
Memulai kehidupan baru ternyata tak semudah yang Vallen pikirkan, apalagi dalam kondisinya yang sedang hamil besar membuat wanita itu tidak bisa melakukan apapun dengan leluasa. Namun, keadaan memaksanya, meskipun lingkup geraknya terbatas tapi tak menghalangi niatnya untuk mulai merintis usaha demi masa depan. Pernah mempelajari Fashion Design semasa kuliah di luar megeri, Vallen memutuskan akan membuka butik kecil-kecilan setelah bayinya lahir. Dan sebelum itu Vallen akan mempersiapkan semuanya, dia mulai mencari lokasi yang cukup strategis, membeli perlengkapan jahit dan membeli bahan kain.
"Hay girl, kau pasti lelah ya. Sabar ya nak, kita harus berjuang bersama-sama!" ucap Vallen seraya mengusap perutnya yang terasa kram.
Setelah membeli semua keperluannya, Vallen mulai mendesign, dia harus menyiapkan segalanya mulai dari sekarang. Namun baru beberapa saja duduk, pinggangnya sudah terasa nyeri. Vallen tetap memaksakannya karena dia harus bertahan hidup, apalagi setelah bayiny keluar dia pasti membutuhkan lebih banyak uang untuk menghidupi diirnya dan bayinya.
Desaign adalah mimpinya, namun mimpi tersebut harus kandas karena kesalahan satu malamnya. Kini tak ada alasan bagi Vallen untuk tidak mengejar mimpinya. Dia akan memperbaiki kesalahannya dan menata hidupnya dari awal lagi, tentunya tanpa Rama di dalamnya.
Lelah seharian berkutat dengan pensil dan bukunya, Vallen memutuskan untuk berjalan-jalan, menurut info dari beberapa orang yang dia temui, hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di pantai. Dan setelah perjalana selama sepuluh menit menggunakan taxi, Vallen akhirnya tiba di salah satu pantai yang tak terlalu ramai oleh pengunjung.
Vallen duduk beralaskan pasir pantai, wanita cantik itu menatap hamparan laut lepas di hadapannya. Gemuruh ombak yang bergulung menutupi isak lirih yang keluar dari mulutnya. Setelah mencoba untuk menahan diri, kini dia tak sanggup lagi. Air matanya mengalir deras dan dadanya terasa sesak. Vallen memukuli dadanya, dia benci mengakui jika dia merindukan Rama.
"Lupakan pria itu Vallen," gumamnya menguatkan diri.
Puas menangis di tepi pantai, Vallen memutuskan kembali karena hari mulai gelap. Vallen menunggu taxi namun sudah hampir setengah jam lamanya tak ada satupun taxi yang lewat. Vallen lalu mencoba memesan taxi online namun sialnya ponselnya mati di saat yang tidak tepat.
"Hidupmu memang selalu siap Vallencia Brown," rutuk Vallen pada dirinya sendiri.
Di tengah keputus asaannya, tiba-tiba sebuah mobil menepi di dekatnya. Tak lama setelah itu pengemudi mobil keluar, Vallen memicingkan matanya karena merasa tak asing dengan sosok yang tengah berjalan menghampirinya.
"Marco," gumam Vallen saat sosok itu sudah berdiri di hadapannya.
"Vall, ini benar dirimu. Aku pikir aku salah lihat," ujar Marco dengan tatapan tak percaya.
"Ya, ini aku. Apa yang kau lakukan di sini Marco?" Vallen menjawab dengan senyum gusar.
"Aku sekarang tinggal di sini Vall. Bagaimana denganmu, apa yang kau lakukan di sini? Dimana suamimu?" cecar Marco dengan beberapa pertanyaannya.
"Aku sedang menunggu taxi," jawab Vallen singkat.
"Ayo aku antar!"
Marco membukakan pintu mobil untuk Vallen, setelah Vallen duduk dengan nyaman, Marco segera menyusul Vallen ke dalam mobil dan mengemudikan kendaraannya menuju rumah Vallen. Selama perjalanan Vallen memilih diam, dia hanya mengeluarkan suaranya saat memberi petunjuk jalan pada Marco.
"Berhenti di sini Marco, itu rumahku," Vallen menunjuk rumah sederhana yang berasa di seberang jalan.
Marco lalu menepikan mobilnya tepat di depan rumah Vallen. "Apa kau juga pindah kemari?" tanya Marco seraya menatap wajah Vallen.
"Ya!"
"Lalu dimana suamimu?"
"Kami sudah berpisah!" aku Vallen.
"Maaf Vall, aku tidak bermaksud..."
"Tidak papa. Terima kasih tumpangannya Marco," ucap Vallen tulus, wanita itu lalu keluar dari mobil Marco.
"Vallen," Marco menyusul Vallen keluar dan mengejar wanita hamil itu.
Vallen menghentikan kakinya dan menoleh. "Ada apa Marco?"
"Boleh aku minta nomor ponselmu? Maksudku, mungkin kita bisa makan malam bersama atau bermain ke pantai bersama. Aku ingin berteman lagi denganmu, bolehkan?"
Vallen menyunggingkan senyum karena Marco tak berubah sama sekali, pria itu masih sama seperti saat mereka masih duduk di bangku SMP. Dia selalu berbelit-belit jika ingin mengatakan sesuatu. "Tentu saja!"
Marco tersenyum senang, dia lalu memberikan ponselnya kepada Vallen. "Catat nomormu!"
BERSAMBUNG...