
Vallen berlari turun dari kamarnya saat mendengar suara mobil Rama datang, dia sangat senang karena Rama pulang lebih awal hari ini. Indy dan Zea yang berada di dapur saling melempar senyum melihat tinggal lucu ibu hamil tersebut.
Sebelum membukakan pintu, Vallen merapikan rambut dan bajunya agar terlihat cantik di mata Rama. Dia lalu membuka pintu dan menyambut Rama dengan senyum terbaiknya.
"Kau sudah pulang Ram?" tanya Vallen dengan antusias.
"Hem," jawab Rama singkat, tak ada senyum di wajahnya. Pria itu lalu masuk dan segera ke kamar.
"Apa dia kelelahan?" gumam Vallen dalam hati. Vallen lalu ke dapur membuat teh hangat untuk Rama.
"Suamimu sudah pulang Vall?" tanya Indy yang sedang menyiangi sayuran untuk masak makan malam.
"Sudah mah, tapi sepertinya Rama kelelahan. Vallen ke kamar dulu ya mah!"
"Ya, hati-hati naik tangganya nak!"
Vallen lalu menyusul suaminya ke kamar, namun Rama sudah berada di kamar mandi. Vallen menaruh cangkir di atas meja dan menunggu Rama sambil duduk di tepi ranjang. Wanita hamil itu tersipu karena tiba-tiba dia ingin bermesraan dengan Rama. Karena akhir-akhir ini dia dan Rama jarang sekali bermesraan karena Rama selalu pulang larut.
Sudah setengah jam lamanya namun Rama belum juga keluar dari kamar mandi. Vallen mulai penasaran karena tak biasanya Rama mandi lama. Vallen berjalan ke arah kamar mandi, baru saja dia akan mengetuk pintu dan pintu sudah terbuka terlebih dahulu.
"Eh, Ram. Aku pikir kau tertidur di kamar mandi," ucap Vallen dengan gugup. "Aku sudah buatkan teh hangat, kau pasti lelah kan," sambung Vallen masih dengan senyum sumringahnya.
"Duduk Vall, ada yang ingin aku bicarakan!" ujar Rama dengan wajah serius.
Vallen semakin tegang melihat ekspresi wajah Rama, wanita itu lalu duduk di sofa bersama Rama.
"Ada apa Ram, kau membuatku gugup?" tanya Rama seraya menatap wajah sang suami, dia ingat betul wajah itu selalu Rama tampilkan saat mereka baru pertama bertemu. Wajah penuh kemarahan dan kebencian.
"Apa benar Kelly yang menjebak kita malam itu?" tanya Rama dengan tatapan nyalang, dia sungguh berharap apa yang di katakan Kelly tidaklah benar.
"Ya," jawab Vallen sambil meremas tangannya. "Kenapa Ram? Kenapa kau menanyakan hal itu?"
Rama tak menjawab, pria itu meraih ponselnya dan memutar rekaman suara yang Kelly kirimkan kepadanya.
"Sekitar lima ratus juta Kell, itu cuma buat uang kuliah aja, buat makan gue bisa cari kerjaan sampingan di sana!"
"Gue bakal bantu loe!"
"Loe serius Kell?"
"Tapi nggak gratis Vall!"
"Apa yang harus gue lakuin?"
"Kalau loe bisa ngajak cowok itu buat tidur bareng loe, gue bakal kasih loe lima ratus juta secara cuma-cuma!" ucap Kelly.
"Oke gue setuju!"
Vallen menelan ludahnya dengan kasar, beribu pertanyaan mulai berputar di kepalanya. "Ram, dari mana kau mendapatkan itu?" tanya Vallen dengan bibir bergertar, bahkan kini sekujur tubuhnya mulai berkeringat dingin.
"Jadi semua ini benar Vall?" tanya Rama dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku bisa jelaskan Ram," ujar Vallen seraya menyentuh tangan Rama, namun dengan cepat Rama menepis tangan Vallen membuat hatinya sakit. "Rekaman itu tidak semuanya benar Ram, Kelly pasti sudah mengeditnya!" sambung Vallen mencoba menjelaskan semuanya.
Rama beranjak dari duduknya, pria itu berdiri dan melayangkan tatapan penuh kekecewaan. "Demi lima ratus jutamu kau sudah menghancurkan hidupku Vall!" Rama berteriak marah, dia merasa di khianati oleh wanita yang berhasil memenangkan hatinya .
Vallen lalu berdiri dan menghampiri Rama. "Aku tau aku salah Ram. Tapi bukan seperti itu yang terjadi. Rekaman itu sudah di manipulasi Ram. Aku..." Vallen kehabisan kata-kata, entah harus seperti apa lagi menjelaksannya kepada Rama agar Rama mau mengerti jika yang di dengarnya tidak sepenuhny benar.
"Aku benar-benar kecewa!" tegas Rama penuh penekanan, pria itu lalu keluar dari kamar dan menutup pintu dengan keras.
"Rama!"
BERSAMBUNG...