ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Berlutut



Vallen duduk termenung di kamarnya sambil mengusap perutnya yang membesar. Menurut perhitungan dokter, dua minggu lagi dia akan melahirkan. Jika boleh berharap, dia sungguh ingin Rama menemaninya saat dia melahirkan nanti, namun perkataan Rama malam itu benar-benar membekas di hatinya.


Vallen lalu memeriksa belanjaan yang Rama bawa, wanita itu tertegun melihat banyaknya susu khusus ibu hamil dan pakaian ibu hamil. "Lihatlah dady mu, apa benar dia mencemaskan kita atau hanya karena dia merasa bersalah karena kita pergi dari rumah?" gumam Vallen sambil mengusap perutnya yang membesar.


Vallen menoleh saat pintu kamarnya di ketuk, tak lama Felisya masuk sambil membawa segelas susu untuk Vallen. "Minum susumu sebelum tidur," ucap Felisya sambil menyerahkan susu tersebut kepada Vallen.


Terima kasih," jawab Vallen. "Kapan kakak akan pulang ke Jakarta, aku baik-baik saja sekarang!" usir Vallen secara halus, dia masih belum nyaman tinggal bersama Felisya meski wanita itu sangat baik padanya. A


"Kakak akan di sini sampai kau melahirkan. Sabar Vall, kakak tau kau pasti muak melihat kakak setiap hari. Kakak mencemaskanmu, jadi anggap saja kakak tidak ada di sini!" jawab Felisya dengan senyuman pilu, dia tidak bisa menyalahkan Vallen karena Vallen pantas untuk membencinya. Semua yang terjadi pada hidup Vallen adalah karena dirinya. Seandainya Victor tidak meninggal, hidup Vallen pasti tidak akan berubah drastis dan berakhir menyedihkan seperti sekarang.


Sama seperti Vallen yang sedang merenung, Rama juga sedang memikirkan cara agar Vallen mau memaafkannya dan mau kembali bersamanya. Rama merebahkan dirinya di atas tempat tidur, dia menatap layar ponselnya dimana ada foto Vallen yang dia ambil secara diam-diam saat Vallen sedang tidur.


"Aku harus bagaimana Val? Aku benar-benar tidak sanggup seperti ini terus, baru beberapa hari sejak kau pergi dan aku merasa putus asa, aku kesepian Vall!" ucapnya sambil mengusap foto istrinya.


Hari-hari terus berlalu, tak terasa sudah satu minggu Rama berada di Bali. Dia meninggalkan pekerjaannya demi meminta maaf pada Vallen. Setiap hari Rama datang di tiga waktu yang berbeda, pagi, siang dan malam. Rama tak menyerah dan selalu datang meski Vallen selalu mengusirnya.


Pagi ini Rama kembali datang, seperti biasa pria itu akan membawa makanan untuk Vallen. Sayangnya Rama kalah cepat karena Victor lebih dulu datang. Rama menghampiri keduanya yang sedang membahas pekerjaan, kedatangan Rama membuat Marco terlihat kurang nyaman.


"Vall, lebih baik aku pulang dulu. Nanti siang, datanglah ke butik untuk memilih kain yang kau inginkan," pamit Marco.


"Baik Marco!"


Marco menatap Rama dan melewati pria itu tanpa menyapa. Tanpa Vallen menceritakan lebih detail, dia yakin Rama dan Vallen dalam kondisi hubungan yang tidak baik.


"Ada apa lagi? Kenapa kau terus datang? Memangnya kau tidak bekerja?" tanya Vallen sambil membereskan desainnya.


"Aku merindukanmu!" jawab Rama.


Vallen menghentikan aktivitasnya, wanita hamil itu lalu menatap Rama dengan seksama. "Dengar Ram, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Jadi lebih baik kau pergi dari sini dan jalani hidup sama seperti sebelumnya. Kau harusnya senang karena batu penghalangmu sudah pergi!" jawaban Vallen mencubit hari Rama, pria itu benar-benar menyesali perbuatannya.


"Aku harus melakukan apa agar kau mau memaafkanku? Apa aku harus berlutut?" tanya Rama dengan putus asa.


Tak ada jawaban dari Vallen dan tiba-tiba saja Rama berlutut di bawah kaki Vallen, wanita itu terkejut karena tidak menyangka Rama akan berlutut seperti ini.


