
"Tinggalah di sini Ram, bersamaku dan bayi kita!"
Mendengar ucapan Vallen membuat Rama membeku untuk sesaat. Benarkah apa yang dia dengar barusan? Benarkah Vallen mengajaknya tinggal bersama?
"Kau tidak keberatan aku tinggal di sini?" tanya Rama memastikan.
Vallen menggelengkan kepalanya pelan. "Ayo masuk," ajaknya.
Rama tersenyum dan segera mengikuti keluarganya masuk di dalam rumah. Di dalam rumah sudah ada Felisya yang berdiri sambil membawa kopernya.
"Kakak mau kemana?" tanya Vallen sambil menghampiri Felisya.
"Keluargamu sudah di sini. Kakak akan pulang ke Jakarta!" jawab Felisya sambil tersenyum.
Vallen tidak menahan kepergian Felisya karena dia yakin Felisya tidak nyaman tinggal bersama Zea dan keluarganya mengingat sejarah kelam mereka. "Hati-hati di jalan kak!"
Felisya menganggukkan kepalanya pelan. "Semoga persalinanmu lancar ya!" Felisya lalu keluar dari rumah Vallen, tanpa dia sadari Zea mengejarnya.
"Bu Feli," panggil Zea, merasa di panggil Felisya pun berhenti dan berbalik.
"Ya," jawaban Felisya sedikit canggung.
"Terima kasih karena sudah menemani Vallen selama dia di sini," ucap Zea dengan tulus.
Felisya tersenyum ramah. "Sudah menjadi kewajibanku Ze. Sekarang aku titipkan dia pada kalian. Tolong jaga dia baik-baik!"
"Tentu bu. Hati-hati di jalan!" Zea mengulurkan tangannya ke arah Felisya, wanita itu sempat tercengang namun detik berikutnya dia menyambut uluran tangan Zea. Kedua wanita itu pun saling berjabat tangan dengan senyum penuh kelegaan.
Setelah makan malam, Rama menggelar kasur lantai yang dia temukan di gudang. Di rumah itu hanya ada dua kamar yang di pakai oleh Vallen, ibu serta adiknya sehingga Rama memilih tidur di ruang tamu. Rama merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis itu, rasanya tidak terlalu nyaman, namun dia bersyukur karena Vallen mengizinkannya tinggal bersama di rumah tersebut.
"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Rama.
Vallen menggeleng. "Kau mau tidur di situ?" tanya Vallen dan Rama hanya mengangguk. "Pasti rasanya kurang nyaman!"
"Tidak masalah. Aku sudah biasa tidur di kursi dan lantai," jawab Rama sambil tersenyum. Sebagai seorang dokter tidur di tempat yang kurang nyaman sudah menjadi bagian dari hidupnya.
"Tunggu sebentar aku ambilkan bantal!" Vallen lalu kembali ke kamarnya, tak lama kemudian dia kembali keluar sambil membawa bantal dan selimut dan memberikannya kepada Rama.
"Terima kasih Vall," Rama menerima bantal tersebut dengan senang hati. "Sudah malam, tidurlah!"
"Hem!"
Rama kembali merebahkan tubuhnya setelah Vallen kembali ke kamarnya. Namun setengah jam kemudian Rama kembali bangun saat mendengar Vallen memanggil namanya. Rama berlari ke kamar Vallen karena khawatir Vallen akan segera melahirkan, untung saja kamar Vallen tida di kunci sehingga Rama bisa masuk.
"Kenapa? Apa kau mulai kontraksi?" tanya Rama dengan cemas.
"Aku tidak bisa bergerak," keluh Vallen, wanita hamil itu dalam posisi berbaring miring.
Rama lalu berjongkok di samping tempat tidur Vallen dan mengusap perut Vallen dengan lembut. "Perutmu kram," ucap Rama pelan. Rama kembali mengusap perut Vallen, tanpa dia duga dia mendapat tendangan dari di kecil. "Hay girl, kau menendang dady ya," ujar Rama dengan begitu senang. "Jangan nakal di perut momy ya, kasian momy tidak bisa bergerak!"
Vallen hanya dia saja mendengar percakapan Rama dan bayi yang masih berada di dalam perut. Namun di dalam hatinya Vallen sungguh merasa senang. Dia bahkan tak perduli jika Rama menganggapnya sebagai beban atau batu sandungan karena Vallen membutuhkan Rama sekarang.
Tanpa sadar Vallen mengusap kepala Rama dengan pelan. Rama mendungak dan menatap Vallen yang juga tengah menatapnya.
"Jangan usir aku lagi Ram. Tolong biarkan aku menjadi bagian dari hidupmu!"
BERSAMBUNG...