ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Misi Rama



Setelah nonton, Rama mengajak Vallen berkeliling pusat perbelanjaan. Rama lalu berhenti di depan sebuah toko perlengkapan bayi, pria itu hendak masuk ke dalam toko tersebut namun Vallen menahannya.


"Mau apa?" tanya Vallen penasaran.


"Membeli perlengkapan bayi," jawab Rama dengan sangat polos.


"Ram, di Jakarta juga banyak. Untuk apa beli dari sini. Kita beli nanti saja," larang Vallen secara halus, lagi pula kandungannya baru menginjak usia enam bulan, mereka masih memiliki banyak waktu untuk berbelanja keperluan bayi.


"Tapi itu lucu-lucu," Rama menunjuk gaun untuk bayi perempuan berwarna merah muda.


"Astaga, anak kita belum sebesar itu saat lahir Ram!"


Rama tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sejak dia tau jika bayi yang di kandung Vallen berjenis kelamin perempuan, Rama mulai senang melihat-lihat perlengkapan bayi di toko online dan ketika dia melihatnya secara langsung dia malah ingin membeli semuanya.


Vallen menarik tangan Rama karena pria itu enggan beranjak dari toko tersebut. Di dalam hati Vallen merasa sangat senang, dia merasakan perubahan Rama yang sangat signifikan. Meski terkesan sedikit memaksa, namun Vallen menyukainya. Dia menyukai sikap lembut Rama dan perhatian kecil yang Rama berikan.


"Mau ice cream?" tawar Rama dan Vallen hanya menggangguk.


"Tunggu di sini!"


Tak berselang lama Rama kembali membawa dua cup ice cream rasa cokelat dan rasa vanila. "Kau suka yang mana?" tanya Rama.


"Aku suka cokelat, bagaimana denganmu?" jawab Vallen seraya menunjuk ice cream cokelat yang berada di tangan Rama.


"Aku juga suka cokelat. Tapi karena kau menyukainya aku akan makan yang vanila. Lain kali kita beli yang cokelat semua," ujar Rama seraya memberikan ice cream cokelat pada Vallen.


Vallen merimanya dengan senang hati. "Oke!"


Berjalan-jalan sambil makan ice cream bersama pasangan adalah misi nomor dua yang berhasil Rama lakukan, dan misi selanjutnya dia akan mengajak Vallen ke tempat lain setelah ice cream mereka habis.


Setelah puas berjalan-jalan di mall, Rama mengajak Vallen ke sebuah restoran apung yang jaraknya tak terlalu jauh dari mall tersebut. Bukan hanya untuk makan, restoran apung tersebut juga sangat cocok sebagai tempat untuk menikmati pemandangan laut.


Begitu sampai di tempat itu, Vallen begitu senang. Wanita hamil itu tak henti-hentinya tersenyum sambil menikmati angin laut yang menyegarkan.


"Ram, apa boleh aku berfoto denganmu?" tanya Vallen ragu, tapi dia ingin mengabadikan momen langka ini bersama Rama.


"Tentu!"


Rama mendekat ke arah Vallen, keduanya lalu berpose dan melakukan selfi. Puas mengabadikan momen, Vallen lalu duduk sambil meluruskan kakinya yang terasa pegal. Rama kemudian ikut duduk dan berinisiatif memijat kaki Vallen.


"Tidak perlu Ram," tolak Vallen secara halus, dia merasa tidak enak hati karena seharian ini Rama sangat baik padanya.


"Kata temanku, ibu hamil sering merasa pegal di kaki dan merasa nyaman saat di pijat. Aku hanya ingin menjadi suami yang siaga Vall," ujar Rama dengan tatapan serius.


"Baiklah kalau begitu," Vallen tak ingin membuat Rama kecewa, dia membiarkan Rama memijat kedua kakinya.


"Sudah lebih baik Ram, terima kasih!"


Keduanya lalu duduk menikmati pemandangan, semilir angin menyibak rambut panjang Vallen dan sedikit menutup wajahnya. Menurut info dari mbah gugel, merapikan rambut pasangan adalah salah satu hal romantis dan Rama kini sedang mempraktekannya. Rama menyelipkan rambut Vallen ke belakang telinga dan berhasil membuat Vallen tersipu.


