ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Bertemu Kelly



Seharian Rama hanya berbaring karena kepalanya masih terasa pusing, untung saja hari ini dia libur sehingga bisa istirahat total di kamarnya. Karena Rama berada di kamar, Vallen memilih bermain bersama Nick dan Nicho. Namun tiba-tiba Indy memanggilnya, Vallen segera menghampiri Indy di dapur.


"Ada apa ma?" tanya Vallen.


"Rama belum makan, tolong antarkan makanan ke kamar ya nak," ucap Indy seraya tersenyum.


Vallen mengangguk, dia tidak mungkin menolak keinginan ibu mertuanya itu. Vallen lalu membawa nampan berisi makan siang dan obat untuk Rama. Vallen mengetuk pintu dan baru masuk setelah Rama mengizinkannya. Dia lalu menghampiri Rama dan menaruh nampan di atas nakas.


"Mama menyuruhmu makan dan minum obat," ujar Vallen seraya menatap Rama yang masih meringkuk di bawah selimut tebalnya.


"Aku tidak lapar!" jawab Rama dengan suara serak, sepertinya dia juga batuk.


"Terserah kau saja, yang penting aku sudah membawanya ke mari!" Vallen hendak keluar namun dia merasakan sesuatu yang bergerak di dalam perutnya. "Auw," Vallen memekik karena gerakannya bukan hanya sekali.


Mendengar pekikan Vallen, Rama langsung bangun dan menghampiri Vallen dengan wajah panik. "Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Sepertinya dia bergerak," jawab Vallen seraya menunjuk perut buncitnya.


"Benarkah?" sahut Rama dengan wajah berbinar, Vallen sendiri tidak tau kenapa Rama terlihat sangat bersemangat.


"Hm, lihat, dia bergerak lagi!"


Tanpa sadar Rama memegang perut Vallen, pria itu tersenyum saat merasakan gerakan di perut istrinya. Sementara itu Vallen hampir menangis, entah mengapa dia begitu senang saat Rama mengelus perutnya dengan lembut.


"Dia lincah sekali, padahal baru lima bulan tapi kenapa gerakannya sangat aktiv?"


"Entah, mungkin dia sedang main sepak bola di dalam," sahut Vallen asal-asalan, Rama yang seorang dokter saja tidak tau alasannya kenapa bayi mereka begitu aktiv, apalagi Vallen yang tidak tau menau soal kehamilan.


"Dia kan perempuan, mana mungkin bermain bola," protes Rama.


"Memang apa salahnya anak perempuan bermain bola?"


"Ya tidak salah sih, tapi aku lebih suka kalau anakku memiliko sifat yang anggun, dari pada bermain bola mungkin lebih baik dia bermain piano," ucap Rama seraya membayangkan betapa lucunya anaknya kelak.


"Anakmu? Jadi kau sudah mengakuinya?" sindir Vallen dengan senyum mengejek.


Rama menatap Vallen dengan tatapan yang sulit di artikan. "Ya, meski belum seratus persen yakin," jawab Rama dengan wajah menyebalkan.


"Ck, dia pasti sedih mendengar ucapanmu!" Vallen menepis tangan Rama yang berada di perutnya, dia kesal karena Rama tidak mempercayai jika bayi yang dia kandung adalah anaknya. Vallen berjalan ke arah pintu, sebelum membuka pintu dia berhenti dan menoleh. "Jangan lupa makan dan minum obatmu. Aku tidak mau tertular virus darimu!"


Rama menatap punggung Vallen yang menghilang di balik pintu. Dia menepuk mulutnya sendiri karena tidak bisa menahan omongannya. Padahal saat Vallen pendarahan, dokter sudah memberi tahu Rama untuk menjaga perasaan dan mood ibu hamil karena dapat mempengaruhi kehamilan.


Sementara itu mood Vallen tiba-tiba jelek, dia memutuskan untuk keluar rumah dan pergi ke makam kakaknya tanpa izin kepada siapapun. Sebelum memasuki area makan, Vallen membeli bunga untuk dia taburkan di atas makam sang kakak.


Vallen duduk di samping pusara sang kakak, dia lalu menaburkan bunga dibatas makamnya. "Hay kak, maaf aku baru bisa datang," ucap Vallen dengan mata berkaca-kaca. "Mm, seandainya kakak tidak pergi, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak perlu pulang ke Indonesia dan tidak perlu mengandung anak ini!" Vallen mulai menangis, dia begitu merindukan sang kakak dan momen saat kakaknya masih hidup. Vallen merasa jika semua penderitaannya di mulai sejak kematian sang kakak.


Puas mencurahkan isi hatinya, Vallen lalu pergi. Sebelum pulang ke rumah Rama dia akan mampir ke rumahnya untuk sekedar membersihkan rumah tersebut. Vallen membuka pintu rumahnya, ratusan kenangan membahagiakan menyambut kedatangannya, sebuah foto keluarga seolah mengatakan selamat datang kepada Vallen. Wanita hamil itu duduk di sofa sambil menatap foto keluarganya.


