
Malam panas terus berlanjut, entah berapa kali mereka melakukannya. Suara erangan dan desahaan menggema sepanjang malam, keduanya akhirnya tidur ketika hari hampir pagi.
Suara ponsel yang terus berdering mengusik tidur Rama, pria itu terpaksa membuka matanya dan meraih ponsel yang berada di nakas.
"Hallo," ucap Rama tanpa tau siapa yang menghubunginya.
"Selamat pagi dok, maaf mengganggu. Kami memiliki pasien darurat yang harus di operasi secepatnya," jawab seorang wanita di seberang sana, Rama memeriksa ponselnya, rupanya panggilan dari rumah sakit.
"Saya sedang cuti, apa tidak ada dokter lain di rumah sakit!" jawab Rama dengan kesal.
"Dokter yang lain sedang melakukan operasi juga dok!"
Rama menghela nafas berat, dia lalu bangun dan duduk bersandar pada headboard. "Saya ada di bali sekarang, butuh waktu sekitar tiga jam untuk tiba di sana. Apa benar-benar tidak ada dokterl lain?" tanya Rama seraya menatap wajah Vallen yang tampak begitu damai.
"Dokter Adrian baru setengah jam masuk ruang operasi dan operasinya di perkirakan baru selesai lima jam lagi, sementara Dokter Thomas ada dua jadwal operasi hari ini!"
"Baiklah, saya akan segera kembali!"
Rama lalu bangun dan bergegas ke kamar mandi, rupanya pergerakan Rama membuat Vallen terbangun. Wanita hamil itu menggeliat dan merasakan sekujur tubuhnya terasa pegal, namun detik selanjutnya dia tersipu saat membayangkan malam panas mereka semalam.
Beberapa waktu kemudian Rama keluar dari kamar mandi dan buru-buru memakai bajunya.
"Kenapa buru-buru Ram?" tanya Vallen penasaran.
"Aku harus pulang ke Jakarta Vall, ada pasien yang harus segera di operasi," jawab Rama apa adanya.
"Sekarang?"
Rama mengangguk. Setelah rapi dia menghampiri Vallen dan duduk di tepi tempat tidur. "Maaf ya, padahal seharusnya besok kita baru pulang," ucap Rama penuh sesal.
"It's okay Ram. Itukan kewajibanmu sebagai seorang dokter. Hati-hati di jalan ya," jawab Vallen dengan senyum.
"Yes dad," jawab Vallen dengan suara yang di buat layaknya seorang anak kecil.
Rama tersenyum dan mengusap kepala Vallen dengan lembut. "See you Vall!" pamitnya, lalu kecupan singkat mendarat di bibir ranumnya.
"Hati-hati Ram!"
Setelah Rama pergi, Vallen bangun dan membersihkan tubuhnya. Dia tersenyum malu menatap pantulan dirinya di cermin, hampir sekujur tubuhnya di penuhi bekas kemerahan karena ulah Rama.
Villa terasa sepi tanpa Rama, padahal baru satu jam yang lalu Rama kembali ke Jakarta dan Vallen sudah merindukannya. Vallen gelisah dan ingin menemui Rama, dia merasa jika bayinya lah yang ingin bertemu dengan ayahnya.
"Kau kenapa Vall?" tanya Indy yang melihat kegelisahan Vallen.
"Vallen mau pulang ke Jakarta mah," jawab Vallen setelah mengumpulkan keberaniannya.
"Kenapa?"
"Vallen ingin bertemu Rama mah," ucap Vallen malu-malu.
Indy tersenyum mendengar pengakuan Vallen, wanita paruh baya itu bersyukur karena artinya hubungan Rama dan Vallen semakin dekat. Dia merasa acara liburan ini berhasil menyatukan Rama dan Vallen.
"Baiklah kalau itu maumu. Beresi barang-barangmu dan kita pulang sekarang!"
"Tapi mah, Vallen bisa pulang sendiri. Mamah dan yang lain bisa melanjutkan liburan kalian," ujar Vallen tak enak hati.
"Tenang Vall, kita memang berencana pulang karena Nick terus mengeluh minta pulang!" sahut Zea yang tiba-tiba datang.
Vallen kembali tersenyum. "Oke, aku akan beres-beres," sahutnya antusias. "Sampai bertemu lagi Ram!"
BERSAMBUNG...