
Rama dan Sam bergegas ke rumah Felisya, namun setibanya di sana mereka tidak menemukan wanita itu dan rumahnya kosong. Dua jam lebih kedua pria itu menunggu namun Felisya tak kunjung datang. Hingga akhirya Rama mendaptkan telefon dari rumah sskit dan mereka memutuskan pergi.
Hidupnya yang selalu tertata kini berantakan sudah, pekerjaan yang selalu menjadi tujuan utama hidupnya kini tak semenyenangkan dulu. Rasanya dia enggan bekarja dan bahkan muak melihat alat-alat medis di rumah sakit.
Selesai operasi, Rama menatap kuris tunggu dimana Vallen suka duduk di sana saat mengangarkan bekal makan siang untuknya. Biasanya Vallen tersenyum begitu senang saat Rama keluar dari ruang operasi. Tapi kini bangku itu hanyalah bangku kosong dan sialnya menyimpan kenangan Vallen yang membuatnya semakin merindukan istrinya itu.
Larut malam Rama baru menyelesaikan pekerjaannya, sebelum pulang dia memutuskan untuk mampir ke rumah Felisya dan berharap bisa bertemu dengan wanita itu. Rumah Felisya masih tampak kosong, saat Rama akan pergi dia melihat Felisya pulang dan memarkirkan mobilnya. Rama segera turun dari mobil dan menghampiri Felisya.
"Bu Feli," panggil Rama.
Felisya menoleh dan terkejut melihat Rama berada di rumahnya. "Rama," pekik Felisya tertahan, dia tak menyangka Rama akan ke rumahnya, pasti ada hubungannya dengan Vallen.
"Maaf mengganggu anda malam-malam, apa Vallen datang menemui anda?" tanya Rama tanpa basa-basi.
"Vallen? Tidak, kau tau sendiri dia sedang marah padaku. Memangnya ada apa Ram?" bohong Felisya dengan sangat apik, pernah menjadi wanita berwatak jahat tentu saja berbohong merupakan keahliannya.
"Tidak apa-apa bu. Terima kasih sebelumnya. Maaf mengganggu. Saya permisi bu!" Rama lalu pergi dengan kecewa, dia tidak tau harus mencari Vallen kemana lagi.
Setibanya di rumah, Rama kembali merasa kesepian. Pria itu duduk di sofa yang selama ini menjadi tempat tidur Vallen. Rama lalu berbaring, aroma tubuh Vallen masih tertinggal di sofa itu dan membuat Rama semakin merindukannya.
Mendengar kebisingan, Indy dan Ega keluar dari kamar mereka. Keduanya terkejut melihat kondisi putranya yang sangat berantakan.
"Rama, " panggil Indy dengan lembut.
Rama menoleh, pria itu berjalan menghampiri sang ibu dan menghambur ke dalam pelukan ibunya. Rama yang selama ini selalu mandiri, selalu menjalani hidup yang tertata, selalu percaya diri dan terkadang sedikit angkuh berubah menjadi seorang yang pria yang tidak memiliki apapun. Apa artinya seorang pria jika dia telah kehilangan cintanya.
Ya, setelah Vallen pergi Rama baru menyadari jika perasaan yang selama ini dia miliki adalah perasaan cinta. Dan bodohnya dia tak menyadari itu, bahkan belum sempat mengatakan cinta kepada Vallen hingga wanita itu pergi.
"Kita akan menemukannya. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Indy seraya mengusap punggung putranya.
"Dengar Ram, jadikan ini sebagai pelajaran yang berharga di dalam hidupmu. Ayah selama ini diam karena ayah tidak ingin ikut campur dalam kehidupanmu. Manusia boleh berencana, tapi Tuhanlah yang mengatur segalanya. Ketika Tuhan mempertemukanmu dengan Vallen, itu berati Tuhan menggariskan Vallen menjadi takdirmu meski melalui cara yang salah. Tidak semua yang kau mau harus kau dapatkan. Lihatlah sekarang, kau terobsesi dengan hidupmu yang tertata, tapi kau malah hancur sehancur-hancurnya!" ucap Ega panjang lebar, untuk kali pertama pria tua itu berbicara begitu panjang pada putranya.
Rama hanya diam, semua yang di katakan ayahnya benar-benar mencubit hatinya. "Kau benar yah, aku hancur berkeling-keping sekarang!"
BERSAMBUNG...