
Felisya kini telah berada di Jakarta, dia merasa lega karena akhirnya Vallen kembali bersama Rama dan mereka telah di karuniai seorang putri yang sangat cantik. Di waktu senggangnya Felisya mengunjungi makam Victor, wanita itu membawa seikat bunga mawar merah dan meletakannya di atas batu nisan.
"Bagaimana kabarmu di sana? Kau pasti lega kan? Vallen sudah bersama keluarga barunya sekarang. Apa artinya tugasku sudah selesai?" ucap Felisya seraya mengusap batu nisan. "Victor, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menyusulmu agar kau tak kesepian?" sambungnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah pulang dari makam, Felisya teringat tentang cerita Vallen mengenai Kelly. Felisya rasa Vallen tidak akan tenang selama Kelly masih di beri pelajaran. Untuk itu, sebelum melanjutkan kehidupannya sendiri, Felisya akan memastikan jika hidup Vallen akan selalu bahagia dan tidak ada satu orang pun yang berani mengganggu Vallen.
Bukan hal sulit bagi Felisya untuk menemukan keberadaan Kelly. Malam harinya Felisya mengikuti Kelly ke sebuah bar, Felisya memantau dari kejauhan. saat tengah malam Kelly mulai mabuk, gadis itu keluar dari bar dengan langkah sempoyongan. Kesempatan itu Felisya gunakan untuk menculik Kelly dan membawanya ke sebuah gudang kosong yang tak jauh darinya. Tentu saja Felisya tak sendiri, dia menyuruh beberapa preman untuk membantunya.
Cukup lama Kelly tak sadarkan diri, saat hari menjelang pagi gadis itu mulai sadar dan terkejut karena menyadari dirinya duduk dalam kondisi terikat. Kelly mencoba berteriak namun mulutnya di tutup oleh lakban.
Kelly mencoba melepaskan diri sehingga menimbulkan suara dari gesekan kursi dan lantai. Felisya yang berada tak jauh dari sana pun segera menghampiri Kelly.
"Kau sudah sadar?" tanya Felisya seraya menarik lakban di mulut Kelly secara paksa.
"Siapa kau?" tanya Kelly dengan tatapan tajam.
"Aku?" Felisya menunjuk dirinya sendiri. "Aku orang yang akan membuatmu merasa menyesal seumur hidup!"
"Apa kita saling mengenal? Lepaskan aku!"
"Entah, tapi mungkin kau mengenal seseorang bernama Vallencia Brown!" jawab Felisya dengan senyum mengerikan.
"Vallen," gumam Kelly. "Jadi Pelaaaaaccuuur itu yang menyuruhmu! Cepat lepaskan aku. Aku akan membayar berapapun yang kau inginkan!"
"Berapapun?" tanya Felisya.
Kelly mengangguk dengan cepat. "Ya, berapapun!"
Felisya tertawa terbahak-bahak, wanita itu lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Kelly. "Sayangnya aku tidak butuh uangmu!"
"A-apa yang kau inginkan?" Kelly mulai gugup, apalagi saat melihat Felisya mengambil sebuah balok kayu dan menyeret balok tersebut kearahnya.
"Rekaman suara yang kau edit!"
"Aku tidak tau apa yang kau maksud!" jawab Kelly bohong.
Sebuah pukulan mendarat di lengan Kelly membuat gadis itu memekik kesakitan.
"Apa kau masih tidak tau apa maksudku? Apa aku perlu memukulmu lebih keras lagi!" ancam Felisya dengan tatapan mengerikan.
Felisya kembali mengangkat balok kayunya dan membuat Kelly ketakutan. "Ada di ponselku!" teriak Kelly seraya memejamkan matanya.
"Mana ponselmu?"
"Di saku celanaku!"
Felisya lalu mengambil ponsel Kelly dan mencari rekaman suara tersebut. Setelah menemukannya Feli memutar rekaman itu dan di sana terdengar jelas perjanjian tidak masuk akal antara Kelly dan Vallen. Felisya lalu mengirimkan rekaman itu ke ponselnya.
"Sekarang lepaskan aku!" pinta Kelly.
"Tidak semudah itu. Kau telah menghancurkan hidup Vallen jadi kau harus merasakan apa yang Vallen rasakan!"
"A-apa maksudmu?"
Felisya menyeringai, wanita itu lalu mencengkeram mulut Kelly sehingga terbuka dan Felisya memasukan sesuatu ke dalam mulut Kelly.
"Apa yang kau masukan ke dalam tubuhku?" tanya Kelly sambil berusaha mengeluarkan benda yang Felisya masukan ke dalam mulutnya.
"Obat Perangsaaang!"
"Apa?" Kelly memekik dengan wajah yang begitu terkejut.
Setengah jam kemudian tubuh Kelly mulai terasa panas, gadis itu meliuk-liuk dan mulai merasa tidak nyaman. Melihat obatnya mulai bekerja, Felisya lalu memanggil ketiga preman suruhannya.
"Sekarang tugas kalian! Kalian boleh melakukan apa saja kepadanya!" titah Felisya dengan kejam.
"Baik bos!"
"Tidak! Jangan! Ampun!"