
Setelah menempuh penerbangan selama hampir dua jam, akhirnya Rama dan keluarga besarnya tiba di Bali. Mereka langsung menuju Villa yang sudah di pesan oleh Zea. Kebahagiaan terpancar dari wajah Vallen, ibu hamil itu begitu senang bisa berlibur ke Bali, padahal sebelumnya Vallen kurang menyukai acara liburan keluarga, mungkin karena bawaan bayi. Pun dengan Indy dan Zea, ibu dan anak itu begitu bersemangat. Mereka akan memanfaatkan momen liburan ini untuk membuat Vallen dan Rama semakin dekat.
Kurang dari dua jam sebelum jam makan siang, Vallen segera ke kamarnya, dia ingin sekali mandi. Semenjak kandungannya mulai membesar, dia sering merasa gerah dan berkeringat. Setelah berendam, Vallen merasa lebih segar, wanita itu keluar dari kamar mandi, karena lupa membawa baju ganti, Vallen memakai bathrobe untuk membungkus tubuhnya yang mulai berisi. Saat Vallen keluar dia terkejut melihat Rama sudah berada di kamar mereka.
"Kau mandi lagi?" tanya Rama dengan kening mengekerut, karena sebelum berangkat Vallen sudah mandi di rumah.
"Badanku lengket," jawab Vallen, dia berjalan menghampiri kopernya untuk mengambil baju ganti. "Kau tidak mandi?" tanya Vallen sambil menoleh ke arah Rama.
"Nanti sore saja."
"Jorok," gumam Vallen namun masih terdengar di telinga Rama.
"Bukan jorok, tapi aku sudah mandi tadi!" sahut Rama tak terima.
"Ya, ya. Sekarang keluarlah Tuan Rama, aku harus ganti baju," usir Vallen tanpa segan sedikitpun.
"Kenapa aku harus keluar? Sana ganti baju di kamar mandi!"
Vallen berdecak kesal, dia lalu membawa bajunya ke kamar mandi dan melirik Rama dengan sengit. Setelah selesai berpakaian, Vallen sedikit memakai make up agar terlihat lebih fresh.
"Aku sangat lapar, ayo kita makan!" ajak Vallen seraya mengusap perutnya yang membuncit. Vallen dan Rama keluar dari kamar mereka dan bergabung dengan anggota keluarga yang lain, mereka lalu menikmati makan siang dengan bahagia.
Sekitar pukul empat sore Vallen baru bangun, dia menggeliat dan tidak menemukan siapapun di kamar. Vallen lalu bangun dan keluar ke balkon kamar karena kebetulan kamarnya ada di lantai dua. Dari balkon Vallen dapat melihat pantai secara langsung karena villa yang mereka pesan berada di dekat pantai.
Vallen membasuh wajahnya agar lebih segar, dia lalu keluar dari kamar. Sepertinya berjalan-jalan di dekat pantai akan sangat menyenangkan. Vallen keluar seorang diri karena dia tidak tau kemana perginya Rama dan keluarganya, villa itu sepi saat Vallen keluar. Mungkin mereka sedang jalan jalan atau sedang tidur di kamar masing-masing.
Vallen berjalan di tepi pantai, dia sengaja melepas sandalnya sehingga kakinya merasakan lembutnya pasir pantai. Vallen menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, rasanya sangat menyegarkan, menghirup udara pantai membuatnya lebih rileks.
"Kenapa dulu aku tidak suka liburan?" tanyanya pada diri sendiri. Vallen lalu berjalan lebih ke tepi karena ingin merasakan sapuan air laut. "Sangat menyenangkan," pekiknya saat kakinya terkena air laut.
Puas berjalan-jalan, Vallen lalu duduk sambil menatap hamparan laut biru biru yang tepat berada di hadapannya. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kesepian menyesup relung hatinya, tiba-tiba dia merasa sedih dan mengingat keluarganya yang sudah meninggalkannya sendirian. Vallen mengipasi matanya yang memanas, dia tidak boleh merusak momen liburannya.
"Kenapa sendirian?" tanya sebuah suara dari arah belakang. Vallen menyeka sedikit air matanya dan menoleh, dia lalu tersenyum melihat Rama yang sudah duduk di sebelahnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Rama kemudian.
"Hm, melihat laut," jawab Vallen seraya menatap lurus ke depan.
"Lalu kenapa kau menangis?"
"Aku tidak menangis!" sangkal Vallen dengan cepat.
"Tapi matamu berair, apa namanya kalau bukan menangis?"
"Mataku terkena pasir!" kilah Vallen memberi alasan.
