada Rama.
"Tidak perlu!" jawab Rama.
"Ck, terserah kau saja. Aku sibuk, cepat pergi!" Vallen kembali mengusir Rama.
"Baiklah, aku akan pergi. Jaga kesehatanmu. Jangan terlalu lelah mendesain!" ucap Rama, pria itu beranjak dari duduknya dan melupakan fakta jika dia baru saja terkilir. Rama berjalan dengan normal ke mobilnya dan membuat Vallen geram.
"Ramaa, dasar pembohong!"
BERSAMBUNG...