ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Baikan



"Jangan usir aku lagi Ram. Tolong biarkan aku menjadi bagian dari hidupmu!" ucap Vallen dengan mata berkaca-kaca.


Rama begitu terenyuh mendengar ucapan Vallen, pria itu lalu bangun dan memeluk tubuh Vallen yang masih berada di tempat tidur. Rama tak bisa menahan air matanya, dia tau dia sangat melukai Vallen dan dia sangat menyesalinya. "Maafin aku Vall. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi!" ucap Rama penuh sesal.


Vallen membelas pelukan Rama, wanita hamil itu menangis sejadi-jadinya di pelukan sang suami. "Aku juga berjanji tidak akan menjadi batu panghalangmu," ujar Vallen seraya terisak.


"TIdak sayang. Kau bukan batu penghalang. Kau adalah hidupku sekarang. Jangan pernah pergi lagi. Jangan pernah tinggalkan aku lagi!"


Keduanya saling meluapkan rasa sesak di dada. Mereka menangis dalam dekapan masing-masing. Perpisahan sementara dan jarak jauh akhirnya menyadarkan mereka dengan perasaan masing-masing. Mereka saling membutuhkan, mereka saling bergantung satu sama lain, hanya saja ego mereka masih tinggi sehingga mereka tidak menyadari bagaimana perasaan mereka sebenarnya.


Rama dan Vallen sudah berada di ranjang yang sama. Vallen terlihat begitu nyaman berada di pelukan Rama, pelukan yang beberapa hari ini begitu dia rindukan.


"Aku sangat menyesal Vall, aku minta maaf" entah sudah berapa kali Rama mencurahkan penyesalannya, dan entah sudah berapa puluh kali pria itu meminta maaf pada istrinya.


"Sudah cukup Ram. Kau sudah minta maaf puluhan kali. Aku tidak menyalahkanmu karena sejak awal aku memang bersalah. Aku tidak jujur padamu dan seharusnya aku yang minta maaf padamu!"


"Tetap saja seharusnya aku tidak berkata kasar padamu. Setiap hari aku merutuki diriku sendiri. Aku memutuskan untuk berhenti minum alkohol!"


Vallen menjauhkan wajahnya dan menatap Rama. "Benarkah? Kau tidak minum alkohol lagi?" tanya Vallen.


"Hem. Aku tidak akan minum lagi. Aku tidak mau kehilanganmu gara-gara minuman itu!"


Vallen tersenyum senang. "Terima kasih Ram!"


"Untuk?"


"Untuk semuanya. Terima kasih karena kau tidak menyerah padaku!"


"Tapi kenapa kau sangat kurus. Kau terlihat sedikit jelek," goda Vallen seraya mengusap wajah Rama yang terlihat tirus.


Rama hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Aku menggila saat kau pergi. Aku lupa makan, kadang aku juga tidak tidur karena mencarimu! Aku sangat lega sekarang. Aku bisa makan dengan tenang dan tidur dengan nyenyak!"


"Kenapa sampai melupakan makan, bagaimana kalau kau sakit!"


"Bagaimana aku bisa makan sementara aku tidak tau nasibmu di luar sana! Jangan bahas itu lagi, aku ingin tidur sambil memelukmu!"


Vallen mengangguk, dia lalu merubah posisinya dan membelakangi sang suami agar Rama lebih leluasa memeluk perutnya yang buncit. Begitu tangan Rama menyentuh perutnya, rasanya begitu nyaman. Kram perutnya hilang, sakit di punggungnya pun berkurang. Vallen tiba-tiba mengantuk dan ingin tidur.


Matahari mulai meninggi, Vallen bersama Indy dan Zea sedang menyiapkan sarapan sederhana karena di rumah Vallen tidak ada perlengkapan memasak yang lengkap. Ketiga wanita itu sambil berbincang dan membicarakan apa saja yang Rama lakukan selama Vallen pergi.


Sementara di kamar, Rama baru saja bangun. Dia meraba sisi tempat tidur dan tidak menemukan Vallen. Pria itu terkejut sekaligus merasa takut, dia khawatir Vallen meninggalkannya lagi.


"Vallen," panggil Rama dengan keras, pria itu turun dari tempat tidur dengan tergesa untuk mencari keberadaan sang istri. Rama bisa bernafas lega saat melihat Vallen berada di dapur, tanpa banyak berpikir Rama segera memeluk Vallen.


Vallen begitu terkejut karena tiba-tiba Rama memeluknya. "Ada apa Ram?" tanya Vallen seraya mengusap punggung Rama.


"Aku pikir kau meninggalkanku lagi!"


"Aku tidak akan kemanapun. Aku janji!"


BERSAMBUNG...