Waktu berjalan begitu cepat, setelah makan malam di restoran apung mereka memutuskan untuk pulang. Rama juga khawatir Vallen kelelahan karena mereka pergi seharian. Setibanya di villa mereka tak menemukan siapapun, mungkin Sam dan Zea sedang jalan-jalan atau mungkin mereka sudah tidur.


"Aku mandi duluan ya Ram," ucap Vallen dan Rama menyetujuinya. Vallen berendam di air hangat karena kakinya masih terasa pegal, namun Vallen sangat senang dan tidak akan melupakan setiap momen yang terjadi hari ini.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Rama yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Vallen menoleh dan langsung menutup matanya karena Rama hanya memakai handuk kecil yang melilit pinggangnya. "Pakai bajumu Ram!" ujar Vallen malu-malu.


"Ya, aku sedang pakai baju. Kau tidak mau lihat?" goda Rama.


"Tidak terima kasih!"


Setelah memakai baju Rama pergi ke balkon kamarnya, pria itu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sudah lama sekali dia tidak merasa setenang ini. Dulu kehidupannya sangatlah membosankan, waktunya hanya dia gunakan untuk belajar dan belajar. Bahkan dulu Rama selalu menolak saat di ajak liburan.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Vallen yang entah sejak kapan sudah berada di balkon.


"Mm, tidak ada. Aku hanya sedang melihat laut!"


"Oh! Sudah malam, jangan tidur terlalu larut. Aku masuk dulu ya," Vallen beranjak dari balkon, namun Rama menahan tangannya membuat wanita hamil itu berhenti dan memutar tubuhnya. "Ada apa?"


Namun pertanyaan Vallen tak terjawab karena Rama lebih dulu menyambar bibirnya. Rama menghisaappp bibir Vallen dengan lembut membuat wanita hamil itu mulai larut dan membalas ciuman Rama. Rama mendorong tubuh Vallen dengan pelan, mereka sudah berada di dalam kamar tanpa melepaskan ciuman mereka.


Rama terus mendorong tubuh Vallen hingga kaki Vallen tertahan oleh ranjang. Dengan hati-hati Rama membaringkan tubuh Vallen dan kembali mencumbunya.


"Boleh aku melakukannya?" tanya Ram dengan suara berat, tatapannya berselimut gairah dan nafasnya mulai memburu.


Vallen mengangguk, toh mereka sudah menikah dan sudah seharusnya melakukan hubungan suami istri.


Rama tersenyum penuh arti, pria itu tak ingin membuang waktu lebih lama dan kembali mencumbu istrinya.


Dan entah sejak kapan keduanya sama-sama polos, Vallen merasa malu saat Rama menatap tubuhnya dengan intens.


"Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Rama sambil mengusap perut Vallen.


"Asal kau melakukannya dengan hati-hati," jawab Vallen.


"Aku akan melakukannya dengan lembut!"


Rama memposisikan dirinya, dalam sekali hentakan dia berhasil memasuki istrinya. Rama mengerang saat dia merasakan kenikmataan yang Vallen berikan, meski pernah melakukannya namun Rama merasa milik Vallen begitu sempit dan membuatnya melayang. Kini Rama yakin, jika dia satu-satunya pria yang pernah menyentuh Vallen dan dia tidak akan meragukan bayinya lagi.


Erangan panjang mengakhiri malam panas mereka, Rama menjatuhkan dirinya di sebelah Vallen dan memeluk tubuh polos istrinya dengan mesra. "Terima kasih Vall," ucapnya sambil mencium pundak Vallen.


"Apa kau puas?" pertanyaan Vallen terdengar sedikit frontal, namun dia ingin tau bagaimana tanggapan Rama.


"Ya, aku sangat menikmatinya. Kedepannya mungkin aku akan ketagihan," jawab Rama.


"Ram, aku..." Vallen ragu untuk mengatakannya.


"Kau mau lagi?" tebak Rama tepat sasaran.


Vallen sangat malu tapi kepalanya mengangguk begitu saja.


"Dengan senang hati. Aku akan membuatmu mendesaaah semalaman!"


BERSAMBUNG...