"Apa yang kau lakukan Ram! Cepat bangun!"


"Tidak sampai kau mau memaafkanku!"


Vallen membuang nafasnya dengan kasar. "Terserah kau saja!" wanita itu lalu masuk ke dalam rumah dan ingin melihat berapa lama Rama kuat berlutut.


Hari beranjak siang, Vallen bersiap pergi ke butik Marco. Saat dia keluar dari rumah dia terkejut melihat Rama masih berlutut di tempatnya.


"Cepat bangun dan pulanglah!" ucap Vallen memerintah, jauh di dalam hatinya dia tidak tega melihat Rama seperti ini.


"Tidak!" tegas Rama masih dengan pendiriannya. Dia tidak akan bangun sampai Vallen memaafkannya.


"Dasar keras kepala!"


"Tidak-tidak, dia pasti sudah pergi!" batin Vallen menyakinkan diri. Dia harus fokus pada pekerjaannya dan tidak boleh terpengaruh oleh Rama.


Kesibukan membuat Vallen sedikit melupakan Rama, dia dan Marco sibuk memilih bahan dan perlengkapan lainnya karena rencananya setelah Vallen melahirkan mereka akan segera membuat koleksi gaun terbaru rancangan Vallen.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat rancanganmu di pajang di tokoku Vall," ucap Marco dengan semangat.


"Aku juga Mar. Terima kasih banyak karena kau mau membantuku!"


"Tidak perlu berterima kasih, aku malah beruntung menemukan desaigner hebat sepertimu," puji Marco dengan tulus.


"Aku bukan desaigner Marco, aku bahkan tidak lulus kuliah," sangkal Vallen.


"Seorang desaigner hebat hanya butuh pengakuan dan aku mengakuimu sebagai seorang desaigner!"


"Kau membutku besar kepala," sahut Vallen sambil terkekeh. "Sudah sore, sebaiknya aku pulang," pamit Vallen seraya membereskan tas kerjanya.


"Aku antar ya!" tawar Marco, dia khawatir Vallen pulang sendirian.


"Tidak usah Mar. Aku mau jalan-jalan sebentar. Aku pergi ya!" tolak Vallen secara halus. Tanpa Marco mengatakan apapun, Vallen merasa jika perhatian Marco lebih dari sekedar teman dan rekan kerja. Vallen tidak mau ada kesalah pahaman di antara mereka karena kini statusnya masih menjadi istri Rama.


"Baiklah kalau itu maumu. Hati-hati di jalan. Segera hubungi aku setelah sampai di rumah!"


"Ya!"


Langit mulai gelap saat Vallen tiba di rumahnya, dia benar-benar terkejut karena Rama masih berlutut di tempatnya. Vallen berlari menghampiri Rama, pria itu tersenyum melihat kedatangan Vallen.


"Kau baru datang? Apa kau sudah makan?" tanya Rama dengan bibir bergetar, wajahnya tampak begitu pucat.


"Kenapa kau masih di sini?" tanya Vallen dengan nada khawatir.


"Aku sudah bilang kan, aku tidak akan pergi sampai kau mau memaafkanku. Aku menyesalinya. Kau bukan batu penghalang di hidupku. Kau justru penyemangatku Vall!"


"Cukup Ram. Aku tidak mau mendengar apapun lagi. Cepat pargi dari sini atau aku yang akan pergi!" ancam Vallen dengan tegas.


Rama menunduk sesaat, pria itu lalu kembali mengangkat kepalanya dan menatap Vallen. "Apa kau sangat membenciku?"


"Ya, aku sangat membencimu. Jadi cepat pergi dari sini!"


Rama tersenyum pilu, pria itu mengangguk-anggukan kepalanya seolah sedang menyadarkan diri jika hubungan mereka benar-benar sudah berakhir. "Baiklah jika itu maumu," ucap Rama putus asa, perlahan Rama bangun dengan sekujur tubuh yang bergetar. "Jaga dirimu dan bayi kita baik-baik Vall," ucapnya terdengar begitu menyayat hati. Rama lalu melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Vallen, namun baru beberapa langkah berjalan, Rama merasa kepalanya berputar dan pandangannya berkabut. Detik berikutnya Rama jatuh tak sadarkan diri.


"Rama!"


BERSAMBUNG...