ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Memberi waktu



"Aku tersiksa Vall, aku marah pada diriku sendiri. Aku membenci diriku sendiri yang tidak bisa menjaga ucapanku. Aku menyesal karena tidak menyadarinya sejak awal Vall. Aku mencintaimu Vallencia Brown!" aku Rama dengan air mata berderai, untuk pertama kalinya pria itu menunjukan air matanya kepada seseorang. Dia tak perduli lagi jika Vallen menganggapnya lemah, dia hanya ingin Vallen mengetahui perasaannya.


Mendengar pengakuan Rama membuat jantung Vallen berdebar, namun wanita hamil itu tidak berusaha bersikap tenang. "Istirahatlah, kau pasti lelah!" ucap Vallen tanpa menanggapi pengakuan Rama.


Rama hanya diam, pria itu memiringkan tubuhnya dan membelakangi Vallen, pria itu kembali merenungi kesalahannya yang tak termaafkan.


Matahari mulai keluar dari peraduannya, Rama yang sejak semalam tak bisa tidur pun memutuskan bangun. Dia melepaskan selang infus yang menancap di kulitnya dan turun dari tempat tidur. Rama berjalan ke arah sofa dimana Vallen masih terlelap sambil duduk.


"Vall, bangun!" ucap Rama dengan pelan.


Perlahan Vallen mengerjapkan matanya, wanita itu terbangun dan terkejut melihat Rama turun dari ranjang. "Kenapa kau turun? Mana infusmu?" tanya Vallen setelah menyadari Rama melepas selang infusnya.


"Aku baik-baik saja. Lebih baik kau pulang dan istirahat di rumah!"


"Wajahmu masih pucat Ram. Aku akan memanggil dokter agar memasang infusmu lagi!" Vallen bangun dan berniat memanggil dokter, namun Rama menahan tangannya sehingga wanita hamil itu urung keluar.


"Tidak perlu Vall. Lagi pula aku harus pulang sekarang!"


"Pulang? Kemana?" tanya Vallen dengan raut sedih, rasanya dia tidak rela mendengar kata pulang terucap dari bibir Rama.


"Ke Jakarta. Cutiku sudah habis," jawab Rama pelan. "Seminggu lagi adalah perkiraan kelahiran anak kita, aku akan datang lagi bersama mama. Aku akan menghormati apapun keputusanmu setelah anak kita lahir!" sambung Rama wajah sendu. Bukan karena dia menyerah, namun Rama tidak ingin memaksakan kehendaknya. Rama akan membiarkan Vallen memikirkan hubungan mereka. Rama ingin Vallen kembali padanya tanpa paksaan ataupun tekanan.


"Jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Kabari aku jika terjadi sesuatu," ucap Rama sebelum Vallen keluar dari taxi.


Vallen mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan Ram!" Vallen lalu membuka pintu taxi, namun lagi-lagi Rama menahan tangannya. "Ada apa?"


"Apa boleh aku memelukmu?" pinta Rama dengan wajah sedih.


"Hem!"


Rama tersenyum karena Vallen memberi izin untuk memeluknya. Rama lalu menarik tubuh Vallen dan memeluknya dengan erat. Rama mencium ceruk leher Vallen dan menghirup aroma tubuh Vallen yang selama ini sangat dia rindukan. Setelah puas melepaskan kerinduannya, Rama melepaskan tubuh Vallen meski dengan perasaan tak rela.


"Terima kasih Vall!"


"Hem!" Vallen segera turun dari taxi dan berjalan cepat masuk ke rumahnya. Sesampainya di dalam rumah, Vallen menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang di rasakan, dia hanya ingin bersama Rama. Dia tidak ingin Rama pulang dan berharap Rama akan tetap di sampingnya. Namun di sisi lain Vallen ketakutan, dia takut jika kehadirannya akan menyusahkan hidup Rama, dia takut Rama tidak bahagia jika bersamanya. Vallen mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia khawatirkan.


"Apa yang harus momy lakukan nak?"


BERSAMBUNG...