ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Morning Sickness



Setelah merenung selama beberapa hari, Vallen memutuskan untuk menemui Felisya, dia ingin mendengar pengakuan Felisya secara langsung, dia juga ingin tau alasan Felisya merahasiakan semuanya. Pagi-pagi sekali Vallen sudah rapi, bahkan dia bangun sebelum penghuni rumah yang lainnya bangun. Vallen turun ke dapur dan membantu asisten rumah tangganya menyiapkan sarapan.


Pukul tujuh pagi semua orang berkumpul di meja makan, mereka heran karena pagi ini Vallen terlihat lebih bersemangat.


"Vallen yang menyiapkan sarapan?" tanya Indy seraya menatap wajah menantunya yang tak lagi pucat.


"Iya mah!"


"Jangan terlalu memaksakan diri nak, mama tidak mau kau kelelahan!"


"Vallen baik-baik saja!" Vallen terlihat ragu untuk meminta izin.


"Ada apa nak?" Indy begitu peka karena merasa Vallen ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.


"Vallen mau minta izin keluar, Vallen ini menemui kak Felisya. Kami harus membicarkan masalah ini mah," ucap Vallen setelah mengumpulkan keberaniannya.


"Tapi Vall," sahut Zea khawatir, dia takut Felisya akan menyakiti Vallen.


"Dia tidak akan menyakitiku Ze, percayalah!"


"Biar mama mengantarmu ya!" tawar Indy, dia juga cemas terjadi sesuatu pada menantunya.


"Vallen bisa sendiri mah, tolong izinkan Vallen menyelesaikan ini sendiri!"


Karena Vallen bersikeras, akhirnya Indy mengizinkan Vallen pergi dengan syarat tidak lebih dari satu jam, jika lebih dari itu maka Indy akan datang menjemputnya. Vallen setuju dengan persyaratan mama mertuanya, setelah sarapan dia segera pergi ke rumah Felisya menggunakan taxi online.


Cukup lama Vallen berdiri di depan rumah Felisya, dia ragu untuk melangkahkan kakinya. Namun, Vallen harus bertanya kepada Felisya secara langsung. Setelah memikirkan matang-matang, Vallen memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Tak berselang lama Felisya keluar dan terkejut melihat kedatangan Vallen.


"Vall, ayo masuk," ajak Felisya dengan wajah menegang, sepertinya Felisya sudah tau maksud kedatangan Vallen kali ini. "Mau minum apa Vall?"


"Tidak usah. Aku ingin menanyakan sesuatu," Vallen tidak ingin buang-buang waktu karena Indy hanya memberinya waktu satu jam, dia tidak mau mertuanya menyusul dan masalah semakin runyam.


"A-apa itu?" Felisya menjawabnya dengan gugup.


"Soal kak Voctor? Benarkah kak Feli yang melakukannya?"


Felisya menelan ludahnya dengan kasar, namun tiba-tiba lidahnya kelu dan dia tidak bisa menjawab pertanyaan Vallen.


"Kenapa diam kak? Apa benar kakak yang menabrak kak Victor?" cecar Vallen dengan tatapan sendu.


Felisya mengangguk pelan, dia bahkan tidak sanggup menatap wajah Vallen karena merasa bersalah pada gadis itu. Felisya merosot ke lantai, wanita itu berlutut di bawah kaki Vallen. Tidakan Felisya sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaan Vallen, wanita hamil itu menangis tersedu-sedu.


"Kenapa kakak merahasiakannya?" tanya Vallen setelah berhenti menangis.


"Aku takut kau akan membenci ku. Maafkan aku Vall. Aku yang melakukannya, aku yang membuat Victor meninggal," akhirnya Felisya mengakui semua perbuatannya, dia akan menerima kemarahan Vallen padanya. Dia juga akan menerima jika Vallen akan memukulnya.


Vallen beranjak dari duduknya, dia tidak tahan lagi melihat wajah Felisya. Dia takut hilang kendali dan memukul Felisya. Vallen berlari keluar dengan air mata berderai, namum langkahnya terhenti saat dia melihat Indy dan Zea telah menunggunya di depan rumah Felisya. Vallen kembali berlari dan menghambur ke dalam pelukan Indy.


"Menangislah nak, keluarkan semuanya!" ucap Indy seraya mengusap kepala Vallen.


