
Beberapa jam sebelum Vallen pergi, wanita hamil itu masih sempat membantu Rama menganti baju dan memapah Rama ke tempat tidur. Vallen menatap wajah Rsma yang nampak lelah, meski ucapan Rama sangat menyakitkan, dia juga merasa bersalah karena telah membohongi Rama.
Vallen lalu mengemasi pakaiannya, untung saja barang-barangnya tidak banyak. Di lemari, dia menatap perlengkapan bayinya yang masih tersimpan rapi. Vallen sengaja meninggalkan perlengkapam bayinya karena dia sendiri belum tau kemana tujuanya setelah keluar dari rumah tersebut.
Sebelum pergi, Vallen menuliskan sebuah surat untuk Rama. Air matanya menetes bersama guliran pena yang dia torehkan di atas selembar kertas.
Sakit, marah, kecewa dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu. Saat Vallen baru menyadari perasaan cintanya terhadap Rama, dia harus menelan pil pahit jika selama ini dia adalah batu sandungan dalam hidup Rama.
Vallen lalu melepaskan cincin pernikahannya, dia menatap Rama sekilas sebelum akhirnya keluar dari kamar tersebut sambil membawa kopernya.
Vallen menuruni tangga dengan hati-hati, dia khawatir penghuni rumah akan bangun jika dia menimbulkan suara. Vallen berdiri di ambang pintu utama, wanita hamil itu menatap sekeliling rumah yang penuh dengan kenangan. Rasanya sangat berat meninggalkan rumah tersebut. Dia sudah nyaman tinggal di rumah tersebut bersama keluarga barunya.
"Mah, Zea, maafin aku karena aku pergi tanpa pamit. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Vallen dengan mata berkaca-kaca. Setelah meyakinkan hatinya, Vallen lalu keluar dari rumah yang sudah delapan bulan dia tempati.
Matahari bahkan belum bersinar, Vallen terombang-ambing di jalan raya sambil menyeret kopernya. Wanita hamil itu tidak tau harus pergi kemana, jika dia pulang ke rumah lamanya sudah pasti Rama akan menemukannya.
Vallen terus berjalan tanpa arah, saat matahari mulai terik wanita hamil itu beristirahat di sebuah warung. Dia merasa lapar dan haus. Sebelum melanjutkan perjalanannya , Vallen memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
Setelah kenyang, Vallen kembali berjalan tak tentu arah. Dia memikirkan tempat yang mungkin bisa dia tuju. Vallen lalu kembali istirahat karena kakinya terasa pegal, dia duduk di bangku yang berada di trotoar.
"Kemana kita harus pergi?" tanya Vallen pada jabang bayi yang berada di dalam perutnya. Vallen lalu teringat jika dia memiliki uang 500 juta yang Kelly berikan. Awalnya dia tak ingin memakai uang itu setelah dia mulai mencintai Rama, namun sepertibya sekarang dia harus memakai uang tersebut untuk bertahan hidup.
Di tengah keputusasaannya, Vallen teringat sebuah tempat yang mungkin akan cocok untuknya tinggal. Vallen lalu beranjak dari duduknya, dia menunggu taxi lewat karena dia akan ke bandara dan perfi ke Bali.
Saat Vallen sedang menunggu taxi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya. Pengendara mobil itu turun dan mengampiri Vallen. "Apa yang kau lakukan di sini Vall?" tanya pengendara mobil yang tak lain adalah Felisya.
"Kau mau kemana Vall?" tanyanya lagi setelah melihat koper milik Vallen. "Dimana Rama?"
"Kami berpisah!" jawab Vallen.
"Apa? Bagaimana bisa? Kau sedang mengandung, kenapa dia tega menunggalkanmu? Ayo kakak antarkan ke rumah Rama, pria itu sangat keterlaluan!" geram Feli kesal.
"Tidak kak. Aku tidak akan kembali ke sana!" ujar Vallen dengan tegas.
"Lalu kau mau kemana dengan perut sebesar itu? Ah ya, bagaimana kalau tinggal di rumah kakak?"
"Tidak, terima kasih!"
"Kakak tau kau masih marah kepada kakak Vall, tapi kakak pernah berjanji pada Victor kalau kakak akan menjagamu. Kakak tidak tau apa yang terjadi di antara kalian, tapi izinkan kakak membantumu Vall!"
"Kalau begitu antarkan aku ke bandara, aku akan ke Bali dan hidup di sana!"
"Baiklah!"
Feli tak ingin banyak tanya lagi meski sebenarnya dia penasaran kenapa Rama meninggalkan Vallen di saat wanita itu sedang hamil. Mengingat kebaikan keluarga Rama, Feli yakin jika Vallen pergi secara diam-diam karena dia yakin orang tua Rama tidak mungkin membiarkan Vallen pergi dalam kondisi yang sedang hamil besar.
BERSAMBUNG...