Niat hatinya ingin membersihkan rumah, namun Vallen tidak kuat berlama-lama di rumah yang syarat akan kenangan. Dia memutuskan untuk pulang dan akan kembali ke rumah ini setelah moodnya membaik. Saat Vallen sedang menunggu taxi, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti. Vallen mengepalkan tangannya karena dia sangat mengenal sosok wanita yang sedang berjalan menghampirinya.


"Vallen," panggil seorang wanita yang tak lain adalan Kelly. "Oh astaga, lama tidak bertemu Vall, gimana kabar lo?" tanya Kelly seolah tak terjadi apapun di antara mereka.


Vallen hanya diam dan mengabaikan Kelly, dia sungguh sakit hati kepada mantan sahabatnya itu.Memang benar Vallen juga salah karena menerima tawaran Kelly, namun dia melakukannya karena membutuhkan uang dan sangat mempercayai Kelly. Vallen tidak menyangka Kelly justru menjebaknya.


"Vall perut lo?" Kelly terkejut setelah melihat perut Vallen yang membesar. "Lo tidak sedang hamil kan?" terkanya dengan senyum mengejak.


Vallen tersenyum dan menatap Kelly. "Ya, aku memang sedang hamil. Terima kasih untukmu, berkat dirimu aku bertemu dengan pria yang tepat. Selarang aku sangat bahagia!" jawab Vallen dengan lantang, di saat yang bersamaan taxi pesanannya datang. Tanpa mengatakan apapun lagi, Vallen segera masuk ke dalam taxi dan meninggalkan Kelly yang masih membeku di tempatnya. Vallen sengaja membohongi Kelly agar wanita itu tak lagi mengejek dan meremehkannya. Vallen yakin kini Kelly pasti sedang meradang.


Setibanya di rumah, Vallen segera ke kamar. Untungnya tidak ada yang menyadari jika Vallen baru saja pergi.


"Kau dari mana?" tanya Rama begitu Vallen masuk ke dalam kamar.


"Jalan-jalan sebentar," jawab Vallen dengan acuh, wanita itu lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyuh tubuhnya di bawah shower. Vallen berharapa dinginnya air akan memadamkan amarahnya kepada Kelly.


Rama mulai cemas karena hampir satu jam lamanya Vallen belum keluar dari kamar mandi. Rama takut kalau Vallen jatuh di dalam sana. Beberapa kali Rama mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada jawaba. Rama memutar kenop pintu dan untungnya pintu tidak di kunci.


"Vall, aku masuk," ucap Rama di ambang pintu.


Karena tidak mendapat respon Rama langsung masuk, dia terkejut melihat Vallen berada di dalam bathtube yang berisi air. Rama menghampiri Vallen dan semakin terkejut karena wanita itu memejamkan matanya.


"Vall, kenapa kau tidur di situ?" tanya Rama seraya memegang bahu Vallen dan mengguncangnya agar Vallen segera bangun. "Vall," panggil Rama lagi karena Vallen tak bergerak.


Rama sedikit bergeser dan terkejut melihat bibir Vallen yang membiru. Rama baru sadar jika Vallen tidak tidur, wanita itu pingsan karena terlalu lama berendam di air dingin.


"Vall bangun!"


Rama mengangkat tubuh Vallen dari dalam bathtube. Rama membawa Vallen keluar dari kamar dan membaringkannya di sofa. Rama terlihat panik, dia harus mengganti baju Vallen namun dia tidak mungkin meminta tolong kepada Indy, dia tidak mau ibunya cemas.


"Maaf Vall!"


Rama terpaksa membuka baju Vallen, pria itu berusaha bersikap biasa saja saat melihat tubuh polos Vallen. Secepat mungkin Rama memakaikan pakaiaan hangat dan memindahkan Vallen ke ranjang karena sofanya sudah basah kuyup.


Rama lalu memeriksa kondisi Vallen, dia tidak membawa Vallen ke rumah sakit karena kondisi wanita hamil itu tidak terlalu parah. Rama hanya memberinya infus vitamin dan membungkus tubuh Vallen agar menghangat.


Tubuh Vallen mulai menggigil dan mulutnya terus merancau. Sekujur tubuhnya sangat dingin padahal Rama sudah membungkusnya dengan dua selimut tebal.


"Ck, aku terpaksa melakukannya!"


Rama naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut. Meski sempat ragu namun akhirnya Rama memeluk tubuh Vallen yang sedingin es. Rama memeluk tubuh Vallen dengan erat agar panas tubuhnya tersalurkan ke tubuh Vallen.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sampai seperti ini?"


BERSAMBUNG...