
Rama kembali ke Jakarta dengan tangan kosong, dia belum berhasil membawa Vallen pulang bersamanya. Keluarga Rama pun tak banyak bertanya, melihat wajah sendu Rama seolah menjawab pertanyaan mereka, jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana.
Setibanya di Jakarta, Rama di sibukan dengan beberapa operasi darurat. Selama tiga hari berturut-turut Rama memaksakan dirinya untuk tinggal di ruang operasi.
Setelah semua operasinya selesai, Rama melimpahkan pekerjaannya selama sebulan ke depan kepada rekan dokternya. Kali ini Rama akan mengajukan cuti secara resmi tanpa mengabaikan pekerjaannya.
"Aku mendukungmu Ram," ucap Sam saat Rama datang mengajukan permohonan cuti.
"Terima kasih Sam!"
Sama halnya dengan Rama yang sibuk dengan pekerjaannya, Vallen pun sibuk menyelesaikan desain karena perkiraan lahir bayinya semakin dekat. saking sibuknya bekerja, Vallen bahkan sampai lupa jika dia belum membeli perlengkapan bayinya. Vallen baru teringat saat Rama mengirim semua keperluan bayi mereka dari Jakarta.
"Kau bahkan masih menyimpannya Ram," gumam Vallen saat membuka paket berisi semua perlengkapan bayi mereka.
Vallen membereskan satu persatu perlengkapan bayinya, dia tersenyum menatap gaun mungil yang di beli Rama waktu itu. Rama bersikeras ingin membeli gaun berwarna merah muda tersebut meski bayi mereka belum bisa memakainya.
"Auw," Vallen memekik saat merasakan pergerakan bayinya. Wanita itu mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. "Apa kau menyukai gaun yang di belikan dady?" tanya Vallen pada sang jabang bayi. Vallen terkekeh saat bayinya kembali menendang, sepertinya bayi nya ingin mengatakan jika dia menyukai gaun tersebut dan juga merindukan sang dady.
"Sabar ya, semoga dady datang saat kau lahir nanti!"
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Vallen, wanita hamil itu keluar untuk melihat siapa yang datang. Vallen tersenyum saat melihat Marco datang bersama beberapa rekan kerjanya, rencananya hari ini mereka akan mencocokan antara desain dan bahan yang akan di pakai untuk membuat gaun. Sampai melahirkan nanti, Vallen hanya bertugas menggambar desainnya saja dan sisanya dia serahkan kepada Marco.
"Apa suamimu sudah pulang?" tanya Marco setelah pekerjaan mereka selesai.
"Hem," jawab Vallen singkat.
"Maaf kalau aku lancang Vall. Sebelumnya kau bilang jika kalian telah berpisah dan..."
"Aku pergi dari rumah karena suatu hal Mar. Itu saja yang bisa aku katakan!" potong Vallen sebelum Marco menyelesaikan kalimatnya.
"Maaf Vall," ujar Marco tak enak hati.
"Apa Vallen tinggal di sini?" tanya Indy begitu mereka berada di depan rumah Vallen.
"Ya mah!"
Tak lama berselang, Vallen keluar dari rumah. Wanita hamil itu terkejut melihat kedatangan Indy dan Zea. Vallen pikir Rama tidak jadi datang, dan pria itu malah membawa keluarganya. Hal tersebut tentu saja membuat Vallen merasa senang.
"Mama, Zea," ucap Vallen dengan wajah sumringah, wanita hamil itu berjalan menghampiri mertua dan iparnya.
Indy tak kuasa menahan air matanya, dia sangat mencemaskan Vallen selama ini. "Maafin mama nak, maafin mama," ucap Indy penuh sesal.
"Jangan bilang begitu mah, mama tidak salah. Vallen lah yang bersalah!" jawab Vallen, wanita hamil itu lalu menangis di pelukan sang mertua.
"Bagaimana kabarmu nak, mama sangat cemas!"
Vallen melepaskan pelukannya, dia lalu menatap wajah senja ibu mertuanya. "Vallen baik mah, bagaimana dengan mama?"
"Mama tidak baik-baik saja nak. Setiap hari mama mencemaskanmu!"
"Maaf ma," Vallen menyesal karena membuat Indy khawatiir.
"Lupakan nak. Yang terpenting mama sudah lega sekarang!"
"Ayo kita mau ma, Ze," ajak Vallen seraya menggandeng tangan Indy.
"Kalian masuklah, aku akan mencari hotel!" ucap Rama, dia memilih tinggal di hotel karena tidak mau membuat Vallen merasa tidak nyaman.
"Tinggalah di sini Ram, bersamaku dan bayi kita!"
BERSAMBUNG...