"Oh!"
Hening, keduanya sama-sama diam dan menikmati momen yang selalu di tunggu-tunggu oleh setiap orang. Momen saat matahari berangsur bergerak ke barat, momen ketika sang surya kembali ke peraduannya.
"Cantik," gumam Vallen seraya menatap hamparan langit berwarna merah keemasan. Dia sangat mengagumi mahakarya milik sang Pencipta..
"Hem, sangat cantik," sahut Rama sambik menatap Vallen, pujian itu tidak dia berikan kepada langit senja melainkan kepada seorang wanita hamil yang duduk di sampingnya. Garing rahang yang tegas, hidup mancung, bibir ranum dan bola mata yang kerap menyimpan kesedihan. Entah sejak kapan, namun Rama mulai candu menatap Vallen secara diam-diam.
"Ram," panggil Vallen dengan lembut.
"Ya."
"Terima kasih banyak!" ucapVallen dengan tulus.
"Untuk?"
"Untuk semua hal yang kau dan keluargamu berikan kepadaku selama ini. Aku harap kau bersabar selama tiga bulan lagi. Setelah bayi ini lahir, aku janji tidak akan menyusahkanmu lagi!"
"Sudah petang, lebih baik kita pulang!" ajak Rama, pria itu lalu berdiri. Melihat Vallen yang kesusahan berdiri Rama berinisiatif mebantu Vallen.
"Terima kasih Ram!"
"Hem!"
Keduanya lalu berjalan ke arah Villa, di tengah jalan mereka bertemu dengan sekelompok muda-mudi yang berjalan ke arah pantai.
"Vallen," panggil salah seorang pria muda yang sepertinya seumuran dengan Vallen.
Vallen dan Rama berhenti, wanita hamil itu memperhatikan sosok pria yang memanggil namanya.
"Kau Vallencia Brown kan?" ulang pria itu memastikan. Vallen hanya mengangguk karena dia belum mengenali siapa pria itu. "Ini aku Marco, teman SMP mu Vall, kau lupa?"
Vallen menutup mulutnya karena terkejut, dia tak menyangka bisa bertemu dengan teman masa kecilnya. "Marco, kau benar Marco?" tanya Vallen tak percaya.
"Ya, aku Marco, di gembul!!"
"Astaga, aku hampir tak mengenalimu. Kau berubah drastis!'
"Kau juga semakicantik Vall!"puji Marco yang membuat Rama merasa kesal. "Aku dengar kau kuliah di Amrik, kenapa kau di sini? Apa kau sedang berlibur?"
"Ah, aku sedang cuti," jawab Vallen seraya mengusap perutnya, Marco lalu menyadari jika Vallen sedang hamil.
"Kau hamil. Kapan kau menikah? Kenapa kau tidak mengundangku?"
"Maaf, aku tidak memiliki kontakmu!" jawab Vallen beralasan.
"Ayo kita pergi," sela Rama yang terlihat kesal.
"Dia siapa Vall?" tanya Marco seraya menatap Rama.
"Ah, dia
"Saya suaminya!" potong Rama memperkenalkan diri. Vallen menoleh dan terkejut mendengar Rama menyebut dirinya sebagai seorang suami.
"Ah, saya Marco!" Marco terlihat kurang nyaman, namun pria itu berusaha bersikap ramah.
Rama tak mengatakan apapun, dia menarik tangan Vallen dan mengajak istrinya pergi.
"Senang bertemu denganmu Vall. See you latter!" teriak Marco sambil melambaikan tangannya, Vallen hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan Marco.
Vallen menepis tangan Rama begitu mereka tiba di depan villa, Vallen sungguh tidak mengerti dengan sikap Rama.
"Kau kenapa sih? Aku sedang bicara dengan temanku?" tanya Vallen seraya melayangkan protes pada Rama.
"Sudah petang, tidak baik ibu hamil berada di luar saat gelap," kilah Rama beralasan.
"Ck, tidak masuk akal! Dengar Ram, aku tidak suka dengan sikapmu. Bukankah sebelumnya kita sudah berjanji tidak mengganggu hidup masing-masing? Tolong jangan bersikap seperti tadi lagi," ujar Vallen dengan kesal. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya, namun sebelum Vallen masuk ke dalam villa, Rama mengucapkan sesuatu yang menahan langkahnya.
"Apa dia kekasihmu?"
Vallen menghela nafas berat. "Bukan urusanmu Ram!" jawabnya dengan tegas.
"Tentu saja menjadi urusanku karena kau saat ini masih menjadi istriku!"
BERSAMBUNG...