Setelah Vallen lebih tenang, Indy membawa menantunya pulang ke rumah. Indy membiarkan Vallen seorang diri, dia membiarkan menantunya untuk berpikir secara jernih sehingga dia bisa menerima kenyataan yang menyakitkan itu.


Vallen mematikan televisinya saat mendengar Rama pulang. Dia lalu berbaring di sofa dan menutup tubuhnya dengan selimut, dia malas bertemu dan memilih pura-pura tidur.


Rama masuk ke dalam kamar, pria itu segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian Rama keluar dan melemparkan baju kotornya ke dalam keranjang.


"Menangis tidak akan membuat kakakmu hidup lagi!" ucap Rama seraya menatap punggung Vallen. Kalimat singkat itu mencelos hati Vallen. Namun dia juga tidak bisa memaafkan Felisya semudah itu, apalagi Felisya tidak memiliki niat baik untuk berkata jujur padanya.


Di saat sedang merenung, tiba-tiba Vallen merasa perutnya kembali bergejolak. Kehamilannya ini terbilang cukup aneh, biasanya ibu hamil akan mual dan muntah pada pagi hari, namun Vallen justru sebaliknya. Dia selalu merasa mual di malam hari.


Vallen membuka selimut tebalnya, dia melirik Rama di atas ranjang dan untungnya pria itu sudah terlelap. Vallen berjalan mengendap-endap ke arah keranjang baju kotor, dia lalu mengambil kemeja Rama dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Vallen duduk di atas kloset sambil memeluk kemeja Rama dan sesekali menciumnya. Ah, aroma tubuh Rama membuat perutnya membaik dan rasa mualnya hilang seketika.


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, mata Vallen membelalak begitu melihat Rama berdiri di ambang pintu. Ah bodihnya dia, kenapa dia tidak mengunci pintu, sekarang dia tertangkap basah sedang menciumi kemeja Rama. Pria itu pasti akan salah paham dan mengira Vallen adalah orang cabul.


"Apa yang kau lakukan dengan bajuku?" tanya Adam, seperti biasa suaranya terdengar dingin dan menakutkan.


"Aku..." Vallen kehilangan kata-katanya, dia tidak tau harus berbuat apa.


Rama berjalan mendekat, dengan kasar Rama menarik kemejanya yang sedang di peluk oleh Vallen.."Apa kau cabul?" ucap Rama dengan tatapan jijik. "Aku sudah bilang, jangan pernah sentuh barang-barangku. Beraninya kau memeluk bajuku!" Rama memasukan kemejanya ke dalam tong sampah.


Tiba-tiba Vallen kembali mual, dia kembali memuntahkan isi perutnya sampai badannya terasa lemas. Setelah merasa lebih baik, Vallen keluar dari kamar mandi. Dia berhenti tepat di samping Rama. "Maaf karena aku lancang. Aku melakukannya karena bayiku menyukai aromamu. Mualku hilang setelah mencium aroma tubuhmu! Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi! Dan aku bukan orang cabul!"


Vallen kembali berbaring di atas sofa. Sementara Rama masih membeku di tempat. Dia merasa bersalah karena mencurigai Vallen, dia tidak tau jika wanita hamil itu memiliki kesulitannya sendiri.


Malam-malam selanjutnya Vallen bolak balik ke kamar mandi karena perutnya serasa di aduk-aduk. Entah berapa kali dia masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Rama yang sudah tidur pun terganggu dengan suara Vallen, pria itu terpaksa bangun untuk memeriksa kondisi Vallen, dia takut Vallen pingsa di kamar mandi.


"Kau kenapa?" tanya Rama begitu Vallen keluar dari kamar mandi.


"Mual," jawab Vallen singkat.


"Lebih baik besok kau ke dokter meminta obat agar tidak mual lagi!"


"Ya!"


Vallen melewati Rama begitu saja. Dia kesal karena Rama malah menyuruhnya pergi ke dokter alih-alih meminjamkan baju kotor untuknya.


Baru saja mau berbaring, perutnya kembali mual. Vallen berlari ke kamar mandi dan muntah. Rama benar-benar terganggu dengan suara Vallen, dia melirik keranjang baju dan mengambil kemeja yang di pakainya hari ini.


"Aku pinjamkan ini. Kau sangat berisik dan menggannguku!" Rama melemparkan kemeja miliknya, dia lalu kembali ke ranjang untuk melanjutkan tidurnya.


Vallen segera memeluk baju Rama dan menciumnya. "Ah, obat mujarabku!"


BERSAMBUNG...